LINGKARPENA.ID | Sore itu, Selasa (14/4/2026), suasana di ruas jalan alternatif Nagrak–Cibadak, tepatnya di Kampung Legok Picung dan Babakan, Desa Karangtengah, Kecamatan Cibadak, tampak berbeda. Di tengah aktivitas warga dan lalu lintas yang tetap berjalan, sejumlah petugas berjibaku menyemprot badan jalan yang tertutup tanah dan berubah licin.
Kegiatan mitigasi yang dimulai sekitar pukul 15.30 WIB ini merupakan respons cepat atas laporan masyarakat terkait kondisi jalan kabupaten ruas Karangtengah–Nagrak yang membahayakan pengguna. Tanah yang terbawa aktivitas truk pengangkut material proyek Tol Bocimi Seksi III membuat permukaan jalan menjadi licin, terutama saat hujan turun.
Tim gabungan dari BPBD Kabupaten Sukabumi melalui Pusdalops, bersama Damkar Posko V Cibadak, P2BK Nagrak dan Cibadak, pihak proyek, serta warga setempat, turun langsung melakukan penyemprotan untuk membersihkan jalan dari lumpur dan tanah yang menumpuk.
Koordinator Lapangan Pusdalops BPBD Kabupaten Sukabumi, Daeng Sutisna, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mitigasi risiko kecelakaan yang bisa terjadi sewaktu-waktu.
“Ini adalah tindak lanjut dari laporan masyarakat. Kondisi jalan yang licin sangat berbahaya, terutama bagi pengendara roda dua. Kami bersama unsur terkait melakukan penyemprotan untuk mengurangi risiko kecelakaan dan memastikan akses jalan tetap aman dilalui,” ujar Daeng.
Menurutnya, sinergi lintas sektor menjadi kunci dalam penanganan cepat di lapangan. Selain membersihkan jalan, pihaknya juga mengingatkan kepada perusahaan pelaksana proyek agar lebih memperhatikan dampak lingkungan sekitar, termasuk kebersihan jalan yang dilalui kendaraan proyek.
Di sisi lain, warga setempat menyambut baik langkah cepat tersebut. Mereka berharap kegiatan serupa dapat dilakukan secara berkala, terutama selama aktivitas proyek masih berlangsung.
Dengan adanya penyemprotan ini, kondisi jalan berangsur membaik dan lebih aman dilalui. Namun demikian, BPBD mengimbau para pengguna jalan untuk tetap berhati-hati, terutama saat melintasi jalur alternatif yang rawan terdampak aktivitas proyek.
Langkah kecil yang dilakukan sore itu menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pemerintah, petugas lapangan, dan masyarakat mampu menghadirkan solusi nyata—mengembalikan rasa aman di jalan yang setiap hari dilalui warga.






