LINGKARPENA.ID | Pemerintah Kabupaten Sukabumi memilih memaksimalkan perbaikan jalan dengan metode hotmix sepanjang tahun 2025. Kebijakan ini diambil karena dinilai lebih hemat biaya, cepat dikerjakan, serta mampu menjangkau lebih banyak ruas jalan yang mengalami kerusakan dibandingkan metode betonisasi.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Sukabumi, Uus Firdaus, mengungkapkan bahwa sebagian besar kegiatan perbaikan jalan tahun lalu menggunakan lapisan aspal hotmix. Menurutnya, pendekatan tersebut memungkinkan pemerintah daerah melakukan penanganan di banyak titik sekaligus dengan anggaran yang lebih efisien.
“Selama 2025, perbaikan jalan memang didominasi hotmix. Metode ini lebih efisien sehingga bisa menjangkau lebih banyak lokasi jalan rusak,” ujar Uus Firdaus, Senin (19/1/2026).
Ia menjelaskan, metode pengecoran beton tetap diterapkan, namun hanya pada ruas-ruas tertentu yang memiliki tingkat beban lalu lintas tinggi, seperti jalur yang sering dilalui kendaraan berat dan bertonase besar.
“Pengecoran kami fokuskan di ruas prioritas. Biayanya relatif lebih mahal, bahkan bisa mencapai dua kali lipat dibanding pengaspalan, sehingga penggunaannya harus selektif,” jelasnya.
Uus menambahkan, jalan dengan konstruksi beton memang memiliki keunggulan dari sisi kekuatan dan umur layanan yang lebih panjang. Namun, keterbatasan anggaran membuat pemerintah daerah harus memilih strategi yang paling realistis agar pemerataan perbaikan jalan tetap tercapai.
“Beton itu lebih tahan lama, tetapi dengan kondisi anggaran yang terbatas dan jumlah jalan rusak yang masih cukup banyak, hotmix menjadi pilihan paling rasional,” tandasnya.
Ia memastikan, pada tahun berjalan metode hotmix masih akan menjadi pilihan utama dalam program peningkatan dan pemeliharaan jalan, agar manfaat pembangunan infrastruktur dapat dirasakan secara lebih merata oleh masyarakat di seluruh wilayah Kabupaten Sukabumi. (adv).






