SUKABUMI – Tidak semua pengabdian membutuhkan panggung. Tidak setiap kebaikan harus disaksikan banyak orang. Terkadang, makna kehadiran seseorang justru terasa dari hal-hal sederhana: sebuah rumah yang kembali layak dihuni, uluran tangan bagi anak yatim, perhatian kepada lansia yang hidup dalam keterbatasan, hingga bantuan bagi masyarakat yang tengah menghadapi kesulitan.
Nilai-nilai itulah yang tergambar dalam perjalanan pengabdian AKBP Beni Cahyadi, Kapolres Sukabumi. Dari Cianjur, Bogor, hingga kini bertugas di Kabupaten Sukabumi, kepedulian sosial disebut menjadi bagian dari kiprahnya di tengah masyarakat.
Seragam kepolisian yang dikenakannya membawa tanggung jawab besar dalam menjaga keamanan dan ketertiban. Namun, di balik tugas tersebut, terdapat sisi pengabdian lain yang menyentuh kehidupan masyarakat secara langsung.
Kepedulian itu hadir dalam berbagai bentuk. Mulai dari membantu orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), menyambangi warga lanjut usia yang membutuhkan perhatian, memberikan santunan kepada anak yatim, hingga mendukung perbaikan rumah tidak layak huni (rutilahu).
Bantuan juga menyentuh kegiatan keagamaan, pengajian, serta pembangunan infrastruktur jalan yang dibutuhkan masyarakat. Sejumlah rumah pun disebut telah mendapatkan bantuan perbaikan melalui kepedulian tersebut.
Bagi warga yang menerima manfaatnya, bantuan semacam itu bukan sekadar pemberian materi. Rumah yang lebih layak dapat menghadirkan rasa aman bagi penghuninya. Santunan bagi anak yatim menjadi bentuk perhatian yang menguatkan. Sementara dukungan terhadap pembangunan jalan dapat membuka akses yang lebih baik bagi aktivitas sehari-hari masyarakat.
Di tengah berbagai kegiatan sosial tersebut, ada satu sikap yang menarik perhatian. AKBP Beni Cahyadi tidak menghendaki setiap kegiatan kemanusiaan yang dilakukannya selalu menjadi konsumsi publik, baik melalui pemberitaan maupun media sosial.
Baginya, esensi membantu sesama tidak terletak pada seberapa luas sebuah kegiatan diketahui orang, melainkan pada ketulusan dan manfaat yang dirasakan oleh mereka yang membutuhkan.
“Saya menjadi Kapolres bukan untuk memperkaya diri. Saya sangat setuju dengan slogan Polri, Polisi Bersama Masyarakat. Jabatan ini adalah amanah dan harus bisa memberikan manfaat bagi orang lain,” demikian pesan yang disampaikannya.
Pandangan itu juga tercermin dari alasannya untuk tidak selalu mempublikasikan aktivitas sosialnya.
“Kenapa dari dulu saya tidak mau kegiatan seperti ini di-up melalui berita maupun media sosial? Karena saya merasa tidak perlu semuanya diketahui orang. Cukup Allah SWT yang mengetahui apa yang kita lakukan. Kalau kita bisa membantu orang lain, lakukan saja dengan ikhlas,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menjadi gambaran tentang cara memaknai pengabdian. Bahwa kepedulian tidak harus selalu diiringi tepuk tangan, dan kebaikan tidak kehilangan nilainya hanya karena tidak diketahui banyak orang.
Kepedulian yang Dirasakan Masyarakat Pajampangan
Jejak kepedulian itu turut mendapat perhatian dari tokoh masyarakat Pajampangan, H. Yudi Pratama, yang dikenal dengan sapaan Peci Merah.
Menurut Yudi, berdasarkan pengamatannya, AKBP Beni Cahyadi termasuk sosok yang memberikan perhatian terhadap berbagai kebutuhan masyarakat, termasuk di wilayah Pajampangan.
