LINGKARPENA.ID | Di tengah kesibukannya menjalani aktivitas sebagai jurnalis, siapa sangka Apon, yang akrab disapa Kang Apon, ternyata memiliki keahlian lain yang tak kalah menarik. Di sela aktivitasnya mencari dan menulis berita, ia justru piawai meracik sajian tradisional khas Sunda, salah satunya pepes ikan impun dan pepes sidat atau yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai pepes lubang.
Bagi Kang Apon, memasak bukan sekadar kegiatan mengisi waktu luang. Meracik bumbu dan mengolah bahan makanan menjadi sajian bercita rasa khas Sunda menjadi bagian dari kegemarannya dalam mempertahankan cita rasa tradisional.
Salah satu menu andalannya adalah pepes. Sajian yang sepintas terlihat sederhana tersebut ternyata membutuhkan racikan bumbu yang cukup kompleks agar menghasilkan aroma dan rasa yang kuat.
Setidaknya terdapat sekitar 12 jenis bumbu dan rempah yang digunakan. Mulai dari serai, daun salam, kemiri, bawang merah, bawang putih, daun suraung hingga sejumlah bumbu pelengkap lainnya.
Seluruh bumbu diracik dan dipadukan dengan ikan segar sebelum dibungkus menggunakan daun. Setelah itu, pepes dimasak hingga bumbu meresap dan aroma rempahnya keluar dengan kuat.
“Buat saya, membuat pepes itu bukan hanya soal memasak. Ada proses meracik, menjaga takaran bumbu dan memastikan semua rasa menyatu. Yang paling penting, ketika dimakan orang bisa merasakan karakter makanan Sunda,” ujar Kang Apon.
Pepes impun racikannya menawarkan rasa gurih dengan aroma rempah yang kuat. Sementara pepes sidat atau lubang memiliki karakter tersendiri dengan tekstur daging yang khas dan bumbu yang meresap hingga ke bagian dalam.
Menariknya, keahlian Kang Apon meracik pepes justru berjalan berdampingan dengan profesinya sebagai jurnalis. Jika pada siang hingga malam hari ia sibuk menjalankan aktivitas jurnalistik, di kesempatan lain tangannya bisa berubah menjadi tangan seorang peracik bumbu.
“Jadi jurnalis itu banyak bertemu orang dan banyak melihat berbagai hal. Kalau memasak, saya juga belajar dari pengalaman dan kebiasaan. Saya senang mencoba meracik bumbu sampai menemukan rasa yang menurut saya pas,” katanya.
Menurutnya, kekuatan pepes tidak terletak pada tampilan yang mewah. Justru kesederhanaan menjadi daya tarik utama makanan tersebut. Ikan segar, bumbu lengkap, daun pembungkus dan proses memasak yang sabar menjadi kunci untuk menghasilkan pepes dengan aroma serta rasa yang menggugah selera.
Ketika daun pembungkus mulai dibuka, aroma serai, daun salam dan rempah lainnya langsung menguar. Perpaduan aroma daun dengan bumbu yang melekat pada ikan menghadirkan sensasi khas masakan rumahan Sunda.
“Saya ingin yang makan bukan cuma mengatakan enak. Tapi juga merasakan bahwa ini benar-benar makanan Sunda. Ada aroma rempah, ada rasa kampung halaman dan ada kesederhanaan di dalamnya,” tutur Kang Apon.
Baginya, mempertahankan makanan tradisional tidak harus dilakukan dengan cara yang rumit. Cukup dengan menjaga bahan, mempertahankan racikan bumbu dan mengolahnya dengan penuh kesabaran.
Di balik kesibukannya sebagai seorang jurnalis, Kang Apon membuktikan bahwa kecintaan terhadap kuliner tradisional bisa menjadi ruang lain untuk berkarya.
Pepes impun dan pepes sidat racikannya pun menjadi gambaran sederhana tentang bagaimana sebuah makanan mampu membawa kembali kenangan tentang dapur Sunda—hangat, kaya rempah dan selalu menggoda untuk kembali mencicipinya.
Pepes Kang Apon: sederhana bungkusnya, melimpah bumbunya, nendang aromanya, dan bikin lidah ingin nambah.






