Gunung Tumpeng Pulau Kunti Dua Wajah Purba Satu Kisah Jutaan Tahun Ciletuh

Kondisi Gunung Tumpeung Pulau Kunti Saat ini. Poto : Dok CPUGGP

SUKABUMI | Gunung Tumpeng dan Pulau Kunti menghadirkan dua wajah berbeda dari perjalanan panjang pembentukan bentang alam Ciletuh. Dua situs ini adalah buku terbuka yang menceritakan bagaimana Samudera Purba berubah menjadi daratan yang kita pijak hari ini.

 

 

 

Gunung Tumpeng berdiri gagah memperlihatkan ekspresi morfologi perbukitan yang menjulang dengan bentuk menyerupai kerucut (Triangular Facet). Bentuknya tegas, seperti piramida alam yang dipahat oleh kekuatan tektonik.

Baca juga:  JTM Siap Hijaukan Pajampangan Dengan Lumbung Rahayu Mikro Nano   
Kondisi Gunung Tumpeung Pulau Kunti Saat ini. Poto : Dok CPUGGP

Sementara itu, di lepas pantai, Pulau Kunti menyimpan rekaman batuan yang mengungkap sejarah aktivitas geologi di lingkungan laut purba. Di sinilah jejak subduksi, penunjaman lempeng samudera, masih terekam abadi dalam lapisan batuan.

Perbedaan bentuk tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana proses geologi bekerja dalam ruang dan waktu.

Dari Kerucut Daratan Menuju Jejak Laut Purba, prosesnya berlangsung jutaan tahun.

Baca juga:  Kadis Perizinan Sidak dan Tutup Tambang Batu Hijau Tak Berizin Terus berlanjut

Aktivitas tektonik membentuk, melipat, dan mengangkat batuan dari dasar laut ke permukaan. Sementara proses eksogen seperti pelapukan, erosi, dan abrasi terus bekerja tanpa henti, membentuk ulang permukaan bumi hingga menghasilkan lanskap yang kita saksikan saat ini.

“Gunung Tumpeng adalah bukti pengangkatan. Pulau Kunti adalah bukti asal-usul lautnya. Jika digabungkan, kita melihat evolusi lanskap yang lengkap, dari dasar samudera purba menjadi perbukitan Ciletuh yang megah,” jelas tim Geologi CPUGGP.

Baca juga:  Ajang Pencarian Bakat Da'i Polres Sukabumi

Kedua geosite ini menegaskan posisi Ciletuh Palabuhanratu UNESCO Global Geopark sebagai laboratorium alam raksasa, tempat manusia bisa belajar bahwa bumi tidak pernah diam, bumi selalu berevolusi.

Dari Samudera Purba, Untuk Masa Depan Bumi yang Lestari.

Sumber : M. Teguh CPUGGP

Pos terkait