LINGKARPENA.ID | Bagi Jatnika (42) tahun, atau biasa akrab dipanggil Bah Ajat, menjadi relawan adalah sebuah panggilan jiwa yang tidak bisa ia abaikan begitu saja. Selalu ada hikmah, kenangan manis, serta pelajaran berharga yang bisa diambil setiap kali beliau terjun ke lokasi untuk membantu warga terdampak.
Bah Ajat mengaku sering belajar ilmu sabar kalau lagi turun ke lapangan Awalnya ia merasa bingung, setiap kali terjun ke lokasi bencana, dirinya tidak paham kenapa ada saja sebagian dari mereka yang terkena musibah bisa menerima dengan lapang dada, begitu legowo dan sabar.
“Melihat mereka seperti itu membuat kita merasa malu. Karena mereka yang harusnya bisa mengeluh, tapi memilih untuk berlapang dada, percaya sama Allah ada maksud di balik ini semua. Kita jadi merasa tertampar gitu,” ungkap Bah Ajat.
Oleh karena itu, sebagai seorang relawan, Bah Ajat merasa bahagia jika bisa memberikan manfaat dan menghibur para korban terdampak. Ia sangat senang bisa melihat mereka kembali tersenyum meski masih berada dalam situasi sulit.
Tentunya, menjadi relawan bukan hal mudah. Selalu ada tantangan ketika datang ke lokasi asing yang medannya tidak kita kenal sebelumnya. Namun, Bah Ajat menganggap, jika niat kita untuk mencari Ridho Allah, semuanya akan terasa mudah dan ringan.
“Teman-teman relawan di manapun, siapapun yang bergerak di bidang kemanusiaan, jangan pernah ada rasa jumawa. Tapi teruslah ingat, amalan apa yg belum kita lakukan hari ini. Semoga saja lelah kita sebagai relawan menjadi pemberat timbangan amal kita kelak,” ujar Bah Ajat.
Bagi Bah Ajat menginjakan kakinya ke lokasi bencana bukanlah hal baru. Ketika gempa menerjang Cianjur beberapa waktu lalu, Bah Ajat harus rela meninggalkan keluarga tercinta demi bisa membantu korban terdampak di sana.
Sementara, Nursaidah, isteri Bah Ajat, sangat mendukung kegiatan sang suami. Ditinggal suami berhari hari untuk kegiatan kemanusiaan bukan hal aneh bagi dirinya. Ia paham benar tugas mulia yang dijalani suami tercintanya.






