LINGKARPENA.ID | Dalam arus deras transformasi digital yang perlahan menggeser ruang interaksi nyata anak-anak, muncul kegelisahan besar dari berbagai kalangan generasi masa kini semakin kehilangan tontonan yang sejatinya menjadi tuntunan. Di saat yang bersamaan, wacana kuat yang digaungkan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengenai urgensi memasukkan teater ke dalam sistem pendidikan sekolah sebagai pilar utama penguatan karakter, kini menemukan jawaban nyata dan bukti konkretnya. Jawaban itu hadir megah dalam wujud KUMARA Lemah Karuhun: The Last Guardian, sebuah drama musikal budaya kolosal yang tidak hanya hadir untuk menghibur, melainkan telah teruji secara kajian akademik mampu membentuk karakter sekaligus meningkatkan kecerdasan majemuk anak bangsa.
Penggagas sekaligus sutradara KUMARA, Indra Gandara, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa gagasan menjadikan seni pertunjukan sebagai media strategis pendidikan karakter sejatinya bukanlah hal baru baginya. Sudah sejak tahun 2018, jauh sebelum wacana ini menjadi pembahasan publik yang luas, Indra telah konsisten menjalankan proses kreatif mendalam bersama anak-anak dan berbagai komunitas seni, membuktikan bahwa panggung adalah ruang hidup yang paling efektif untuk menumbuhkan kualitas manusia seutuhnya. Kini, melalui KUMARA, visi besar tersebut direalisasikan dalam skala yang jauh lebih luas, lebih terstruktur, dan lebih berdampak bagi masyarakat Jawa Barat bahkan Indonesia.
“Keresahan kita sama anak-anak hari ini banyak terpapar konten yang tidak menyentuh rasa, tidak membangun empati, dan melemahkan hubungan sosial. Di sisi lain, Bapak Gubernur Dedi Mulyadi telah mengingatkan kita semua bahwa teater dan seni pertunjukan harus masuk ke sekolah karena di situlah akar karakter dibentuk. Kami di KUMARA menyambut gagasan mulia ini bukan sekadar dengan kata-kata, tapi dengan karya dan bukti nyata yang telah kami kaji secara ilmiah bertahun-tahun,” ungkap Indra Gandara di sela-sela latihan gabungan besar yang melibatkan 7 komunitas seni dan lebih dari 120 pemain di Mardiyuana Cikembar, Kamis ini.
Yang menjadikan gerakan KUMARA ini istimewa dan berbeda dari pertunjukan seni biasa adalah landasan ilmiah yang kokoh. Indra Gandara menambahkan, seluruh konsep yang dibangun dalam KUMARA, khususnya yang berbasis pada kaulinan barudak Sunda atau permainan tradisional, telah melalui serangkaian riset mendalam dan kajian akademik yang terbukti hasilnya luar biasa. Data dan pengamatan yang dilakukan menunjukkan bahwa seni pertunjukan yang dikemas lewat pendekatan permainan rakyat, bukan hanya berfungsi melestarikan budaya, melainkan memiliki dampak signifikan ganda: menguatkan fondasi karakter anak sekaligus mampu meningkatkan kecerdasan majemuk (multiple intelligences) secara menyeluruh.
“Kajian kami membuktikan, saat anak-anak terlibat dalam proses ini, mereka tidak hanya belajar berakting atau bergerak. Melalui kaulinan barudak yang kami hidupkan kembali dengan nilai baru, kecerdasan linguistik, logika-matematis, spasial, kinestetik, musikal, antarpribadi, intrapribadi, hingga kecerdasan alamiah mereka berkembang bersamaan secara alami dan menyenangkan. Ini adalah metode pendidikan paling lengkap yang dimiliki leluhur kita, dan kami buktikan secara akademik bahwa ini jauh lebih efektif membentuk manusia cerdas dan berkarakter dibandingkan sekadar pembelajaran satu arah,” jelas Indra Sebagai akademisi.
Dalam KUMARA Lemah Karuhun, pendekatan ini diterapkan secara utuh. Pertunjukan ini memadukan seni peran, musik etnik, tarian, seni bela diri pencak silat, tata artistik, serta nilai-nilai ekologis dan kearifan lokal dalam satu kesatuan narasi yang kuat. Di sini, anak-anak tidak diposisikan sekadar sebagai penampil latar, melainkan sebagai subjek utama yang memaknai setiap gerakan dan cerita. Nilai kebersamaan, kejujuran, keberanian, sportivitas saat kalah, rasa syukur saat menang, hingga rasa hormat pada alam dan leluhur, ditanamkanlewat pengalaman hidup di atas panggung.
Konsep ini sangat sejalan dengan visi Gubernur Jawa Barat, yang berulang kali menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh hanya mencetak anak yang pintar secara akademik namun kosong secara budaya dan karakter. “Dan teater adalah laboratorium kehidupan terbaik karena di sana anak belajar merasakan apa yang dirasakan orang lain, belajar memimpin, belajar bekerja sama, dan belajar menjadi manusia yang beradab,” ujarNya.
Lebih jauh, Indra Gandara menegaskan bahwa KUMARA hadir bukan sekadar sebagai tontonan seni semata, melainkan sebuah gerakan kebudayaan besar. Gerakan ini berupaya mengembalikan panggung pertunjukan ke fungsi aslinya: menjadi ruang tumbuh kembang imajinasi, ruang pendidikan nilai, dan ruang pembentuk kesadaran kolektif bagi generasi masa depan. Dukungan dari Kementerian Kebudayaan melalui Dana Indonesiana (kini Dana IndonesiaRaya) dan pengelolaan pendanaan oleh LPDP semakin mengukuhkan bahwa negara menaruh harapan besar pada pendekatan ini sebagai model pemajuan kebudayaan berbasis pendidikan karakter.
“Pesan leluhur kami sampaikan kembali: ‘Lain kudu balik ka baheula, tapi geus wayah malikkeun pikir’. Kita tidak perlu kembali hidup di masa lalu, tapi kita harus mengembalikan cara berpikir bahwa kemajuan dan teknologi tidak boleh membuat kita kehilangan jati diri. Seni pertunjukan berbasis budaya adalah jembatan emasnya,” tambah Indra.
Melihat antusiasme peserta latihan yang datang dari berbagai usia dan latar belakang, serta dukungan luas dari masyarakat, sekolah, KUMARA Lemah Karuhun yang akan digelar 14 Juni 2026 mendatang di Gedung Juang Kota Sukabumi (pukul 16.00 dan 19.00 WIB) diprediksi akan menjadi tonggak sejarah baru. Sebuah bukti seruan pemimpin untuk menjadikan seni sebagai tulang punggung pendidikan karakter, telah dijawab dengan karya agung yang siap melahirkan generasi cerdas, berbudi luhur, dan mencintai akar budayanya sendiri.
Bagi Indra Gandara dan timnya, ini baru permulaan. “Setelah Sukabumi, model ini harus menyebar ke seluruh Jawa Barat dan Indonesia. Agar setiap anak bangsa mendapatkan haknya untuk tumbuh menjadi manusia yang tidak hanya pintar otaknya, tapi juga kaya hatinya dan kuat karakternya,” pungkasnya.(*)






