Anggota DPRD Kabupaten Sukabumi H. Dadang Hermawan Dorong Perbaikan Irigasi Cilegok, Ratusan Hektare Sawah Terancam Kekeringan

Anggota dewan dari fraksi PKB wilayah VI H Dadang Hermawan bersama pihak BBWS dan pemerintah setempat saat melakukan peninjauan daerah irigasi di wilayah Ciracap.[foto: Jajang lp]

LINGKARPENA.ID | Perhatian terhadap kondisi infrastruktur pertanian terus dilakukan anggota DPRD Kabupaten Sukabumi. Anggota DPRD Kabupaten Sukabumi dari Fraksi PKB, H. Dadang Hermawan, bersama perwakilan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Kepala BPP Kecamatan Ciracap Miftahul Zanah, Kepala Desa Ciracap Sopandi, serta para petani Kampung Kalapa Satangkal, meninjau langsung kondisi saluran irigasi Cilegok yang mengalami kerusakan, Selasa (25/8/2026).

 

Saluran irigasi tersebut berada di wilayah Desa Pasir Panjang, Kecamatan Ciracap. Namun, manfaat aliran airnya lebih dominan dirasakan masyarakat Desa Ciracap, termasuk para petani di Kampung Kalapa Satangkal. Irigasi Cilegok juga menjadi sumber pengairan bagi lahan pertanian di tiga desa, yakni Pasir Panjang, Ciracap dan Purwasedar.

 

H. Dadang Hermawan mengatakan, kerusakan saluran akibat longsor tahun 2025 lalu telah menghambat aliran air menuju area persawahan. Kondisi tersebut dikhawatirkan semakin parah apabila tidak segera ditangani, terlebih memasuki musim penghujan.

 

“Hari ini kita mengecek lokasi saluran air yang ada di Cilegok, Desa Pasir Panjang. Secara lokasi masuk Desa Pasir Panjang, tetapi secara kemanfaatan yang paling dominan adalah Desa Ciracap. Saluran ini mengairi tiga desa, yaitu Pasir Panjang, Ciracap dan Purwasedar,” ujar H. Dadang.

 

Menurutnya, kawasan persawahan yang paling terdampak berada di Dusun Kalapa Satangkal, Desa Ciracap, dengan luas sekitar 450 hektare dan melibatkan hampir seribu petani.

 

Ia menilai, apabila kerusakan tersebut tidak segera diperbaiki, aliran air berpotensi melebar dan menggerus area persawahan di sekitarnya. Kondisi itu bukan hanya mengancam produksi pertanian, tetapi juga berpotensi menimbulkan persoalan sosial di tengah masyarakat.

Baca juga:  Dadang Hermawan Salurkan Bantuan Sarana Belajar Mengaji

 

“Kalau ini tidak secepatnya diperbaiki, aliran sungainya akan melebar dan bisa mengakibatkan longsoran pada area persawahan. Kita mendorong agar secepatnya saluran ini diperbaiki, mudah-mudahan sebelum musim penghujan sehingga bisa kembali bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.

 

H. Dadang menjelaskan, panjang keseluruhan jaringan irigasi Cilegok mencapai sekitar empat kilometer. Dari jaringan tersebut terdapat sejumlah titik yang mengalami kerusakan dengan total panjang yang diperkirakan mencapai sekitar satu kilometer.

 

Kerusakan tersebut telah terjadi sejak musim penghujan 2025. Namun, persoalan baru dapat dikomunikasikan secara lebih intensif karena sebelumnya masyarakat telah berupaya melakukan perbaikan secara swadaya.

 

“Beberapa titik sudah diperbaiki secara swadaya oleh masyarakat, bahkan dibuat seperti jembatan agar lintasan air tetap bisa lewat. Tetapi sekarang kondisinya kembali rusak,” ungkapnya.

 

Dalam peninjauan tersebut, rombongan juga melihat langsung salah satu titik longsoran dengan kondisi tebing yang cukup tinggi. Pada titik tertentu, kedalaman longsoran diperkirakan mencapai enam hingga tujuh meter, sementara dari posisi persawahan ketinggiannya dapat mencapai sekitar 10 hingga 15 meter. Lebar aliran sungai sekitar dua meter, dengan tinggi saluran irigasi sekitar 1,5 meter dan panjang kerusakan pada titik tersebut sekitar 10 hingga 15 meter.

