LINGKARPENA.ID | Komitmen menghadirkan pelayanan terbaik dalam program pemenuhan gizi terus ditunjukkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Citanglar 007, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, yang berada di bawah naungan Yayasan Lentera Ibnu Sina. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menerapkan proses seleksi ketat bagi para calon relawan yang akan terlibat dalam operasional dapur SPPG.
Tahapan seleksi diawali dengan kegiatan wawancara yang dilaksanakan pada Sabtu (6/6/2026) di lokasi SPPG Citanglar. Seluruh peserta yang telah mendaftarkan diri diwajibkan mengikuti proses tersebut sebagai bagian dari penilaian awal terhadap kemampuan, kesiapan, serta komitmen mereka dalam mendukung program pelayanan gizi bagi masyarakat.
Selain wawancara, panitia juga menggelar tes khusus bagi peserta yang mendaftar sebagai calon koordinator. Materi tes meliputi kemampuan dasar matematika, seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Kemampuan tersebut dinilai penting untuk mendukung tugas pengelolaan administrasi, pencatatan, hingga operasional dapur secara efektif dan akurat.
Perwakilan SPPG Citanglar, Bambang Jatnika Baroy, mengatakan bahwa proses seleksi dilakukan untuk memastikan setiap relawan yang diterima memiliki kapasitas, integritas, dan tanggung jawab yang sesuai dengan kebutuhan organisasi.
Selain itu rekrutmen juga mengacu pada standar baku secara menyeluruh, termasuk status Desil calon relawan.
“Kami ingin membangun tim yang solid, profesional, dan memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi. Relawan yang bergabung nantinya akan menjadi bagian penting dalam pelayanan kepada masyarakat, sehingga proses seleksi ini menjadi langkah awal untuk memastikan kualitas sumber daya manusia yang terlibat,” ujar Bambang.
Ia menegaskan, keberadaan relawan tidak hanya berperan membantu operasional dapur, tetapi juga menjadi ujung tombak dalam menjaga mutu pelayanan yang diberikan kepada para penerima manfaat program. Oleh karena itu, aspek kedisiplinan, ketelitian, kemampuan bekerja sama, serta kesiapan menjalankan tugas menjadi perhatian utama dalam proses rekrutmen.
Menurut Bambang, seleksi yang dilakukan bukan untuk mempersulit calon relawan, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab dalam membangun sistem pelayanan yang profesional, akuntabel, dan berkelanjutan.
“Kami berharap seluruh peserta dapat mengikuti setiap tahapan dengan baik. Siapa pun yang nantinya terpilih diharapkan mampu bekerja dengan penuh dedikasi, menjaga amanah, serta memberikan kontribusi nyata demi suksesnya program pemenuhan gizi bagi masyarakat,” katanya.
Melalui proses rekrutmen yang terukur, objektif, dan transparan, SPPG Citanglar optimistis dapat membentuk tim relawan yang kompeten, solid, dan siap bekerja sesuai standar pelayanan yang telah ditetapkan. Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga kredibilitas lembaga dalam menjalankan program pemenuhan gizi yang berkualitas, tepat sasaran, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.






