LINGKARPENA.ID | Di balik perannya sebagai pelayan masyarakat, kehidupan Dadan (61), seorang Ketua RT di Kampung Ciherang RT 09/07, Desa Buniwangi, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, justru menyimpan ironi. Rumah yang ia tempati bersama keluarga kini berada di ambang kehancuran.
Dari luar, bangunan sederhana itu tampak rapuh. Salah satu sudutnya sudah ambrol, sementara bagian depan nyaris ambruk—hanya bertahan berkat tiang-tiang bambu yang menopangnya seadanya. Di dalamnya, Dadan tinggal bersama istrinya, Marpuah (58), lima anak, serta seorang cucu yang masih bayi.
Kehidupan mereka berjalan dalam keterbatasan. Dadan mengandalkan penghasilan dari berjualan cilok, sementara Marpuah mengelola kios kecil yang menjual jajanan anak sekolah. Namun, penghasilan itu jauh dari cukup untuk memperbaiki rumah yang kian lapuk dimakan usia.
“Ya, saya kadang berjualan cilok di sekolah. Istri saya menunggui kios makanan anak sekolahan, tapi hasilnya hanya cukup untuk makan,” ujar Dadan lirih saat ditemui di kediamannya.
Rumah yang mereka tempati merupakan warisan orang tua. Seiring waktu, kondisinya semakin memburuk. Bahkan, saat hujan turun, keluarga ini harus berpindah-pindah tempat tidur untuk menghindari bocor.
“Kalau sedang tidur dan turun hujan, kami terpaksa mencari tempat yang tidak bocor. Bukan kami tidak berusaha memperbaiki, tapi kondisi keuangan kami tidak menentu,” tuturnya.
Sebagai Ketua RT, Dadan justru dikenal aktif mengusulkan bantuan perbaikan rumah tidak layak huni (rutilahu) untuk warganya. Namun, nasib baik belum berpihak kepadanya.
“Sering saya mengajukan ke pemerintah untuk warga yang rumahnya tidak layak huni. Untuk saya sendiri, mungkin belum ada rezekinya,” katanya dengan senyum tipis.
Di tengah kondisi tersebut, beban keluarga bertambah. Marpuah kini harus membagi waktunya antara mengelola kios dan merawat cucunya yang masih bayi. Anak tersebut kini berada dalam asuhannya setelah sang ibu meninggal dunia sepekan lalu.
“Saya sekarang lebih banyak mengurus bayi ini. Ibunya meninggal minggu lalu, jadi kami yang merawat,” ujar Marpuah, sembari menggendong cucunya.
Kondisi rumah Dadan pun telah menjadi perhatian pemerintah desa. Kepala Desa Buniwangi, Dadan Hermawan, menyatakan bahwa pihaknya sudah berupaya mengajukan bantuan melalui berbagai program, termasuk rutilahu.
“Kami sudah mengajukan agar rumah tersebut mendapatkan bantuan. Ada kabar baik, rencananya akan dibantu perbaikannya oleh salah satu ormas di Kecamatan Surade,” ungkapnya.
Di tengah keterbatasan, Dadan dan keluarganya tetap bertahan. Harapan sederhana mereka hanya satu—memiliki rumah yang layak, tempat berteduh yang aman bagi anak, cucu, dan masa depan keluarga kecilnya.