 

Selain mendorong percepatan perbaikan irigasi, H. Dadang juga meminta kelompok tani di wilayah tersebut memperkuat kelembagaan dengan memiliki badan hukum.

Baca juga:  H. Dadang Hermawan Tunaikan Nazar Politik, Berikan Bantuan Alat Drumband

 

Menurutnya, legalitas kelompok tani penting agar mereka dapat mengakses berbagai program bantuan dari pemerintah kabupaten, provinsi maupun pusat, termasuk bantuan alat dan mesin pertanian, pipanisasi hingga pembangunan sarana irigasi.

 

“Kita mendorong para kelompok tani ini untuk berbadan hukum. Karena ketika tidak punya legalitas, mereka akan kesulitan menerima bantuan seperti alat pertanian, hand tractor, cultivator, TR4, pipanisasi maupun pembangunan irigasi. Apalagi pemerintah pusat sekarang terus mendorong teknologi untuk pengembangan pertanian sebagai bagian dari ketahanan pangan,” jelasnya.

 

Sementara itu, Kepala BPP Kecamatan Ciracap, Miftahul Zanah, mengapresiasi peninjauan bersama tersebut. Menurutnya, kehadiran anggota dewan, BBWS, pemerintah desa dan penyuluh pertanian menjadi langkah penting untuk mencari solusi terhadap persoalan irigasi yang selama ini dikeluhkan petani.

 

“Saya sangat bersyukur karena kegiatan ini lengkap. Ada saya selaku koordinator BPP, Pak Dewan, dari BBWS, pemerintah desa dan para petani. Dengan terjadinya permasalahan akibat bencana pada saluran Cilegok ini, mudah-mudahan secepatnya bisa diatasi ataupun diperbaiki,” kata Miftahul Zanah

 

Miftahudin menegaskan, keberadaan saluran irigasi sangat menentukan keberlangsungan aktivitas pertanian. Jika pasokan air tidak maksimal, jadwal tanam petani dapat terganggu dan berpotensi memengaruhi produksi pangan.

 

Ia menyebutkan, dari tiga desa yang mendapatkan manfaat irigasi tersebut, Desa Ciracap menjadi wilayah yang paling terdampak dengan luas lahan sekitar 300 hingga 400 hektare. Sementara di Desa Purwosedar, luas lahan yang turut mendapatkan manfaat diperkirakan lebih dari 100 hektare.

Baca juga:  Cawapres Mahfud MD, Hadir di Sukabumi

 

“Harapan kami ke depan ini cepat diperbaiki agar petani tidak ada kegundahan dalam menghadapi musim tanam. Walaupun sambil menunggu bantuan pemerintah, para petani juga sudah bergotong royong. Namun tentu akan lebih maksimal apabila pembangunan dan perbaikannya dilakukan pemerintah,” tuturnya.

 

Perwakilan BBWS, Sandra Duyanda Putra, turut mengapresiasi adanya peninjauan langsung tersebut. Ia mengatakan, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan pimpinan terkait kondisi saluran irigasi yang dikeluhkan para petani.

 

“Kami mengapresiasi undangan dari kepala desa, anggota dewan, kepala BPP dan para petani untuk meninjau langsung kondisi irigasi ini. Terkait keluhan petani mengenai kemungkinan terputusnya aliran air pada masa tanam pertama, insyaallah secepatnya kami koordinasikan dengan atasan atau pimpinan,” ujar Sandra.

 

Sandra menambahkan, pemerintah desa juga diharapkan dapat membantu proses pengajuan proposal agar penanganan kerusakan saluran dapat segera ditindaklanjuti.

 

Menurutnya, saluran tersebut berkaitan dengan suplai air menuju daerah irigasi Ciletuh. Namun berdasarkan prasasti kewenangan, pengelolaan saluran tersebut berada pada pemerintah kabupaten.

 

Dengan adanya peninjauan bersama ini, H. Dadang berharap persoalan irigasi Cilegok tidak berlarut-larut. Perbaikan dinilai penting untuk memastikan ketersediaan air bagi petani sekaligus menjaga produktivitas pertanian dan ketahanan pangan masyarakat Sukabumi. (adv).

Pos terkait