Retno Raswaty: Kagumi Museum Megalodon Surade, Sebut Sebagai Sumber Pengetahuan dan Inspirasi Pelestarian Fosil

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IX Jawa Barat, Retno Raswaty, S.S. M. Hum, saat memasuki ruang Museum Megalodon di Desa Gunungsungging Surade, Sukabumi.[Foto: Jajang]

LINGKARPENA.ID | Di sela-sela kegiatan Pertunjukan Teater “Pulo Megalodon Jampang” yang digelar di Kampung Cigintung, Desa Gunungsungging, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IX Jawa Barat, Retno Raswaty, S.S. M. Hum, menyempatkan diri mengunjungi Museum Megalodon yang berada di samping Kantor Desa Gunungsungging, Sabtu (30/5/2026).

 

Dalam kunjungannya, Retno mengaku terkesan dengan keberadaan museum yang menyimpan ratusan fosil laut purba tersebut. Menurutnya, Museum Megalodon bukan sekadar tempat penyimpanan fosil, melainkan sarana edukasi penting untuk mengenalkan sejarah pembentukan bumi kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

 

“Ini museum geologi yang luar biasa karena dapat bercerita tentang bagaimana proses pembentukan bumi dari masa paling tua hingga masa yang lebih muda. Museum ini memberikan gambaran tentang kehidupan jutaan tahun lalu, termasuk berbagai jenis hewan, tumbuhan, dan batuan yang pernah ada,” ujar Retno kepada lingkarpena. id, Sabtu ( 30/5 ).

 

Ia menjelaskan, koleksi yang tersimpan di museum tersebut memperlihatkan jejak kehidupan pada periode sekitar 25 hingga 23 juta tahun lalu, jauh sebelum munculnya manusia di bumi.

 

“Pengetahuan seperti ini sangat penting dikenalkan kepada anak-anak dan masyarakat luas agar mereka memahami sejarah alam serta perkembangan kehidupan di bumi. Museum menjadi ruang belajar yang nyata dan menarik,” katanya.

 

Retno berharap keberadaan Museum Megalodon dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam upaya pelestarian benda-benda bersejarah dan kekayaan geologi yang dimiliki masyarakat.

 

“Harapan kami ke depan semakin banyak museum-museum sejenis yang hadir sebagai pusat pengetahuan. Temuan-temuan fosil dan benda purbakala tidak lagi diperjualbelikan, tetapi dijaga dan dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran bagi masyarakat,” ungkapnya.

 

Menurutnya, keberadaan museum juga dapat menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa fosil, batuan, dan berbagai peninggalan alam merupakan bagian dari warisan bumi yang harus dilestarikan.

 

“Fosil dan batu-batuan bukan hanya benda temuan biasa, tetapi bagian dari sejarah alam yang memiliki nilai ilmu pengetahuan tinggi. Ini harus menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk menjaga dan melestarikannya,” tambah Retno.

 

Museum Megalodon Desa Gunungsungging sendiri dikenal sebagai museum hiu purba pertama di Indonesia dan termasuk salah satu dari sedikit museum serupa di dunia, selain yang berada di Peru, Inggris, dan Amerika Serikat. Lokasinya berjarak sekitar 60 kilometer dari pusat Kota Palabuhanratu.

 

Museum yang diprakarsai oleh Museum Geologi Bandung bersama masyarakat setempat ini lahir dari upaya penyelamatan fosil-fosil yang sebelumnya banyak ditemukan oleh penambang lokal di kawasan Pajampangan sejak tahun 2021. Keberadaannya menjadi bukti sejarah bahwa wilayah selatan Sukabumi pernah menjadi lautan purba jutaan tahun silam.

 

Saat ini, Museum Megalodon menyimpan lebih dari 524 fosil laut purba, di antaranya fosil gigi hiu Megalodon, fosil moluska, tulang paus, gigi dan tulang lumba-lumba purba, hingga ambergris atau muntahan paus yang langka.

 

Selain menjadi destinasi wisata edukasi, museum ini juga dinilai memiliki potensi besar sebagai bagian dari pengembangan kawasan geopark dan pelestarian warisan geologi dunia. Keberadaannya semakin memperkuat posisi Kabupaten Sukabumi sebagai daerah yang kaya akan sejarah alam, budaya, dan potensi geowisata yang bernilai internasional.

Pos terkait