LINGKARPENA.ID | Kesunyian malam di Kampung Cigelang, Desa Gunung Batu, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, mendadak berubah menjadi kepanikan. Tiba-tiba saja kobaran api melalap bangunan Sanggar Seni Cepet Laras Sekar. Peristiwa itu terjadi pada Jumat (12/6/2026) dini hari sekira pukul 01.00 WIB.
Bangunan sanggar yang selama ini menjadi ruang belajar, berlatih dan melestarikan seni budaya tradisional itu hangus dilalap si jago merah. Bersama bangunan tersebut, berbagai perlengkapan kesenian yang menjadi napas aktivitas sanggar turut musnah terbakar.
Berdasarkan informasi sementara, kebakaran diduga dipicu oleh korsleting listrik. Api dengan cepat membesar dan menghanguskan seluruh isi bangunan sebelum sempat diselamatkan.
Pembina Sanggar Seni Cepet Laras Sekar, Ridholosa, menuturkan bahwa beberapa jam sebelum kejadian, aktivitas di sanggar masih berlangsung seperti biasa. Para anggota baru saja menyelesaikan kegiatan pengajian rutin malam Jumat.
“Sekitar pukul 22.00 WIB masih ada beberapa anggota yang berada di sanggar setelah kegiatan pengajian rutin malam Jumat. Tidak ada tanda-tanda apa pun. Namun menjelang dini hari kami mendapat kabar bahwa sanggar terbakar,” ujar Ridholosa dengan nada sedih.
Menurutnya, kebakaran tersebut tidak hanya menghanguskan bangunan, tetapi juga seluruh aset kesenian yang selama ini digunakan untuk pembinaan generasi muda.
“Semua perlengkapan habis. Satu set gamelan, topeng cepet, kostum pertunjukan, alat latihan, hingga perlengkapan pendukung lainnya tidak ada yang tersisa. Ini tentu menjadi kehilangan besar bagi kami,” katanya.
Di antara puing-puing yang tersisa, tersimpan kisah perjuangan sebuah komunitas budaya yang baru tumbuh. Sanggar Cepet Laras Sekar baru berdiri sekitar satu tahun lalu. Meski usianya masih muda, sanggar tersebut telah menjadi wadah bagi anak-anak dan pemuda di wilayah pesisir selatan Sukabumi untuk mengenal, mempelajari, dan mencintai seni budaya tradisional daerah.
Setiap denting gamelan yang dimainkan, setiap gerak tari yang dilatih, hingga setiap topeng yang dikenakan dalam pertunjukan, menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Kini, seluruh perlengkapan yang menjadi simbol perjalanan itu telah berubah menjadi abu.
Meski demikian, Ridholosa menegaskan bahwa musibah ini tidak akan menghentikan langkah para pelaku seni di sanggar tersebut untuk terus berkarya dan melestarikan budaya.
“Ini memang pukulan berat bagi kami. Namun kami percaya bahwa budaya tidak hanya ada pada bangunan atau alat-alat kesenian. Budaya hidup dalam semangat para pelakunya. Kami akan berusaha bangkit dan kembali membina generasi muda agar kesenian tradisional tetap lestari,” tegasnya.
Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun kerugian material diperkirakan mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah mengingat hampir seluruh perlengkapan utama pertunjukan dan latihan habis terbakar.
Peristiwa ini mengundang keprihatinan masyarakat setempat dan para pegiat seni budaya. Dukungan dan solidaritas mulai mengalir sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan sanggar yang selama ini menjadi ruang kreativitas dan pelestarian budaya lokal.
Di balik puing-puing bangunan yang hangus, tersimpan harapan besar agar Sanggar Cepet Laras Sekar dapat kembali berdiri. Sebab bagi para pelaku seni, api mungkin mampu membakar bangunan dan perlengkapan, tetapi tidak akan pernah mampu memadamkan kecintaan terhadap budaya.
“Bangunan boleh hangus terbakar, namun semangat melestarikan budaya akan tetap menyala.” Kalimat itu kini menjadi pengingat bahwa warisan budaya akan terus hidup selama masih ada orang-orang yang menjaga dan memperjuangkannya.






