Janji Kerja Berujung Nestapa, 17 Warga Jabar Terlantar di Mamuju

LINGKARPENA.ID | Harapan untuk memperbaiki nasib justru berubah menjadi cerita getir bagi belasan warga Jawa Barat. Sebanyak 17 orang, terdiri dari 15 warga Kabupaten Sukabumi dan 2 warga asal Bandung, kini terlantar di Mamuju, Sulawesi Barat, setelah diduga menjadi korban penipuan berkedok tawaran pekerjaan.

 

Kisah mereka mencuat ke publik melalui sebuah video berdurasi 1 menit 39 detik yang beredar luas. Dalam rekaman itu, tampak wajah-wajah lelah dengan sorot mata penuh kecemasan. Mereka berkumpul di sebuah rumah sederhana yang kini menjadi tempat berteduh sementara, tanpa kepastian kapan penderitaan ini akan berakhir.

 

Salah seorang korban menuturkan, perjalanan mereka berawal dari janji manis seorang mandor yang menawarkan pekerjaan dengan iming-iming uang muka atau kasbon sebesar Rp1,5 juta. Tawaran itu menjadi harapan bagi mereka yang ingin memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.

Baca juga:  Rumah Dua Lantai di Kota Sukabumi Tiba-tiba Ambruk, Ini kata BPBD

 

“Awalnya kami dijanjikan kerja, bahkan dikasih kasbon. Tapi setelah sampai di sini, pekerjaannya tidak ada. Mandornya malah hilang begitu saja,” ujar salah satu korban dalam video tersebut.

 

Sesampainya di Mamuju, kenyataan pahit harus mereka terima. Tidak ada pekerjaan seperti yang dijanjikan. Sosok mandor yang membawa mereka pun menghilang tanpa jejak, meninggalkan para pekerja dalam kondisi tanpa uang dan tanpa arah.

 

Hari-hari berikutnya diisi dengan ketidakpastian. Bekal yang dibawa dari kampung halaman habis untuk biaya perjalanan. Kini, mereka harus bertahan dalam kondisi serba kekurangan, bahkan untuk sekadar makan.

Baca juga:  Banjir dan Longsor di Jampangtengah, Belasan Warga Mengungsi

 

“Kami sudah dua hari tidak makan. Uang sudah habis, mau kerja juga tidak ada. Kami benar-benar bingung harus bagaimana,” ungkap korban lainnya dengan suara lirih.

 

Kondisi semakin memprihatinkan setelah dua orang di antara mereka dilaporkan jatuh sakit. Namun, keterbatasan biaya membuat akses terhadap layanan kesehatan menjadi hal yang sulit dijangkau.

 

“Ada teman yang sakit, tapi kami tidak punya uang untuk berobat. Kami di sini benar-benar tidak tahu harus mengadu ke siapa,” kata korban.

Baca juga:  Polisi Terlibat Evakuasi Korban Longsor dengan Warga

 

Di tengah keterpurukan itu, satu-satunya harapan kini tertuju pada pemerintah daerah. Para korban memohon perhatian dan bantuan agar bisa kembali ke kampung halaman dengan selamat.

 

“Kami mohon kepada Bapak Gubernur Jawa Barat untuk membantu kami pulang. Di sini kami sudah tidak punya apa-apa,” ucap mereka penuh harap.

 

Peristiwa ini menjadi pengingat pahit tentang risiko di balik tawaran kerja yang tidak jelas. Di balik impian mencari nafkah, terselip ancaman yang bisa menjerumuskan siapa saja pada situasi yang jauh dari bayangan. Kini, yang tersisa bagi para korban hanyalah harapan—agar segera ada uluran tangan yan

Pos terkait