Kisah Mak Kosah, Sosok yang Dikenang Warga Cibuntu karena “Mengobati” Borok Ternak dari Jarak Jauh

Inilah Sosok Mak Kosah ahli pengobatan ternak jarak jauh.[Gambar: Ilustrasi]

LINGKARPENA.ID | Jauh sebelum layanan kesehatan hewan mudah dijangkau seperti sekarang, warga Kampung Cibuntu, Desa Buniwangi, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, memiliki cara tersendiri ketika menghadapi persoalan pada hewan ternaknya.

Pada era 1980-an, ketika tenaga kesehatan hewan belum mudah ditemui di wilayah tersebut, nama Mak Kosah cukup dikenal di kalangan masyarakat. Almarhumah disebut-sebut memiliki kemampuan yang oleh sebagian warga dianggap sulit dijelaskan secara nalar.

Mak Kosah kerap didatangi warga yang memiliki ternak sakit, terutama sapi, kerbau, maupun kambing yang mengalami borok.

Namun, ada hal yang membuat kisah tersebut berbeda. Hewan yang sakit tidak perlu dibawa langsung kepada Mak Kosah. Pemilik ternak cukup datang dan menyampaikan bagian tubuh hewan yang mengalami masalah.

Anas (62), warga yang masih mengingat kisah tersebut, menuturkan cara yang dilakukan Mak Kosah kala itu terbilang unik.

“Misalnya sapi terkena borok di bagian kaki. Sapinya tidak dibawa ke Mak Kosah. Cukup diberitahukan saja bagian mana yang sakit,” tutur Anas.

Menurutnya, pemilik ternak juga biasanya membawa nasi aron, yakni nasi yang sengaja dikeringkan. Nasi tersebut kemudian digunakan dalam prosesi yang dilakukan Mak Kosah.

Baca juga:  Kabar Duka: Mantan Kadis Lingkungan Hidup Kabupaten Sukabumi Prasetyo Meninggal Dunia

“Setelah itu Mak Kosah mengoleskan nasi aron ke bagian kaki anak atau cucunya, bukan ke sapi yang sakit. Sambil membaca mantra-mantra tertentu,” katanya.

Warga yang mengetahui kisah tersebut meyakini, beberapa hari setelah prosesi dilakukan, kondisi borok pada hewan ternak yang sebelumnya dilaporkan berangsur membaik.

Cerita mengenai kemampuan Mak Kosah pun menyebar dari mulut ke mulut. Pada masa ketika akses informasi dan layanan kesehatan hewan masih terbatas, sebagian warga memilih meminta pertolongannya ketika ternak mereka mengalami masalah.

“Dulu belum seperti sekarang. Kalau ada ternak sakit, warga bingung harus berobat ke mana. Jadi banyak yang datang meminta bantuan Mak Kosah,” ujar Anas.

Keahlian yang Disebut Menurun kepada Anak

Waktu terus berjalan. Mak Kosah telah meninggal dunia pada 2013. Namun, kisah mengenai sosoknya masih tersimpan dalam ingatan sebagian warga Kampung Cibuntu.

Cerita tersebut bahkan berlanjut kepada Yayah (57), anak perempuan ketiga Mak Kosah.

Baca juga:  Sosok Alm Bripka Miftahu Rochman Dimata Pimpinannya

Menurut Anas, warga yang meminta bantuan kepada Yayah tidak sebanyak ketika Mak Kosah masih hidup. Meski demikian, masih ada masyarakat yang datang ketika membutuhkan pertolongan.

“Kalau dibandingkan dengan Mak Kosah dulu, yang datang ke Yayah memang tidak sebanyak itu. Tapi masih ada warga yang meminta bantuan,” kata Anas.

Saat ditemui di kediamannya di Kampung Ciranca RT 06/06, Desa Buniwangi, Yayah membenarkan bahwa ibunya dulu kerap dimintai bantuan oleh warga untuk menangani persoalan pada ternak.

Namun, ketika ditanya mengenai kemampuan dirinya melakukan hal serupa seperti yang dilakukan sang ibu, Yayah tidak banyak berbicara.

“Abdi mah teu acan kantos ngubaran sato mah, upami nulungan anu kabeureuyan atawa pepecatan leres tiasa. Tapi upami aya anu nyuhunkeun tulung mah tiasa wae,” ujar Yayah, Kamis ( 1/10/2026 ).

Antara Tradisi dan Perubahan Zaman

Bagi warga yang pernah mendengar maupun menyaksikan praktik tersebut, kisah Mak Kosah bukan sekadar cerita mengenai pengobatan ternak.

Di dalamnya terdapat gambaran kehidupan masyarakat kampung pada masa lalu, ketika keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan membuat warga mengandalkan pengetahuan, pengalaman, serta tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Baca juga:  Mengenal Lebih Dekat Eni Septia Ramadhani Sang Putri Nelayan Ujunggengeng 2025

Seorang warga Cibuntu lainnya menuturkan, keberadaan Yayah hingga kini menjadi pengingat bahwa pengetahuan lokal semacam itu pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.

“Sekarang zaman sudah berubah. Kalau ternak sakit, sudah ada petugas atau dinas yang bisa menangani. Tapi cerita tentang Mak Kosah masih sering diceritakan oleh orang-orang tua di kampung,” ujarnya.

Kini, perkembangan ilmu pengetahuan dan layanan kesehatan hewan membuat penanganan penyakit pada ternak dapat dilakukan melalui metode medis dan pemeriksaan yang lebih terukur.

Meski demikian, nama Mak Kosah masih memiliki tempat tersendiri dalam ingatan warga Cibuntu.

Ia dikenang sebagai sosok yang dahulu didatangi masyarakat ketika menghadapi persoalan ternak, terutama saat pilihan pengobatan modern belum mudah dijangkau.

Dari Mak Kosah, cerita itu kemudian berlanjut kepada Yayah.

Sebuah kisah tentang pengetahuan lokal yang perlahan tergerus perubahan zaman, tetapi masih tersimpan dalam ingatan warga Kampung Cibuntu, Desa Buniwangi, Kecamatan Surade.

Pos terkait