Ia menilai, kepedulian tersebut tidak hanya berkaitan dengan persoalan keamanan dan ketertiban, tetapi juga menyentuh kebutuhan sosial serta kegiatan kemasyarakatan.
“Dari yang saya tahu, orang yang sering membantu umat dan masyarakat seperti Pak Beni Cahyadi ini memang patut kita apresiasi. Beliau tidak hanya memperhatikan persoalan keamanan, tetapi juga peduli terhadap kebutuhan masyarakat. Mulai dari membantu kegiatan pengajian, pembangunan jalan, hingga berbagai kebutuhan sosial lainnya,” ujar Yudi.
Baginya, pengabdian seorang pejabat tidak semata-mata dinilai dari besarnya program yang dijalankan. Perhatian terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat, kesediaan hadir ketika dibutuhkan, serta kemauan membantu sesuai kemampuan juga merupakan bagian penting dari pelayanan publik.
“Saya melihat sendiri bagaimana bantuan dan kepedulian itu dirasakan masyarakat. Bagi saya, ketika ada orang yang mau meluangkan waktu, tenaga, bahkan membantu secara materi untuk kepentingan umat, tentu itu sesuatu yang patut dihargai. Semoga kepedulian seperti ini terus berlanjut,” tambahnya.
Apresiasi tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa hubungan antara aparat dan masyarakat tidak cukup dibangun melalui pelaksanaan tugas formal semata. Kedekatan juga tumbuh dari kepercayaan, perhatian, dan kepedulian terhadap persoalan yang benar-benar dihadapi warga.
Ketika Jabatan Menjadi Jalan untuk Berbuat Baik
Dalam kehidupan masyarakat, kebaikan sering kali hadir melalui tindakan yang tampak sederhana. Bagi keluarga yang tinggal di rumah tidak layak huni, bantuan perbaikan dapat menjadi awal kehidupan yang lebih aman. Bagi anak yatim, perhatian yang diberikan dapat menghadirkan rasa bahwa mereka tidak berjalan sendirian. Bagi warga lanjut usia, kunjungan dan kepedulian menjadi pengingat bahwa keberadaan mereka tetap berarti.
Hal-hal seperti itulah yang membuat aksi sosial memiliki dimensi kemanusiaan yang lebih luas. Bantuan bukan hanya tentang apa yang diberikan, tetapi juga tentang kepedulian yang menyertainya.
Dalam konteks pengabdian kepolisian, kehadiran di tengah masyarakat juga dapat menjadi jembatan untuk membangun kedekatan dan kepercayaan. Polisi tidak hanya hadir ketika terjadi persoalan hukum, tetapi juga dapat mengambil bagian dalam upaya sosial yang membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Perjalanan AKBP Beni Cahyadi dari Cianjur, Bogor, hingga Sukabumi menjadi gambaran bahwa wilayah tugas boleh berubah, tetapi semangat membantu sesama dapat terus dibawa ke mana pun pengabdian berlanjut.
Pada akhirnya, jabatan memiliki masa, tugas memiliki batas, dan penugasan dapat berganti. Namun, manfaat yang dirasakan masyarakat berpotensi meninggalkan kesan lebih panjang daripada masa seseorang menduduki sebuah posisi.
Ada kebaikan yang dilakukan agar mendapat pengakuan. Ada pula kepedulian yang dijalankan tanpa banyak bicara, dengan keyakinan bahwa setiap pertolongan memiliki nilai tersendiri.
Sebab, bagi mereka yang pernah merasakan manfaatnya, kebaikan tidak selalu membutuhkan berita untuk dikenang. Terkadang, cukup dengan perubahan kecil dalam kehidupan, sebuah kepedulian telah menemukan maknanya.
Dan ketika jabatan kelak berganti, jejak kemanusiaan itulah yang diharapkan tetap tinggal di hati masyarakat.






