LINGKARPENA.ID | Aktivitas belajar mengajar di MTs Bumi Persada, Kampung Cimanggu RT 21/05, Desa Langkapjaya, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Sukabumi, terganggu setelah salah satu bagian bangunan sekolah ambruk pada Senin (14/9/2026).
Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 10.15 WIB. Material bangunan yang sudah dalam kondisi rapuh membuat bagian atap salah satu ruang kelas tidak mampu bertahan hingga akhirnya roboh.
Beruntung, kejadian berlangsung ketika para siswa dan guru sedang berada di luar ruangan karena jam istirahat. Dengan demikian, tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam insiden tersebut.
MTs Bumi Persada sendiri saat ini memiliki 94 siswa yang didampingi 11 tenaga guru. Kondisi bangunan yang telah mengalami pelapukan disebut menjadi persoalan yang sudah berlangsung cukup lama.
Kepala MTs Bumi Persada, Henhen Suhendi, mengatakan kondisi fisik bangunan sebenarnya telah memprihatinkan sejak sekitar dua tahun terakhir. Pihak sekolah pun telah berupaya mengajukan permohonan bantuan perbaikan kepada pihak terkait.
“Bangunan ini kondisinya memang sudah lapuk sejak sekitar dua tahun lalu. Kami sudah beberapa kali mengajukan permohonan bantuan untuk perbaikan, tetapi sampai sekarang belum ada penanganan fisik,” ujar Henhen kepada lingkarpena. id, Selasa ( 15/9/2026 ).
Pasca-ambruknya bangunan, sekolah harus melakukan penyesuaian agar kegiatan pembelajaran tetap berlangsung. Mengingat MTs Bumi Persada berada dalam satu lingkungan dengan Madrasah Aliyah, sejumlah ruangan terpaksa dimanfaatkan secara bergantian.
“Sekarang proses pembelajaran sementara menumpang di ruangan Madrasah Aliyah. Di sini ada dua lembaga, yakni Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Karena posisi kami kekurangan ruangan, akhirnya dilakukan pengaturan seperti ini,” jelasnya.
Menurut Henhen, kondisi tersebut membuat kegiatan belajar mengajar harus dilakukan dengan keterbatasan. Sementara itu, karena jumlah siswa Madrasah Aliyah relatif lebih sedikit, kegiatan pembelajaran mereka untuk sementara dipindahkan ke mushola berukuran sekitar 3 x 4 meter.
“Karena siswa Aliyah jumlahnya terbatas, pembelajaran mereka kami pindahkan sementara ke mushola. Ukurannya sekitar 3 x 4 meter,” ungkapnya.
Pihak sekolah berharap pemerintah daerah maupun instansi terkait dapat segera turun tangan untuk melihat langsung kondisi bangunan dan memberikan solusi, terutama menyangkut keamanan serta keberlangsungan pendidikan para siswa.
Harapan serupa disampaikan salah seorang orang tua siswa MTs Bumi Persada. Ia mengaku khawatir apabila kondisi bangunan yang rusak tidak segera diperbaiki, terlebih keselamatan anak-anak menjadi pertimbangan utama.
“Kami sebagai orang tua tentu khawatir. Kami berharap bangunan yang rusak segera diperbaiki supaya anak-anak bisa belajar dengan nyaman dan aman. Jangan sampai menunggu ada korban baru dilakukan perbaikan,” harapnya.
Orang tua siswa juga berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap kebutuhan sarana pendidikan di wilayah tersebut. Menurutnya, keterbatasan ruang setelah bangunan ambruk jangan sampai mengganggu proses belajar siswa dalam jangka panjang.
“Kami ingin anak-anak tetap bisa belajar dengan baik. Mudah-mudahan ada bantuan dan perbaikan secepatnya, sehingga kegiatan sekolah bisa kembali normal dan siswa tidak harus belajar dalam kondisi yang serba terbatas,” pungkasnya.
Kini pihak sekolah masih berupaya mempertahankan kegiatan pembelajaran dengan fasilitas yang tersedia. Mereka berharap persoalan tersebut segera mendapat penanganan agar keselamatan siswa dan guru terjamin serta proses pendidikan di MTs Bumi Persada dapat kembali berjalan sebagaimana mestinya.






