Tanpa Pamrih, Beginilah Sosok Kholid Yusuf Kelola Santri

LINGKARPENA.ID | Kholid Yusuf (69) warga Kampung Cikarang, Desa Purwasedar, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, tanpa pamrih setiap hari mengajarkan ngaji pada anak anak di kampungnya.

Dijumpai dirumahnya, saat diajak ngobrol, lelaki paruhbaya ini sesekali mengernyitkan dahinya, seperti ada sesuatu yang ditahan. Ya, saat itu ia mengaku sedang kurang enak badan, meriang.

“Sudah dua hari terserang panas dingin, mungkin meriang,” ujar Kholid Yusuf, kepada Lingkar Pena Rabu (18/9) di kediamannya.

Hari itu ada perasaan galau di hati pak tua ini. Pasalnya ia tidak bisa mengajar para santrinya lantaran sakit meriang. Ia mengaku merasa berdosa pada anak anak santrinya.

Baca juga:  Buka Halaqoh Quraniyah, Sekda: PC NU Terus Membangun Sukabumi yang Religius

Jumlah santri yang dikelola Kholid Yusuf memang tidak banyak, hanya 30 orang. Ada 17 putra dan 13 putri dan semuanya merupakan warga sekitar.

“Rata rata masih sekolah SD dan SMP,” sambung Kholid Yusuf.

Semua santri yang belajar mengaji di Kholid Yusuf tak dipungut biaya alias gratis. Tapi terkadang ada orangtua santri yang memberinya uang, dan itu ia belanjakan buat keperluan di tempat pengajian.

“Bukannya saya tidak butuh uang, hanya ada perasaan… gimana…ya.. kalaupun ada orangtua santri yang memberi, uang itu saya pakai untuk membeli keperluan di madrasah, kapur tulis, spidol dan kebutuhan untuk belajar lainnya,” terangnya.

Baca juga:  Dandim 0607 Kota Sukabumi Ikuti Kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok pesantren Asobariyyah

Dijelaskan dia, mengajar anak anak santri sudah dilakukannya sejak lama. Diakuinya ia bukan ustad atau ahli agama, namun karena dikampungnya melihat anak anak yang perlu untuk dipupuk ilmu agama ia memberanikan diri mengelola mereka hingga sekarang.

“Saya ini bukan ustad atau ahli agama, tapi ya sudah menjadi kewajiban bagi umat muslim untuk  mengamalkan ilmu, apalagi mengajarkannya kepada anak anak,” kata Kholid.

Baca juga:  Sekda Saksikan Langsung Pawai Ta'aruf MTQ Ke 46

Ada keinginan dari lelaki renta ini. Ia berharap ada demawan yang mau mensodaqohkan sarana kelengkapan untuk belajar mengaji, antara lain papan tulis, Alquran, lampu emergency dan karpet.

Dikatakan Kholid, saat ini ia sangat membutuhkan beberapa Alquran, karena yang ada sekarang selain sudah usang dan sebagian jilidnya terlepas juga jumlahnya terbatas. Disamping itu ia pun berharap segera memiliki lampu emergency dan papan tulis serta karpet.

“Kalau para santri lagi mengaji dan tiba tiba lampu PLN mati, mereka bubar. Saya sangat memerlukan lampu darurat untuk penerangan,” pungkas Kholid.

Pos terkait