Solusi Krisis Pupuk Petani Sukabumi, Mahasiswa KKN Mandiri Universitas Nusa Putra Hadirkan Mesin Pencacah Kompos

Mahasiswa KKN Mandiri Universitas Nusa Putra Sukabumi, momen poto bersama saat berada di lapangan.[foto: ist]

LINGKARPENA.ID | Di tengah semakin sulitnya akses masyarakat terhadap pupuk pertanian, sekelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri Universitas Nusa Putra menghadirkan sebuah langkah konkret yang tidak hanya menjawab kebutuhan petani, tetapi juga mendorong lahirnya kemandirian masyarakat melalui pemanfaatan limbah organik menjadi pupuk kompos.

 

Program tersebut dilaksanakan oleh sepuluh mahasiswa lintas disiplin ilmu di Kampung Batu Karut RT 03 RW 08, Desa Selaawi, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, dengan sasaran utama masyarakat Kampung Margaluyu dan kawasan sekitar Situ Batu Karut.

 

Tim KKN Mandiri terdiri dari Moh Rival Virgiawan (Teknik Sipil) selaku ketua tim, Wardah Lukman, Syifa Rahayu Agustiani, Marni Handayani, Fauzan Fattullah, Imelda Putri Nursyifa dari Program Studi PGSD, serta M. Lutfi, M. Fadhiil Pratama, Randi Rizki Prajagustian, dan Moch Rifqi Septian S dari Program Studi Teknik Mesin.

 

Program unggulan ini lahir dari hasil observasi dan dialog langsung dengan masyarakat. Berdasarkan survei lapangan, warga mengeluhkan semakin langkanya pupuk yang sebelumnya rutin diperoleh melalui kelompok tani. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap aktivitas pertanian masyarakat yang menjadi salah satu penopang ekonomi warga.

Baca juga:  DLH Sukabumi Apresiasi Mahasiswa Nusa Putra Gelar Beach Cleaning Day di Citepus

 

Berangkat dari persoalan tersebut, mahasiswa KKN Mandiri merancang sekaligus membuat mesin pencacah bahan organik sebagai sarana produksi pupuk kompos berbasis limbah pertanian dan sampah organik rumah tangga. Inovasi ini diharapkan mampu menjadi solusi jangka panjang dalam mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pupuk komersial yang semakin sulit diperoleh.

 

Mahasiswa dari Program Studi Teknik Mesin berperan dalam proses desain, fabrikasi, hingga perakitan mesin, sedangkan mahasiswa dari jurusan lainnya menjalankan fungsi edukasi, sosialisasi, dan pendampingan kepada masyarakat mengenai teknik pengolahan sampah organik menjadi pupuk yang bernilai ekonomis.

 

Mesin tersebut bekerja dengan mencacah dedaunan, rumput, ranting kecil, serta berbagai limbah organik lainnya menjadi ukuran yang lebih halus sehingga mempercepat proses dekomposisi dan menghasilkan kompos dengan kualitas yang lebih baik. Selain memberikan manfaat bagi sektor pertanian, program ini juga menjadi bagian dari upaya mengurangi timbunan sampah organik yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

 

Ketua Tim KKN Mandiri Universitas Nusa Putra, Moh Rival Virgiawan, mengatakan bahwa program yang mereka bawa bukan sekadar kegiatan seremonial selama masa pengabdian, tetapi merupakan bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.

Baca juga:  Dukung Fakultas Kedokteran Nusa Putra, Bupati Sukabumi Dipuji Kemenkes RI

 

“Kami hadir bukan hanya membawa wacana, melainkan solusi nyata. Selain menyediakan pupuk murah bahkan gratis bagi warga, program ini juga membantu menjaga kebersihan lingkungan dan kelestarian Situ Batu Karut. Kami berharap inovasi sederhana ini dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat setelah program KKN berakhir,” ujar Moh Rival Virgiawan.

 

Tidak berhenti pada pembuatan alat, tim juga menyusun program pelatihan bagi masyarakat dan kelompok tani agar mampu mengoperasikan, merawat, serta mengembangkan penggunaan mesin secara mandiri. Pendampingan tersebut diharapkan mampu menciptakan keberlanjutan program sehingga manfaatnya tetap dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.

 

Menurut tim KKN, keberhasilan sebuah program pengabdian tidak hanya diukur dari pembangunan fisik semata, melainkan dari kemampuan masyarakat untuk melanjutkan inovasi yang telah diberikan tanpa bergantung kepada pihak luar.

 

Di sisi lain, program ini juga menjadi bentuk implementasi nyata konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development), di mana persoalan lingkungan dan kebutuhan ekonomi masyarakat diselesaikan melalui pendekatan teknologi tepat guna yang mudah diterapkan di tingkat desa.

 

Selain mengurangi biaya produksi pertanian melalui penyediaan pupuk organik, keberadaan mesin pencacah kompos juga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular. Limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai kini dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat bagi lahan pertanian sekaligus menjaga kelestarian kawasan Situ Batu Karut.

Baca juga:  Serahkan Beasiswa, Bupati Sukabumi; 'Manfaatkan Amanah ini untuk Bebaikan Dimasa Depan'

 

Moh Rival menegaskan, semangat utama yang dibawa mahasiswa KKN Mandiri Universitas Nusa Putra adalah menghadirkan perubahan yang dimulai dari kebutuhan riil masyarakat.

 

“Kehadiran kami sebagai mahasiswa KKN Mandiri ingin membuktikan bahwa pemuda tidak hanya hadir sebagai pengamat, tetapi mampu berkontribusi langsung untuk kemajuan lingkungan sekitar. Kami berharap apa yang kami lakukan menjadi langkah awal menuju masyarakat yang lebih mandiri, produktif, dan peduli terhadap kelestarian lingkungan,” pungkasnya.

 

Program KKN Mandiri Universitas Nusa Putra ini menjadi gambaran bahwa kolaborasi antara ilmu pengetahuan, inovasi teknologi, dan semangat pengabdian dapat melahirkan solusi yang menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung. Di tengah tantangan ketahanan pangan dan isu lingkungan yang semakin kompleks, inisiatif seperti ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai motor penggerak perubahan sosial melalui aksi nyata yang berdampak dan berkelanjutan.

Pos terkait