LINGKARPENA.ID | Direktorat Pengembangan Masyarakat Agromaritim IPB University menggelar kegiatan sosialisasi Program PKM-BIMA Pengabdian di Kelurahan Situgede, Bogor Barat. Kegiatan yang berlangsung di sekretariat Kelompok Tani Dewasa (KTD) Saluyu ini dihadiri oleh perwakilan KTD Saluyu dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Geulis, dengan total peserta sebanyak 20 orang.
Sosialisasi ini merupakan langkah awal dari pelaksanaan Program BIMA yang bertujuan untuk mendekatkan kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui pendekatan kolaboratif, partisipatif, dan berbasis potensi lokal. Kelurahan Situgede dipilih sebagai wilayah dampingan karena memiliki potensi pertanian yang besar serta keterlibatan aktif masyarakat dalam kelompok-kelompok tani.
Dalam kegiatan yang menghadirkan Dr. Ranti Wiliasih sebagai narasumber ini, tim pengabdian memaparkan tujuan program, tahapan pelaksanaan, serta peran dan kontribusi yang diharapkan dari masyarakat. Selain itu, diskusi interaktif juga dilakukan untuk menggali potensi, kebutuhan, serta masukan dari para peserta sebagai bagian dari pemetaan awal.
Ketua Tim Pengabdian, Dr. Ranti Wiliasih, menyampaikan harapannya agar program ini dapat menjadi jembatan pengembangan ekonomi lokal melalui komoditas talas.
“Program BIMA bukan hanya pengabdian satu arah, tetapi ruang kolaborasi. Kami ingin tumbuh bersama masyarakat. Dengan menggali potensi dan menyusun program berdasarkan kebutuhan mereka, kami optimis talas bisa naik kelas dan memberi nilai tambah yang lebih besar bagi petani,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua KTD Saluyu, Abidin, menyambut baik kehadiran program ini. “Kami senang IPB datang langsung ke sini, bukan hanya membawa ilmu tapi juga mendengarkan kami. Selama ini kami tanam talas tapi belum tahu cara mengolah dan memasarkannya. Mudah-mudahan program ini jadi jalan baru bagi kelompok tani kami,” ungkapnya penuh antusias.
Melalui sosialisasi ini, diharapkan terbangun pemahaman yang utuh mengenai arah kegiatan pengabdian, tercipta komunikasi dua arah yang positif antara tim pelaksana dan masyarakat, serta terbentuknya rasa memiliki (sense of belonging) terhadap program. Program ini juga diharapkan menjadi awal dari kemitraan kolaboratif yang berkelanjutan dalam meningkatkan nilai tambah komoditas talas melalui pendekatan hilirisasi yang berbasis pemberdayaan masyarakat lokal.**






