LINGKARPENA.ID | Kesuksesan penyelenggaraan kegiatan Penciptaan Karya Kreatif Inovatif Kumara Lemah Karuhun: The Last Guardian yang digelar pada 14 Juni 2026 di Gedung Juang 45 Kota Sukabumi tidak terlepas dari dukungan Program Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui LPDP.
Pertunjukan ini mengangkat isu krisis lingkungan, hubungan manusia dengan alam, serta pentingnya menjaga warisan budaya sebagai bekal generasi masa depan. Melalui tokoh-tokoh anak dalam kelompok Kumara, karya ini menempatkan generasi muda sebagai penjaga terakhir nilai-nilai leluhur di tengah ancaman kerusakan bumi.
Salah satu kekuatan utama pertunjukan ini adalah keterlibatan anak-anak sebagai pelaku utama karya. Berbagai unsur kaulinan barudak Sunda dihadirkan sebagai bagian penting dari alur cerita, koreografi, musik, dan visual pertunjukan. Permainan tradisional tidak hanya ditampilkan sebagai hiburan, tetapi dimaknai sebagai media pendidikan yang mengajarkan kebersamaan, kepedulian terhadap lingkungan, strategi, serta hubungan harmonis antara manusia dan alam.
Sutradara sekaligus pengusul kegiatan, Indra Gandara, M.Pd., menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada Program Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui LPDP atas dukungan penuh yang diberikan sejak proses penciptaan hingga pementasan karya.
“Kumara Lemah Karuhun bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi juga upaya membangun kesadaran budaya dan lingkungan melalui perspektif anak-anak. Dukungan Dana Indonesiana dan LPDP memungkinkan kami mengembangkan gagasan ini menjadi sebuah karya yang melibatkan komunitas, seniman, serta generasi muda dalam proses kreatif yang panjang dan bermakna,” ungkapnya.
Menurut Indra Gandara, kehadiran anak-anak dalam karya ini menjadi simbol harapan sekaligus pengingat bahwa masa depan kebudayaan dan lingkungan berada di tangan generasi yang saat ini sedang tumbuh dan belajar.
Senada dengan hal tersebut, Rivaldi Indra Hapidzin, M.Pd., selaku Tim Manajemen Produksi, menyampaikan bahwa dukungan Dana Indonesiana dan LPDP memberikan ruang bagi tim untuk mengembangkan proses produksi secara lebih maksimal.
“Mulai dari riset, penciptaan karya, pelatihan peserta, hingga pelaksanaan pertunjukan, seluruh tahapan dapat berjalan dengan baik berkat dukungan yang diberikan. Yang paling membanggakan adalah bagaimana anak-anak tidak hanya menjadi penampil, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menyampaikan pesan budaya dan lingkungan kepada masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Viranie Dwi Monikawatie, M.Pd., selaku Tim Manajemen Produksi, menambahkan bahwa antusiasme penonton menunjukkan tingginya apresiasi masyarakat terhadap karya yang mengangkat budaya lokal dengan pendekatan yang relevan bagi generasi saat ini.
“Melalui pertunjukan ini, kita melihat bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam kaulinan barudak masih sangat relevan untuk kehidupan masa kini. Respon positif penonton baik dari akademisi budayawan dan masyarakat umum menjadi bukti bahwa budaya lokal dapat dikemas secara kreatif dan tetap memiliki daya tarik yang kuat,” tuturnya.
Melalui terselenggaranya Kumara Lemah Karuhun: The Last Guardian, para pelaksana berharap semangat pelestarian budaya, kepedulian terhadap lingkungan, dan pemberdayaan generasi muda yang difasilitasi oleh Program Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui LPDP dapat terus tumbuh dan menginspirasi lahirnya karya-karya budaya yang inovatif di berbagai daerah Indonesia.(*)






