Konfercab HMI Cabang Sukabumi: Kemerdekaan Kader yang Dikungkung Kepentingan Senior

Gambar Istimewa| sumber: ig hmi

LINGKARPENA.ID | Konferensi Cabang (Konfercab) ke-VVI Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Sukabumi kembali digelar. Momentum ini semestinya menjadi ajang suci regenerasi kepemimpinan, tempat kader menguji gagasan, serta ruang refleksi arah perjuangan organisasi. Namun, idealitas itu tampaknya sulit ditemukan. Seperti biasa, bayang-bayang intervensi senior kembali mewarnai jalannya dinamika.

Dari tahun ke tahun, wajah-wajah lama bermunculan kembali setiap kali konfercab digelar. Para senior, dari level middle hingga settle, tiba-tiba aktif lagi. Mereka hadir di ruang-ruang yang tidak seharusnya, nongkrong di sekretariat, membangun komunikasi intens dengan komisariat, bahkan ikut menyiapkan strategi politik. Entah atas nama kepedulian, nostalgia, atau kepentingan tersembunyi, mereka kembali beratraksi di ruang yang sejatinya bukan lagi milik mereka.

Baca juga:  Dari Sodetan Hingga Normalisasi Kali Cidolog Belum ada Kepastian Semoga di Wujudkan KDM  

Alih-alih menjadi penopang moral, kehadiran sebagian senior justru menciptakan atmosfer intervensi. Mereka tidak lagi sekadar memberi nasihat, tetapi ikut mengarahkan arah dukungan. Tidak lagi membimbing, tapi mengatur. Akibatnya, kader aktif di komisariat yang seharusnya menjadi subjek utama dalam proses regenerasi kehilangan otonomi atas pilihannya sendiri.

Konfercab yang sejatinya forum kader justru menjelma menjadi arena tawar-menawar pengaruh. Suara komisariat sering kali tidak lagi berangkat dari pertimbangan gagasan, tapi hasil kompromi yang disepakati di balik layar oleh para senior. Demokrasi internal akhirnya berjalan di atas skenario yang sudah ditulis lebih dulu, sementara idealisme kader terkunci dalam ruang sempit yang bernama “kesepakatan”.

Baca juga:  Bentuk Solidaritas Terhadap Sesama Aktivis, HMI Cabang Sukabumi: Suara Keadilan untuk Kebebasan Berpendapat dan Menolak Segala Bentuk Kriminalitas

Padahal, ruh HMI sejak awal berdiri adalah kemandirian berpikir. Organisasi ini melahirkan banyak pemimpin bangsa karena keberaniannya menumbuhkan daya kritis dan kemerdekaan berpikir kader muda. Tapi kini, semangat itu perlahan memudar. Regenerasi hanya jadi formalitas, sementara arah organisasi masih ditentukan oleh mereka yang enggan melepaskan bayangan masa lalu.

Sebagian senior tampak terlalu menikmati peran “kingmaker”, ikut mengatur seolah tak punya kesibukan lain di luar forum. Mereka turun gunung dengan dalih menjaga marwah organisasi, tapi sering kali yang terjadi justru perebutan pengaruh. Ironinya, semakin tua organisasi ini, semakin sulit melepaskan diri dari pola lama: bahwa kader muda seolah belum cukup layak menentukan arah sendiri.

Baca juga:  HGN ke 63: Protein Hewani Cegah Stunting

Namun, beginilah kenyataan yang terjadi di lapangan. Dalam setiap momentum penting seperti konfercab, musda, bahkan kongres, kehadiran senior yang beratraksi seolah menjadi hal yang tak terhindarkan. Entah karena masa lalu mereka belum benar-benar usai, atau karena ada kepentingan yang belum selesai.

Dan mungkin, justru di situlah refleksi paling jujur tentang kondisi hari ini: HMI masih terus mencari cara agar bisa benar-benar menegakkan demokrasi kader di atas kemandirian berpikir, bukan di bawah bayang-bayang mereka yang sulit beranjak dari masa lalu.

Oleh: Kader HMI “red”

Pos terkait