LINGKARPENA.ID | Malam itu, Kamis 9 Januari 2026, Sungai Curug Darismin mengalir tenang seperti biasanya. Gelap mulai menutup kawasan Kampung Cikeresek, Desa Purawasedar, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, selepas azan magrib berkumandang. Bagi sebagian warga, waktu itu adalah saat kembali ke rumah, menutup hari dengan istirahat. Namun bagi Saepul Rohman dan Ikoh, malam justru menjadi waktu untuk mencari rezeki dari sungai.
Dengan senter kepala terikat di dahi, keduanya menyusuri aliran Curug Darismin. Cara itu dikenal warga sebagai “ngobor”, teknik tradisional menangkap ikan dengan bantuan cahaya lampu di malam hari. Sungai itu bukan tempat asing bagi mereka. Sejak kecil, aliran air dan bebatuan Curug Darismin sudah menjadi bagian dari keseharian.
Langkah Saepul terhenti sekitar sepuluh meter dari titik awal ia turun ke sungai. Di bawah sorot lampu senternya, sesuatu tampak mengambang di antara bebatuan. Sekilas, bentuknya menyerupai bangkai hewan ternak.
“Saya kira bangkai anak sapi atau domba,” kata Saepul lirih saat mengingat kembali peristiwa itu.
Rasa penasaran mendorongnya mendekat. Cahaya senter semakin terang menembus gelap air sungai. Saat jarak kian dekat, dugaan itu runtuh seketika. Benda yang semula disangka bangkai hewan ternyata tubuh manusia.
“Malam tadi saya pergi ngobor sama keponakan saya. Waktu saya terjun ke kali jaraknya kurang lebih 10 meteran. Begitu saya dekati, ternyata jasad manusia,” tuturnya.
Tubuh itu tergeletak tengkurap, tanpa pakaian. Bau busuk menyengat. Kulit punggung tampak mengelupas, sementara tangan dan kaki sudah sulit dikenali bentuknya. Yang paling mengejutkan, bagian kepala tidak lagi ada.
“Posisinya tengkurap. Kepalanya sudah nggak ada. Saya langsung gemetar,” ucap Saepul.
Ikoh yang berada tak jauh dari Saepul ikut terpaku. Keduanya saling berpandangan, diliputi rasa takut dan tak percaya. Sungai yang selama ini menjadi sumber penghidupan mendadak berubah menjadi lokasi yang menebarkan kengerian.
Tanpa banyak bicara, mereka memutuskan kembali ke permukiman. Senter yang tadinya menjadi alat penerang mencari ikan, malam itu justru menjadi saksi bisu penemuan mengerikan. Sesampainya di kampung, Saepul dan Ikoh segera melaporkan apa yang mereka lihat kepada warga dan aparat setempat.
Tak lama berselang, suasana Curug Darismin berubah. Petugas kepolisian dari Polsek Ciracap datang ke lokasi. Garis polisi dipasang, sementara warga berdatangan dengan rasa ingin tahu bercampur cemas. Lampu-lampu senter aparat menerangi sungai yang sebelumnya sunyi.
Kapolsek Ciracap, AKP Taopick Hadian, membenarkan kondisi jasad yang ditemukan warga dalam keadaan rusak parah.
“Mayat ditemukan dalam kondisi tanpa kepala, tanpa pakaian, posisi telungkup. Karena kondisinya sudah hancur, jenis kelamin korban pun belum bisa dipastikan,” ujar AKP Taopick.
Hasil pemeriksaan awal dari petugas Puskesmas Ciracap memperkirakan jasad tersebut telah meninggal dunia sekitar sepuluh hari. Kerusakan tubuh diduga akibat terlalu lama terendam air dan benturan dengan bebatuan sungai. Sementara putusnya kepala masih menjadi tanda tanya besar.
Malam itu, jasad korban dievakuasi untuk penanganan lebih lanjut. Sungai Curug Darismin kembali gelap, namun cerita tentang cahaya senter dan jasad tanpa kepala itu terlanjur menyebar dari mulut ke mulut warga.
Bagi Saepul, malam tersebut akan selalu diingat bukan sebagai malam mencari ikan, melainkan malam ketika ia berhadapan langsung dengan kengerian.
“Biasanya sungai ini tempat cari makan. Sekarang tiap lihat ke sana rasanya masih kebayang,” ujarnya pelan.
Kini, polisi masih terus menyelidiki kasus tersebut. Sementara warga Kampung Cikeresek hanya bisa berharap, misteri jasad tanpa kepala yang ditemukan di Curug Darismin segera terungkap, dan sungai yang selama ini menjadi bagian hidup mereka kembali menghadirkan rasa aman, bukan ketakutan.






