LINGKARPENA.ID | Suasana perayaan kenaikan kelas di sejumlah sekolah wilayah Pajampangan Selatan, Kabupaten Sukabumi, tak hanya membawa kebahagiaan bagi para siswa. Momen tahunan tersebut juga menjadi berkah tersendiri bagi para pedagang anak ayam berwarna yang menjajakan dagangannya di sekitar lokasi acara perpisahan dan kenaikan kelas.
Di tengah keramaian acara yang dipenuhi siswa dan orang tua, suara riuh anak-anak yang antusias memilih anak ayam berwarna-warni terdengar bersahutan. Anak ayam dengan bulu merah, hijau, kuning, hingga biru itu menjadi daya tarik tersendiri dan kerap dijadikan hadiah atau peliharaan oleh para siswa usai menerima rapor.
Salah seorang pedagang, Ikri (58), mengaku musim kenaikan kelas menjadi salah satu periode paling menguntungkan dalam setahun. Dalam sehari, ia mampu menjual hingga ratusan ekor anak ayam berwarna.
“Alhamdulillah saat ini jualan anak ayam berwarna sedang laris. Sehari saya bisa menjual 100 ekor anak ayam berwarna,” ujar Ikri saat ditemui di lokasi, Rabu ( 17/6/2026 ).
Menurutnya, usaha tersebut tidak membutuhkan modal besar. Ia hanya mengambil stok anak ayam dari pemasok, kemudian menyetorkan hasil penjualan setelah dagangan habis terjual.
“Saya mengambil dulu ke si bos, setelah jualan baru setor. Asal ada kemauan, ya lumayan untuk tambah-tambah penghasilan,” katanya.
Anak ayam berwarna yang dijual Ikri dibanderol Rp10 ribu per ekor. Namun untuk menarik minat pembeli, ia memberikan harga khusus Rp15 ribu untuk dua ekor.
“Hari ini Alhamdulillah sudah menjual sekitar 100 ekor. Mudah-mudahan nanti sampai acara samenan selesai bisa laku 200 ekor,” harapnya.
Untuk mengantisipasi tingginya permintaan saat musim kenaikan kelas, Ikri biasanya menyiapkan sedikitnya tiga boks anak ayam. Setiap boks berisi sekitar 100 ekor.
Ia menjelaskan, warna mencolok pada bulu anak ayam tersebut bukan warna asli, melainkan hasil pewarnaan khusus yang akan memudar seiring pertumbuhan ayam.
“Kalau sudah besar warnanya akan berubah seperti ayam biasa. Itu hanya pewarna saja, tapi ayamnya tetap bisa tumbuh besar kalau dipelihara dengan baik,” jelasnya.
Sementara itu, salah seorang warga yang membeli anak ayam untuk anaknya, Siti Nurjanah (36), mengaku sengaja membeli dua ekor karena anaknya sangat menyukai hewan peliharaan.
“Setiap ada acara kenaikan kelas biasanya anak-anak minta dibelikan anak ayam. Selain lucu, mereka juga jadi belajar merawat hewan sejak kecil,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Rian (12), siswa yang baru saja menerima rapor kenaikan kelas. Ia merasa senang bisa membawa pulang anak ayam berwarna sebagai hadiah.
“Saya pilih yang warna hijau sama kuning. Mau dipelihara di rumah sampai besar,” katanya sambil tersenyum.
Fenomena anak ayam berwarna memang menjadi pemandangan yang hampir selalu hadir di berbagai acara kenaikan kelas di wilayah Pajampangan. Di balik warna-warni yang menarik perhatian anak-anak, tersimpan kisah para pedagang kecil yang menggantungkan rezekinya pada momen-momen musiman.
Bagi Ikri dan pedagang lainnya, musim kenaikan kelas bukan sekadar keramaian tahunan. Lebih dari itu, menjadi kesempatan untuk menambah penghasilan sekaligus menghadirkan kebahagiaan sederhana bagi anak-anak yang merayakan keberhasilan mereka naik ke jenjang pendidikan berikutnya.






