80 Kamera Trap Dipasang di Cikepuh-Cibanteng, BKSDA Monitoring Populasi Macan Tutul di Sukabumi

Foto: Macan Tutul Jawa. [Sumber gambar : wikipedia]

LINGKARPENA.ID | Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bogor bekerja sama dengan lembaga konservasi Sintas melakukan monitoring populasi macan tutul di kawasan Suaka Margasatwa Cikepuh dan Cagar Alam Cibanteng, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi.

 

Monitoring dilakukan dengan memasang sebanyak 80 unit kamera trap atau kamera pemantau di sejumlah titik kawasan hutan konservasi tersebut. Pemasangan kamera sudah berlangsung selama sekitar tiga minggu terakhir dan bertujuan untuk mengetahui jumlah pasti macan tutul yang masih bertahan di habitat alaminya.

 

Kepala Resort Suaka Margasatwa Cikepuh dan Cagar Alam Cibanteng, Iwan Setiawan mengatakan, pemasangan kamera trap merupakan bagian dari kegiatan sensus satwa liar, khususnya macan tutul jawa yang berada di kawasan konservasi Cikepuh dan Cibanteng.

Baca juga:  Akhir 2025, Reuni Alumni SMPN 1 Jampang Kulon Angkatan 1984: Samakan Status Sosial, Pererat Persaudaraan

 

“Betul, sudah tiga minggu ke belakang kami bekerja sama dengan salah satu lembaga konservasi, yaitu Sintas, dalam rangka pemasangan kamera trap dengan jumlah 80 unit,” ujar Iwan kepada lingkarpena. id, Kamis ( 7/5/2026 )

 

Menurutnya, kamera trap dipasang untuk mengawasi sekaligus memonitor keberadaan macan tutul, baik jantan maupun betina, yang hidup di dalam kawasan hutan konservasi tersebut.

 

“Tujuan pemasangan kamera trap ini untuk monitoring macan tutul yang ada di kawasan hutan konservasi Cikepuh dan Cagar Alam Cibanteng. Jadi ingin tahu sebenarnya ada berapa ekor macan tutul yang ada di dalam kawasan, baik itu jantan ataupun betina. Kalau bahasa ilmiahnya sensus,” jelasnya.

 

Iwan menambahkan, proses monitoring diperkirakan berlangsung selama dua bulan. Setelah itu seluruh kamera akan ditarik dan hasil pemantauan akan dianalisis untuk mengetahui estimasi populasi macan tutul di kawasan tersebut.

Baca juga:  Jatuh dari Lantai Dua Kobong, Santri di Sukabumi Meninggal Dunia

 

“Insya Allah nanti hasilnya akan kami kabarkan kepada semua pihak, supaya tahu di kawasan hutan konservasi ini ada berapa ekor yang tersisa. Durasinya sekitar dua bulan, baru nanti kameranya ditarik,” katanya.

 

Sementara itu, Kepala Desa Cibenda, Adi Rizwan mengimbau masyarakatnya untuk ikut menjaga fasilitas kamera trap yang dipasang di kawasan konservasi. Ia meminta warga maupun pengguna jalan yang melintas di area tersebut tidak merusak ataupun mengambil perangkat pemantau itu.

 

Menurut Adi Rizwan, himbauan itu disampaikan mengingat banyak warganya yang melintas ke wilayah tersebut baik sebagai petani maupun nelayan.

Baca juga:  BPBD Kabupaten Sukabumi Laporkan Situasi Kondusif, Tidak Ada Kejadian Bencana per 13 November 2025

 

“Terkhusus kepada warga masyarakat Desa Cibenda dan sekitarnya, bahwa di kawasan Cagar Alam Cibanteng dan Suaka Margasatwa Cikepuh telah terpasang puluhan CCTV untuk mendeteksi keberadaan fauna, salah satunya harimau macan tutul,” ujarnya.

 

Adi menegaskan, keberadaan alat tersebut sangat penting untuk mendukung upaya pelestarian habitat satwa liar dan menjaga keseimbangan ekosistem di kawasan konservasi.

 

“Bagi masyarakat yang berpergian dan melintas ke areal tersebut mohon kerja samanya untuk menjaga, jangan dirusak atau diambil. Karena alat itu penting bagi perkembangan habitat yang ada di dalam kawasan dan demi kelangsungan keseimbangan kehidupan untuk masa sekarang maupun generasi yang akan datang,” pungkasnya.

Pos terkait