LINGKARPENA.ID | Enam tahun bukan waktu yang singkat untuk dilalui dalam kondisi terbatas. Bagi Muhibat (51), warga Kampung Simpenan RT 03/RW 01, Desa Purwasedar, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, hari-hari panjang itu lebih banyak dihabiskan di atas tempat tidur.
Tubuhnya tak lagi leluasa bergerak. Kelumpuhan yang dideritanya membuat aktivitas sederhana sekalipun membutuhkan bantuan orang lain. Di sebuah rumah panggung sederhana berukuran sekitar 8×6 meter, Muhibat menjalani hidup bersama istrinya, Yansih (46).
Di tengah keterbatasan itu, bukan hanya kesehatan yang menjadi persoalan. Selama bertahun-tahun, keluarga tersebut juga harus berhadapan dengan beban ekonomi yang semakin berat.
Berbagai upaya pengobatan telah dilakukan. Harta benda yang mereka miliki perlahan dijual untuk membiayai kebutuhan berobat Muhibat. Kondisi ekonomi yang terus menurun bahkan membuat cicilan pinjaman di bank ikut tertunggak.
“Kami sudah berusaha semampunya. Harta yang ada sedikit demi sedikit habis untuk biaya pengobatan. Sekarang untuk kebutuhan sehari-hari saja kami kesulitan,” ungkap Yansih.
Pergi Jauh Demi Suami, Pulang Karena Sakit
Demi mempertahankan harapan agar sang suami bisa mendapatkan pengobatan, Yansih pernah mengambil keputusan berat. Ia berangkat bekerja sebagai pekerja migran Indonesia di Arab Saudi.
Kepergiannya bukan semata-mata untuk mencari penghasilan, tetapi juga karena ingin mengumpulkan biaya agar Muhibat dapat kembali memperoleh perawatan.
Namun, harapan itu kembali kandas. Yansih justru mengalami gangguan kesehatan pada bagian rahim sehingga harus dipulangkan oleh majikannya.
“Saya berangkat ke Arab Saudi karena ingin membantu biaya pengobatan suami. Tetapi saya malah sering sakit di bagian rahim dan akhirnya dipulangkan,” tuturnya.
Kini, pasangan suami istri itu hanya bisa bertahan dengan kondisi seadanya. Tidak ada lagi anak yang dapat menjadi tempat bergantung. Anak semata wayang mereka telah meninggal dunia sekitar 10 tahun lalu.
Kesunyian dan keterbatasan menjadi bagian dari keseharian keluarga tersebut.
Warung Kecil dan Kursi Roda
Untuk menopang kehidupan, Muhibat masih berusaha mengandalkan sebuah warung kecil. Modal usaha itu sebelumnya diperoleh dari bantuan Kementerian Sosial beberapa tahun lalu.
Namun, keterbatasan fisiknya membuat usaha tersebut tidak banyak membantu mengangkat perekonomian keluarga.
Muhibat juga telah memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS). Kendati demikian, akses untuk membawa dirinya mendapatkan pemeriksaan atau perawatan lanjutan ke rumah sakit yang lebih besar masih menjadi persoalan.
Bukan hanya biaya pengobatan yang menjadi kendala. Ongkos perjalanan, kebutuhan makan selama berada di luar daerah, hingga pendampingan membuat keluarga ini harus berpikir berkali-kali sebelum membawa Muhibat berobat.
“Kami punya KIS, tetapi kalau harus ke rumah sakit yang jauh, kami bingung biaya perjalanan dan kebutuhan selama di sana. Itu yang menjadi kendala kami,” kata Yansih.
Menunggu Perhatian
Di tengah keadaan yang semakin sulit, Yansih tidak berhenti berharap. Ia ingin suaminya mendapatkan kesempatan untuk memperoleh penanganan medis yang lebih baik.
Harapan itu kini ditujukan kepada pemerintah, para dermawan, serta siapa pun yang tergerak membantu. Secara khusus, Yansih berharap perhatian dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa KDM.
Ia tidak meminta kehidupan mewah. Keinginannya sederhana: membawa sang suami kembali mendapatkan pengobatan dan memiliki kesempatan untuk menjalani hidup dengan kondisi yang lebih baik.
“Kalau ada dermawan atau pemerintah yang bisa membantu, kami sangat bersyukur. Kami berharap khususnya Pak KDM bisa membantu pengobatan suami saya sampai mendapatkan penanganan yang layak,” ujar Yansih.
Di rumah panggung sederhana itu, harapan tersebut masih terus dipelihara. Setelah enam tahun berjuang melawan keterbatasan, Yansih hanya ingin satu hal: melihat suaminya kembali mendapatkan perawatan yang semestinya dan, jika memungkinkan, bisa sembuh serta menjalani kehidupan dengan lebih baik.






