Jampang Ngabhuana 3: Menyibak Jejak Budaya dan Sasakala Tanah Jampang

Gambar Istimewa| dok.jtm

LINGKARPENA.ID | Jejak sejarah, seni, tradisi dan identitas masyarakat Jampang akan kembali dihidupkan melalui panggung budaya Jampang Ngabhuana 3. Paguyuban Jampang Tandang Makalangan (JTM) kembali menggelar perhelatan tahunan yang tahun ini mengusung tema “Muka Lawang Jampang”.

Puncak kegiatan dijadwalkan berlangsung pada 10–11 September 2026 di Lapang Lodaya Setra, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi.

Bukan sekadar pertunjukan hiburan, Jampang Ngabhuana 3 dikemas sebagai ruang untuk mempertemukan masyarakat dengan akar budaya dan kearifan lokal yang tumbuh di wilayah Pajampangan.

Sejumlah agenda seni dan budaya telah disiapkan. Mulai dari pameran UMKM, Pasanggiri Jaka Dara, lomba mewarnai bagi peserta TK/PAUD, pagelaran seni Cepet Laras Sekar, musik etnik Paras Bhuana Bogor, hingga penampilan musik reggae Ombak Reggae.

Nuansa budaya Sunda juga akan semakin terasa melalui Pasanggiri Kawih Sunda, Lomba Jampana, serta lomba kostum budaya.

Baca juga:  Festival Pencak Silat Seni Kapolres Cup1 2025 Resmi Ditutup

Tak hanya seni pertunjukan, olahraga voli putri turut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan. Seluruh agenda tersebut dirancang untuk menghadirkan suasana perhelatan budaya yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat.

Panitia Jampang Ngabhuana 3, Rudiana Marvel, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan sebagai sebuah pertunjukan, tetapi juga menjadi momentum untuk mengenalkan dan menjaga seni budaya Jampang agar tetap hidup di tengah masyarakat.

“Selain pementasan seni dan budaya, kami juga menghadirkan berbagai kegiatan, mulai dari olahraga voli putri, pasanggiri kawih Sunda, lomba jampana hingga lomba kostum budaya. Semuanya menjadi bagian dari Jampang Ngabhuana 3,” ujar Rudiana.

Salah satu pertunjukan yang diprediksi menjadi magnet utama adalah drama kolosal tentang pengorbanan dan gugurnya Surabujangga dalam sasakala Surade.

Baca juga:  SMA Negeri 1 Kabandungan “Mieling Poe Basa Indung Internasional”

Cerita tersebut akan membawa penonton menyusuri kembali kisah yang menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Surade. Di atas panggung, sejarah dan legenda tidak hanya diceritakan melalui kata-kata, tetapi divisualisasikan dalam gerak, dialog, musik dan suasana dramatik.

Pementasan drama kolosal itu sekaligus menjadi upaya menghadirkan kembali cerita lokal kepada generasi muda. Sebab, di tengah derasnya perkembangan zaman, kisah-kisah yang tumbuh dari tanah sendiri memiliki ruang penting untuk terus diwariskan.

“Yang ingin kami hadirkan adalah suasana kebersamaan sekaligus kecintaan terhadap seni, budaya dan sejarah Jampang. Mudah-mudahan masyarakat bisa menikmati seluruh rangkaian acara yang sudah kami persiapkan,” kata Rudiana.

Baca juga:  Berburu Terubuk Akibat Bosan Makan Daging Sepekan Setelah Lebaran Salah Satu Kebiasaan Orang Jampang   

Kemegahan Jampang Ngabhuana 3 akan semakin lengkap dengan rencana kehadiran Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Kehadiran orang nomor satu di Jawa Barat tersebut menjadi salah satu momen yang dinantikan masyarakat Pajampangan.

Sementara itu, sebagai penutup rangkaian acara, panitia menghadirkan pagelaran wayang golek dengan dalang Wawan Dede Amung Sutarya.

Dari sasakala Surade hingga wayang golek, dari kawih Sunda hingga musik etnik, Jampang Ngabhuana 3 menjadi gambaran bagaimana sebuah perhelatan budaya dapat menjadi ruang perjumpaan antara masa lalu, masa kini dan masa depan.

Sebuah panggung yang bukan hanya menyajikan tontonan, tetapi juga mengajak masyarakat untuk kembali membuka “lawang” Jampang—menengok warisan budaya yang lahir dari tanah Pajampangan dan menjadikannya tetap hidup melalui generasi ke generasi.

Pos terkait