Janda Hidupi 3 Anak di Surade Tinggal di Gubug Tak Layak Huni

Kondisi dapur rumah Lisnawati yang terbuat dari anyaman bambu nampak mengkhawatirkan.[dok. Istimewa/warga]

LINGKARPENA.ID | Langit mendung selalu membawa kegelisahan bagi Lisnawati (37). Bukan sekadar tanda hujan akan turun, tetapi pertanda bahwa ia dan ketiga anaknya harus bersiap menghadapi tetesan air yang jatuh dari atap rumah mereka yang nyaris roboh.

 

Di Kampung Cilalay Babakan, Desa Citanglar, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Lisnawati menjalani hari-hari dalam keterbatasan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Sejak suaminya meninggal dunia dua tahun lalu, ia menjadi satu-satunya penopang hidup bagi tiga anaknya—yang masih duduk di bangku kelas 3 SMP, kelas 3 SD, dan seorang balita berusia empat tahun.

Baca juga:  Mahasiswa UMMI Gelar Lokakarya Awal KKN Tematik 2023 di Kelurahan Situmekar Lembursitu

 

Rumah kecil berukuran sekitar 14 meter persegi itu menjadi tempat mereka bertahan. Dindingnya mulai lapuk, atapnya penuh lubang, dan saat hujan turun, air dengan mudah masuk ke dalam rumah. Di sudut ruangan, ember dan wadah seadanya kerap berjajar, menampung air yang menetes tanpa henti. Tak ada ruang yang benar-benar kering.

 

Lebih dari itu, rumah tersebut bahkan belum memiliki jamban. Dalam kondisi serba terbatas, Lisnawati tetap berusaha menjaga anak-anaknya agar tetap sehat dan terus bersekolah, meski hidup mereka jauh dari kata layak.

Baca juga:  Disperkim Kabupaten Sukabumi Realisasikan 20 Rutilahu untuk Desa Kutasirna

 

Di balik semua kesulitan itu, Lisnawati tak pernah banyak mengeluh. Suaranya lirih ketika menyampaikan harapan sederhana yang ia simpan rapat-rapat.

 

“Kalau bisa, ingin punya rumah yang lebih layak… supaya anak-anak tidak kehujanan lagi,” ucapnya dengan mata yang menahan haru.

 

Kondisi tersebut mengetuk kepedulian pemerintah desa. Kepala Desa Citanglar, Surahman, memastikan bahwa pihaknya telah mengupayakan bantuan melalui program rumah tidak layak huni (Rutilahu).

 

“Kami tidak tinggal diam. Proposal perbaikan rumah Ibu Lisnawati sudah kami ajukan ke Dinas Perkim Kabupaten Sukabumi. Harapan kami tentu bisa segera direalisasikan karena kondisinya memang sangat membutuhkan perhatian,” kata Surahman.

Baca juga:  Kapolres Sukabumi Eksekusi Gubug Mak Ocih yang Viral

 

Bagi Lisnawati, bantuan itu bukan sekadar perbaikan bangunan. Itu adalah harapan baru—tentang malam tanpa bocor, tentang tidur tanpa rasa cemas, dan tentang masa depan anak-anaknya yang sedikit lebih terang.

 

Sementara waktu terus berjalan, Lisnawati dan anak-anaknya masih bertahan di bawah atap rapuh itu—menunggu, dengan sabar, agar suatu hari nanti hujan tak lagi membawa kekhawatiran.

Pos terkait