Ruwatan Tetap Dilestarikan di Kampung Budaya Pasir Astana, Sesepuh: Ikhtiar Memohon Keselamatan kepada Allah

Kegiatan ruwatan budaya sesepuh Pasir Astana Desa Sirnaresmi Kecamatan Gunungguruh, Sukabumi, Sabtu (18/7).[foto:ist]

LINGKARPENA.ID | Tradisi ruwatan atau rajah masih menjadi bagian yang tak terpisahkan dari setiap kegiatan yang digelar di Kampung Budaya Pasir Astana, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi. Bagi masyarakat adat setempat, ritual tersebut merupakan warisan leluhur yang dimaknai sebagai ikhtiar memanjatkan doa kepada Allah SWT agar seluruh rangkaian kegiatan diberikan keselamatan, kelancaran, serta dijauhkan dari berbagai marabahaya.

 

Sesepuh Kampung Budaya Pasir Astana, Uloh Saepuloh, mengatakan setiap agenda di kampung budaya selalu diawali dengan prosesi ruwatan. Menurutnya, pelaksanaan tradisi itu bukan untuk mengubah takdir, melainkan sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT agar kegiatan berjalan dengan baik.

Baca juga:  Operasi Patuh Lodaya 2021, Ini yang Dilakukan Polsek Gunungguruh

 

“Kami mengawali setiap kegiatan dengan ruwatan sebagai bentuk doa dan ikhtiar. Harapannya, atas izin Allah SWT, semua proses diberikan kelancaran, keselamatan, dan dijauhkan dari hal-hal yang tidak diinginkan. Keyakinan kami tetap hanya kepada Allah SWT,” ujar Uloh usai menghadiri pelantikan Pengurus SMSI Sukabumi Raya, Sabtu (18/7/2026).

 

Ia menjelaskan, tradisi serupa sebenarnya tidak hanya dikenal di Kampung Budaya Pasir Astana. Di sejumlah daerah, masyarakat juga memiliki ritual doa bersama, seperti pada momentum Rebo Wekasan, yang bertujuan memohon perlindungan kepada Allah SWT dari berbagai bencana dan musibah.

 

Meski demikian, Uloh menegaskan bahwa ruwatan tidak boleh dimaknai sebagai jaminan seseorang akan terbebas dari cobaan. Baginya, keselamatan sepenuhnya berada di tangan Allah SWT, sedangkan ruwatan hanyalah bagian dari ikhtiar sekaligus pelestarian nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur.

Baca juga:  Resmikan Gedung GASENTRA, Wabup Ajak Semua Lestarikan Seni Budaya Sunda

 

“Ruwatan bukan penentu nasib seseorang. Semua yang terjadi adalah kehendak Allah SWT. Tradisi ini kami jalankan sebagai ikhtiar dan bentuk penghormatan terhadap warisan budaya leluhur,” katanya.

 

Menurut Uloh, tradisi tersebut telah diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur yang berasal dari kawasan Gunung Gede. Amanah itu terus dipertahankan sebagai identitas budaya masyarakat Kampung Budaya Pasir Astana.

 

Baca juga:  Abah Ruskawan: Kecam Pernyataan Ustad Khalid Basalamah Wayang Itu Haram

“Warisan ini sudah ada sejak zaman leluhur kami. Tugas kami sekarang adalah menjaga dan meneruskannya agar tidak hilang ditelan zaman,” ucapnya.

 

Uloh juga menegaskan bahwa pelaksanaan ruwatan tidak pernah disertai unsur paksaan. Siapa pun yang ingin mengikuti dipersilakan, sementara yang memilih tidak ikut tetap dihormati. Ia menilai yang paling utama adalah menjaga akidah dengan tetap meyakini bahwa segala pertolongan dan perlindungan hanya berasal dari Allah SWT.

 

“Silakan ikut bagi yang ingin melestarikan budaya. Tidak ada paksaan. Yang terpenting, keimanan tetap kepada Allah SWT, sementara ruwatan kami pahami sebagai tradisi budaya yang patut dijaga,” pungkasnya.

Pos terkait