LINGKARPENA.ID | Bisnis dibidang perikanan merupakan salah satu aktivitas yang cukup menjanjikan, serta dapat membantu meningkatkan ekonomi warga disekitar lokasi usaha.
Seperti yang dilakukan oleh Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Lumbung Berkah, di Desa Sukamaju, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi.
Dida Mauludin, Ketua Pokdakan Lumbung Berkah mengaku bahwa kelompoknya saat ini masih tetap konsisten menjalankan aktivitas budidaya ikan air tawar terutama ikan lele.
“Kelompok kami berdiri sejak tahun 2021 lalu, awalnya berangkat dari membaca potensi lingkungan, banyak air mengalir sehingga kami berpikir untuk membuat kolam budidaya ikan,” jelas Dida kepada Lingkarpena.id.
“Kelompok kami fokus pada pembibitan ikan lele, dari awal pendirian kelompok, kisaran panen kami antara 200 ribu-800ribu ekor, ukuran 4-7 CM, persekali siklus panen,” imbuhnya.
Dida juga menyebutkan bahwa kesuksesan kelompoknya tidak lepas dari dukungan berbagai pihak yang turut membersamai perjuangannya dalam menggeluti bidang usaha ini.
“Kita kerjasama dengan semen SCG, alhamdulillah dapet dana CSRnya, juga mendapat dukungan dari Dinas Perikanan Kabupaten Sukabumi,” ujarnya.
“Bentuk dukungan dari Dinas, saat itu (tahun 2022) ada permodalan dari dana alokasi khusus, berupa peralatan (budidaya ikan) permodalan juga ada, selain itu ada pendampingan dari dinas perikanan langsung, dari penyuluhnya, Kabid kan Kadis juga sering berkunjung ke tempat kami,” sambung Dida.
Tidak hanya pembibitan, Pokdakan ini memiliki kolam pembesaran sendiri yang diperuntukan untuk memenuhi permintaan konsumen disekitar kolam (warga setempat), seolah menjalankan konsep hilirisasi, Dida mengaku bahwa pihaknya juga tengah mengembangkan produk olahan makanan yang berbahan dasar ikan lele, diantaranya ikan praktis siap goreng dan abon ikan lele.
Terakhir, Dida menyampaikan harapannya agar dinas terkait tetap menjalin komunikasi dan selalu melakukan pendampingan kepada kelompok-kelompok peternak dan pembudidaya ikan di Kabupaten Sukabumi, terkhusus kelompoknya.
“Jangan sampai putus komunikasi, terus terjalin demi kemajuan para pembudidaya, khususnya di desa sukamaju. Karena yang sulit itu bukan memulai tapi menjaga bagaimana aktivitas usaha ini tetap berjalan, terlebih bagi para perintis,” ungkap Dida.
“Harus ada dampingan khusus secara terus menerus, sebab petani juga mempunyai keterbatasan kemampuan keilmuan budidaya, terlebih bantuan untuk perluasan pasarnya,” tungkasnya.






