The Last Guardian: Merawat Budaya, Menjaga Masa Depan Indonesia

LINGKARPENA.ID | Gedung Widarya Kencana Selasa,12 Mei 2026 – Sebuah bangsa tidak selalu runtuh karena perang, krisis ekonomi, atau kemiskinan. Sering kali keruntuhan itu datang perlahan, nyaris tanpa sadar disaat sebuah masyarakat kehilangan ingatan tentang asal dirinya sendiri. Ia lupa pada tanah tempat ia berpijak, lupa pada nilai yang membesarkannya, lupa pada permainan masa kecil yang mengajarkan kebersamaan, dan lupa pada suara leluhur yang dahulu menuntun arah kehidupan. Mungkin anak-anak lebih akrab dengan gawai daripada halaman rumahnya sendiri,kaulinan barudak digantikan asuhan digital, dan budaya hanya tersisa sebagai seremoni tanpa jiwa, sesungguhnya yang sedang diuji bukan tradisi saja, melainkan masa depan Indonesia.

 

Di tengah kegelisahan itu, lahirlah KUMARA LEMAH KARUHUN : The Last Guardian, sebuah drama musikal budaya yang akan digelar pada 14 Juni 2026 di Gedung Juang Kota Sukabumi, dalam dua sesi pertunjukan pukul 16.00 WIB dan 19.00 WIB. Pertunjukan ini sebuah ikhtiar kebudayaan—usaha sadar untuk mengembalikan manusia pada akar: tanah, alam, leluhur, dan nilai-nilai yang membentuk watak bangsa.

 

Diprakarsai oleh Indra Gandara, “KUMARA LEMAH KARUHUN” mempertemukan tujuh komunitas seni dan budaya dalam satu gerakan pertunjukan kolektif: My Sajiwa, Kakoncara, Sayang Iwung, Sekedart, Macan Tunggal, Gentra Swara Percussion, dan Sandhikara Community. Teater, tari, musik, pencak silat, artistik panggung, hingga kaulinan barudak Sunda dipadukan dalam satu dunia dramatik yang utuh. Ini adalah drama musikal budaya yang lahir dari semangat kolaborasi karena memang kebudayaan tidak pernah tumbuh dari panggung yang berdiri sendiri, tetapi dari tangan-tangan yang bersedia saling menjaga dan bersifat cair juga dinamis.

Baca juga:  THM Karoke di Kota Sukabumi Mulai Beroperasi

 

Lebih dari sekadar pertunjukan, KUMARA menjadi ruang pertemuan antar komunitas untuk membangun ekosistem kebudayaan yang hidup serta sebagai langkah awal membangun peradaban melalui seni, budaya, dan pendidikan generasi muda.

 

Program ini juga sejalan dengan semangat pemajuan kebudayaan nasional yang dijalankan oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Dana Indonesiana yang kini bertransformasi menjadi Dana IndonesiaRaya. Dalam skema Dana Abadi Kebudayaan tersebut, Kementerian Kebudayaan bertindak sebagai Program Manager, sementara LPDP berperan sebagai Fund Manager yang memastikan keberlanjutan pendanaan kebudayaan nasional. Negara menempatkan kebudayaan bukan sebagai pelengkap pembangunan, melainkan fondasi utama peradaban bangsa.

 

Bagi Indra Gandara, S.Pd., M.Pd., persoalan terbesar hari ini bukan hanya derasnya perkembangan teknologi, melainkan semakin jauhnya manusia dari akar budayanya sendiri.Modernitas sering disalahpahami sebagai kewajiban meninggalkan masa lalu, seolah kemajuan hanya mungkin dicapai dengan melupakan asal-usul. Padahal, menurutnya, persoalannya bukan kita harus kembali ke masa lalu, tetapi sudah waktunya mengembalikan cara berpikir. “Lain kudu balik ka baheula, tapi geus wayah malikkeun pikir.” Sebuah kalimat sederhana yang sesungguhnya mengandung pesan besar kemajuan.

Baca juga:  Perizinan Bioskop di Cibadak Segera Rampung, Ini Penjelasan Konsultan

 

Kegelisahan itu paling nyata terlihat pada Generasi Alpha—anak-anak yang tumbuh dekat dengan teknologi, tetapi semakin jauh dari halaman rumah, permainan tradisional, dan ruang sosial yang dahulu membentuk empati. Mereka mengenal dunia global, tetapi perlahan kehilangan bahasa lokal, kehilangan rasa memiliki, bahkan kehilangan hubungan dengan lingkungan tempat mereka hidup. Jika generasi ini kehilangan akar budaya, maka sesungguhnya bangsa ini sedang kehilangan masa depannya.

 

Karena itu, dalam KUMARA, anak-anak tidak hadir sebagai penampil,Mereka diposisikan sebagai katalis penerus nilai, penjaga bumi, dan pewaris masa depan budaya. Kaulinan barudak Sunda dihidupkan kembali bukan sebagai nostalgia romantik, tetapi sebagai ruang pembentukan rasa, sosial, dan identitas. Permainan tradisional adalah sekolah pertama tentang kebersamaan, keberanian, kekalahan, kemenangan, dan penghormatan terhadap sesama,sehingga disanalah karakter manusia dibentuk secara paling alami.

 

Negara sendiri telah memberikan landasan kuat melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yang menegaskan bahwa permainan rakyat, tradisi lisan, adat istiadat, dan pengetahuan tradisional merupakan objek penting yang harus dilindungi, dikembangkan, dimanfaatkan, dan diwariskan. Kajian UNESCO tentang Intangible Cultural Heritage juga menegaskan bahwa permainan tradisional adalah bagian penting dari warisan budaya tak benda karena di sanalah anak-anak membangun identitas, belajar nilai sosial, dan memahami komunitasnya.

Baca juga:  Situ Buleud Masih Jadi Tempat Olahraga untuk Warga

 

Melalui KUMARA, tradisi dihubungkan dengan bahasa pertunjukan modern agar tetap relevan bagi generasi hari ini. Seni menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Teater, tari, musik, pencak silat, dan artistik dipersatukan dalam satu dunia dramatik yang utuh agar pesan budaya tidak terasa jauh, hangat, dan hidup di hati penonton. Hubungan manusia dengan tanah, alam, dan warisan karuhun menjadi inti penting pertunjukan ini.

 

KUMARA hadir sebagai culture movement—gerakan kesadaran kolektif bahwa budaya harus dihidupkan melalui tindakan keseharian. Ini adalah ajakan bagi seluruh lapisan masyarakat—orang tua, guru, pemuda, tokoh agama, pelajar, pemerintah, hingga warga biasa—untuk ikut menjaga ruang hidup kebudayaan kita.

 

“Mencintai Indonesia tidak harus dengan merenggut apa yang sudah ada, tidak harus dengan menghapus tradisi demi modernitas, dan tidak pula dengan melupakan akar budaya demi terlihat maju. Justru cinta tanah air yang paling sejati adalah menjaga, merawat, dan meneruskan warisan yang telah dititipkan oleh para leluhur agar tetap hidup dalam langkah generasi berikutnya. Dan jika hari ini kita memilih merawat budaya, sesungguhnya kita sedang menulis masa depan Indonesia dengan akar yang kuat, jiwa yang utuh, dan harapan yang tidak pernah putus,” pungkas Indra Gandara.

Pos terkait