Kenapa ‘Suara’ Pilpres dan Pileg di Kecamatan Lengkong Rendah? Ini Penjelasan KPU, Sekda, Dewan dan Forkopimcam

FOTO: Momen potobersama Komisioner KPU, Sekda, Kesbangpol, Anggota Dewan dan Forkopimcam Kecamatan Lengkong di Kirab Pilkada yang digelar di Kecamatan Lengkong Sabtu (12/10/2024).| A Hoer

LINGKARPENA.ID | Pada acara Jalan Santai dan Peluncuran Kirab Pilkada Serentak, digelar di Kecamatan Lengkong, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (12/10) Lingkar pena.id berkesempatan mewawancarai beberapa tokoh sentral di kegiatan tersebut.

Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Sukabumi, Samingun, menjadikan alasan bahwa rendahnya perolehan suara Kecamatan Lengkong di Pemilu kemarin, sehingga acara digelar disana.

Dijelaskan Samingun, karena berdasarkan hasil Pemilu nasional suara dari Kecamatan Lengkong tidak sampai 60 persen. Dengan adanya kegiatan gebyar tersebut diharapkan ada partisipasi pemilih.

“Dengan kegiatan ini supaya warga masyarakat mengetahui dan ada ketertarikan untuk menyalurkan hak pilihnya di pemilu pada 2024 ini,” jelas Samingun saat diwawancara awak media di lokasi kegiatan.

Senada dengan Samingun, dipilihnya Kecamatan Lengkong sebagai tempat kegiatan, menurut Sekda Ade Suryaman, hasil evaluasi pasca pelaksanaan pemilu kemarin perolehan suara Kacamatan Lengkong terendah di Kabupaten Sukabumi.

Baca juga:  Belum Penuhi Persayaratan, Ratusan Bacaleg Terancam Dicoret KPU Kabupaten Sukabumi

“Adanya kegiatan ini diharapkan timbul kesadaran warga untuk berpartisipasi di Pilkada mendatang. Saya mengharapkan nanti tanggal 27 jangan lupa warga masyarakat harus memilih jangan jadi golput,” sebutnya.

Dirinya juga berharap, kegiatan ini dapat berjalan dengan baik. Selain itu, sosialisasinya pun bisa ampuh dan sampai ke khalayak luas. Sehingga, target pemilih di Pilkada 2024 meningkat.

“Melalui kegiatan ini, saya berharap sosialisasi akan sampai ke tingkat bawah. Sehingga, masyarakat tergerak untuk menyalurkan hak pilihnya. Mohon kerjasamanya dan bantu kami untuk sosialisasi ke masyarakat,” pungkas H. Ade.

Sementara anggota DPRD Kabupaten Sukabumi Fraksi Partai Golkar, Asti Mulyawati, menyatakan hal yang sama.

“Diaharapkan pemilih meningkat, yang tadinya 52 persen, minimal ke angka 60 sampai 70 persen, ” ujarnya.

Baca juga:  RSUD R Syamsudin SH dan KPU Tandatangani Perjanjian Pemeriksaan Kesehatan Bacalon Walikota dan Wakil Walikota Tahun 2024

Kata dia, adayan peningkatan partisipan masyarakat Kecamatan Lengkong pada pelaksanaan Pilkada 2024 menjadi fokus perhatiannya.

“Saya sebagai salah satu peserta Pemilu kemarin dan juga sebagai kader partai saya terpanggil untuk melakukan itu,” jelas Asti.

Asti berpendapat, kalau masyarakat tidak terketuk dengan acara acara gebyar, ia berusaha akan menyentunya dengan cara lain, salah satunya sosialisasi door to door, dan meningkatkan sosialisasi ke masyarakat.

Camat Lengkong Ade Rikman, S.Ag, A.Kp mengatakan, Kirab dan Jalan Santai dalam rangka Sosialisasi partisipasi PIlkada 2024 ini sangat membantu Forkopimcam, PPK dan Panwascam juga stakeholder lainnya dalam ikhtiar meningkatkan partisipasi warga masyarakat Kecamatan Lengkong yang sudah terdaftar dalam DPT agar datang ke TPS untuk menyalurkan suaranya.

Baca juga:  Debat Kedua Calon Bupati Sukabumi di Luar Kota, Ini Lokasinya

“Tentu ini sangat diharapkan oleh kita semua. Acara tersebut juga merupakan tambahan motivasi dan support bagi kami untuk bekerja dan mensosialisasikan Pilkada 2024 sehingga partisipasi warga masyarakat meningkat,” papar Ade Rikman.

Forkopimcam Lengkong tentunya berharap dan berpesan kepada masyarakat untuk selalu waspada terhadap tindakan yang bersifat propokatif, memecah persatuan dan kesatuan, termasuk kabar yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, hoax.

Camat Lengkong Ade Rikman, mewakili unsur Forkopimcam berharap masyarakatnya mau berperan aktif dalam pelaksanaan pemilu kada Kabupaten Sukabumi tahun 2024 mendatang.

Rendahnya perolehan suara di Kecamatan Lengkong pada Pemilu dan Pileg kemarin, tentunya banyak faktor pemicu. Apakah sosialisasinya yang tidak tepat? Atau kesadaran masyarakatnya yang rendah? Ini perlu penelitian lanjutan.

Pos terkait