LINGKARPENA.ID | Suasana halaman Kantor Desa Pasirpanjang, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (4/7/2026), tampak berbeda dari biasanya. Sejak pagi, masyarakat dari berbagai kampung berdatangan dengan wajah penuh antusias. Tenda berdiri megah, panggung telah tertata, sementara suara anak-anak yang mengikuti berbagai perlombaan menambah semarak peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah.
Di balik kemeriahan itu, tersimpan sebuah cerita tentang kekuatan gotong royong. Di tengah keterbatasan anggaran desa, warga memilih untuk tidak menjadikan kondisi tersebut sebagai penghalang. Sebaliknya, mereka bergandengan tangan, saling membantu agar tradisi menyambut Tahun Baru Islam tetap terlaksana.
Rangkaian Gebyar Muharam yang digelar Pemerintah Desa Pasirpanjang diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan dan sosial, mulai dari perlombaan Islami, santunan bagi anak yatim, hingga tabligh akbar yang menjadi puncak acara.
Kepala Desa Pasirpanjang, Mamat Slamet, mengatakan seluruh pelaksanaan kegiatan nyaris sepenuhnya merupakan hasil swadaya masyarakat. Mulai dari panggung, sistem tata suara, hingga berbagai kebutuhan penunjang lainnya merupakan sumbangan dari warga yang memiliki kemampuan lebih.
“Alhamdulillah kegiatan ini seluruhnya hasil bantuan masyarakat. Kalau mengandalkan anggaran desa, jelas tidak ada karena kondisinya memang sangat terbatas. Tetapi semangat warga luar biasa, mereka ingin Gebyar Muharam tetap terlaksana,” ujar Mamat.
Menurutnya, bukan hanya perlengkapan acara yang berasal dari swadaya warga. Kebutuhan konsumsi peserta dan tamu undangan pun dipenuhi melalui iuran masyarakat dari lima kedusunan yang ada di Desa Pasirpanjang.
“Untuk konsumsi juga hasil kebersamaan. Warga dari lima kedusunan ikut bergotong royong. Setiap kedusunan menyumbangkan sekitar 150 boks makanan ringan. Jadi semua benar-benar lahir dari kepedulian masyarakat,” ungkapnya.
Mamat menuturkan, semangat gotong royong yang ditunjukkan masyarakat menjadi bukti bahwa kebersamaan masih menjadi budaya yang kuat di Desa Pasirpanjang. Mulai dari persiapan hingga pelaksanaan acara, seluruh elemen masyarakat terlibat tanpa membedakan latar belakang.
“Ada yang membantu tenaga, ada yang menyumbangkan perlengkapan, ada yang menyediakan konsumsi, semuanya dikerjakan bersama-sama. Ini bukan hanya kegiatan pemerintah desa, tetapi menjadi hajat seluruh masyarakat,” katanya.
Ia berharap peringatan Tahun Baru Islam tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, melainkan menjadi momentum mempererat silaturahmi, meningkatkan kepedulian sosial, sekaligus memperkuat nilai-nilai keagamaan di tengah masyarakat.
Kemeriahan Gebyar Muharam di Desa Pasirpanjang pun menjadi bukti bahwa keterbatasan anggaran bukanlah penghalang untuk menghadirkan sebuah perayaan yang bermakna. Ketika kepedulian, kebersamaan, dan semangat gotong royong tumbuh di tengah masyarakat, sebuah acara sederhana mampu berubah menjadi perayaan yang penuh makna dan meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh warga.






