LINGKARPENA.ID | Suasana meriah ajang balap motor pantai yang menjadi bagian dari rangkaian Syukuran Nelayan Ujunggenteng ke-60 tahun 2026 mendadak berubah tegang. Sejumlah kendaraan roda empat terjebak di hamparan pasir Pantai Citarate, kawasan wisata Ujunggenteng, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, Minggu (14/6/2026).
Peristiwa itu terjadi usai kegiatan Event Track Pantai usai digelar. Saat para peserta, kru, dan penonton mulai meninggalkan lokasi, air laut secara perlahan mulai pasang dan merendam sebagian area pantai yang sebelumnya digunakan untuk kegiatan.
Beberapa kendaraan yang berada terlalu dekat ke bibir pantai tidak sempat berpindah ke lokasi yang lebih aman. Akibatnya, roda kendaraan amblas ke dalam pasir basah dan sulit bergerak saat mencoba keluar.
Di tengah situasi tersebut, semangat gotong royong warga Pajampangan kembali terlihat. Puluhan orang yang berada di lokasi, mulai dari peserta lomba, penonton, warga sekitar hingga panitia acara, bahu-membahu membantu proses evakuasi kendaraan yang terjebak.
Dengan menggunakan alat seadanya dan dorongan tenaga manusia, kendaraan satu per satu akhirnya berhasil dievakuasi dari area berpasir yang mulai digenangi air laut.
Salah seorang warga yang ikut membantu proses evakuasi menjelaskan bahwa kondisi pasir pantai menjadi faktor utama yang menyebabkan kendaraan sulit bergerak.
“Ban mobil itu amblas ke dalam pasir. Semakin dipaksa dengan putaran ban yang kencang, justru semakin dalam terbenamnya. Kondisi pasir tentu berbeda teksturnya dengan tanah biasa,” ujarnya.
Menurutnya, banyak pengemudi yang tidak menyadari bahwa pasir pantai yang terlihat padat di permukaan sebenarnya memiliki daya dukung yang lemah, terutama saat mulai terkena air pasang.
Sementara itu, Budi, warga Citarate, mengatakan sebagian kendaraan yang terjebak merupakan milik kru dan peserta balap motor pantai. Namun ada pula kendaraan milik warga yang datang untuk menonton kemeriahan Hari Nelayan Ujunggenteng.
“Saat perlombaan berlangsung ada beberapa kendaraan yang parkir terlalu ke tengah area pantai. Ketika kegiatan selesai, tiba-tiba air laut mulai naik. Kendaraan yang posisinya masih di sana tidak sempat dipindahkan dan akhirnya terjebak,” kata Budi.
Meski proses evakuasi berlangsung cukup alot dan memakan waktu, tidak ada laporan korban jiwa maupun kerusakan serius pada kendaraan. Seluruh kendaraan yang terjebak akhirnya berhasil dikeluarkan dari area pantai sebelum air pasang semakin tinggi.
Peristiwa tersebut menjadi pelajaran bagi para pengunjung maupun peserta kegiatan di kawasan pantai agar lebih memperhatikan kondisi alam, terutama pasang surut air laut yang dapat berubah dalam waktu singkat.
Di balik kepanikan sesaat itu, terselip pemandangan yang menghangatkan. Saat kendaraan-kendaraan terjebak dan pengemudi kebingungan mencari cara keluar, warga yang sebelumnya hanya menjadi penonton spontan turun tangan membantu. Tangan-tangan yang saling mendorong kendaraan di tengah pasir basah menjadi gambaran nyata semangat kebersamaan yang masih terjaga di pesisir selatan Sukabumi.
Apa yang semula menjadi momen menegangkan, akhirnya berubah menjadi cerita tentang solidaritas. Ketika air laut terus merangkak naik, gotong royong menjadi kekuatan yang berhasil mengalahkan hambatan alam di Pantai Citarate.






