Syukuran Nelayan Ke 68 Ciwaru, Simbol Kuatnya Budaya Pesisir Sukabumi

FOTO: Upacara adat pada Syukuran Hari Nelayan Ke-68 Ciwaru, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (19/7).| Istimewa

LINGKARPENA.ID | Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi, Sendi Apriadi S. STP., M. Si., mewakili bupati hadir diacara syukuran nelayan ke – 68 di Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, pada Sabtu (19/7/2025).

Diungkapkan Sendi, bahwa hari nelayan bukan sekadar agenda tahunan, melainkan momentum penting untuk menggerakkan sektor budaya, pariwisata, dan ekonomi masyarakat pesisir.

Disampaikan Sendi, bahwa syukuran hari nelayan sebgai bukti kekayaan tradisi yang sudah berlangsung puluhan tahun dan masih terus hidup hingga kini.

Baca juga:  Pawai Dongdang Hari Jadi Ke 152 Kabupaten Sukabumi di Salabintana Libatkan 3000 Orang

“Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk rasa ayukur masyarakat nelayan atas limpahan hasil laut. Selain itu kegiatan ini juga menjadi ruang aspiraai terhadap kerja keras para nelayan,” ujar Sendi.

Sambung Sendi, masyarakat nelayan di Kabupaten Sukabumi hingga kini masih menjunjung tinggi nilai nilai budaya. Ini dibuktikan dengan adanya kegiatan perayaan hari nelayan yang digelar diberbagai wilayah pesisir

“Tradisi seperti ini harus dilestarikan. Apalagi Ciwaru berada di kawasan inti UNESCO Global Geopark Ciletuh-Palabuhanratu, yang jadi perhatian dunia. Potensi budaya lokal seperti ini harus terus didorong sebagai kekuatan pariwisata daerah,” tegasnya.

Baca juga:  Jembatan Gantung Akses Menuju Objek Wisata Geyser Cisolok Rusak, Dispar Langsung Bereaksi

Dijelaskan Sendi, Syukuran Hari Nelayan berdampak langsung terhadap pergerakan ekonomi masyarakat. Kegiatan ini berlangsung selama sepekan dan menyajikan beragam atraksi budaya, yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

“Masyarakat sudah mulai memahami pola event ini. Tidak hanya satu hari, tapi ada rangkaian kegiatan selama satu minggu dengan tema budaya yang berbeda-beda. Ini membuka peluang ekonomi yang luas, terutama bagi UMKM, pelaku wisata, dan nelayan sendiri,” jelasnya.

Baca juga:  Abah Ruskawan: Kecam Pernyataan Ustad Khalid Basalamah Wayang Itu Haram

Menurutnya, tradisi dan budaya lokal akan semakin kuat jika disinergikan dengan arah pembangunan yang tepat. Apalagi dalam RPJMD, Bupati Sukabumi menetapkan sektor industri, pertanian, budaya, dan pariwisata sebagai fondasi utama pembangunan daerah.

“Pemerintah mendorong agar seluruh potensi ini mendapat dukungan. Kita masih dalam tahap pemulihan ekonomi, tapi harus tetap berani bergerak. Tradisi seperti ini bisa menjadi pemicu pembangunan lintas sektor,” tutupnya.

Pos terkait