Yaya Firmansyah: Sepenggal Kisah Guru SLB Surade Sukabumi ‘Sempat Ditolak Sopir Dianggap Pengemis’

FOTO: Inilah sosok Yaya Firmansyah yang saat ini menjadi guru di SLB Surade Kabupaten Sukabumi.| dok: Jajang S

LINGKARPENA.ID | Keterbatasan sering kali membuat seseorang tak percaya diri ketika menjalani aktivitas. Dampak luasnya, kerap menghambat dalam menggapai impian dan cita-cita.

Namun hal tersebut tidak bagi sosok Yaya Firmansyah. Ia melawan semua itu. Menjadi penyandang disabilitas tidak membuatnya minder. Justru, Yaya berhasil menunjukkan kekurangan itu menjadi prestasi yang memukau.

Pria berusia 30 tahun ini adalah lulusan di salah satu kampus terbaik se-Indonesia, adalah di UNINUS Bandung dan lulus pada tahun 2019 lalu.

Meski tak sesempurna rekan-rekan mahasiswa lainnya, tetapi Yaya tak berkecil hati. Dia menunjukkan prestasinya sebagai mahasiswa peraih Beasiswa di Uninus. Kisahnya menginspirasi banyak orang.

Perjuangan lelaki asal Desa Wanasari, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi ini memanglah tidak mudah. Ia menghadapi beragam tantangan saat melewati masa sekolah hingga bisa masuk di bangku perkuliahan.

Ada pengalaman yang hingga kini masih diingatnya. Semasa kuliah dulu, saat akan pulang dari Sukabumi ke Surade, ia di tolak beberapa supir angkutan karena dianggapnya akan menumpang.

Baca juga:  Destinasi Wisata Curug Cigangsa Surade Perlu Pengelolaan Serius

“Saat itu beberapa supir menolak saya untuk menumpangi mobilnya. Alasannya karena saat itu saya dianggapnya pengemis. Tapi setelah saya perlihatkan uang, baru para sopir angkutan itu mau juga membawa saya ,” ujar Yaya, saat bincang-bincang dengan Lingkar Pena di SLB Surade, Selasa (1/10/2024).

Selepas menempuh pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Wanasari, Kecamatan Surade, Yaya melanjutkan ke jenjang berikutnya, masuk di SLB Surade hingga mengantongi ijazah setingkat SMA. Kemudian pada tahun 2013, Yaya dengan percaya diri mendaftar ke Uninus Bandung hingga lulus tahun 2019.

Suatu ketika saat di Bandung Yaya bertemu dengan pengemis disabilitas. Kemudian ia hampiri seraya memberikan uang, sambil memberi motivasi kepada pengemis itu. Dia katakan agar pengemis tersebut bisa berbuat sesuatu, jangan mencari nafkah dengan meminta minta. Beberapa hari kemudian Yaya tak melihat lagi si pengemis itu beroperasi di Bandung.

Baca juga:  Dua Veteran Pembela Kemerdekaan Dikunjungi Kapolres Sukabumi Kota

Cita cita ingin menjadi pengajar

“Saat lulus kuliah, saya bertekad mengabdi sebagai guru di sekolah luar biasa SLB Surade ini,” ujar Yaya saat ditemui di SLB Surade.

Kini, ia memantapkan hati mengabdi sebagai guru meski belum pasti diterima atau tidak di sekolah yang ingin dituju. Jauh di lubuk hati, ia berharap bisa menginspirasi lebih banyak anak penyandang disabilitas.

Keinginan Yaya menjadi guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) karena realita yang terjadi di Sukabumi Selatan banyak anak penyandang disabilitas tidak bisa mengakses pendidikan inklusi.

Ada banyak faktor yang menyebabkan anak disabilitas di Sukabumi Selatan belum dapat mengakses pendidikan inklusif di sekolah-sekolah formal selain Sekolah Luar Biasa (SLB).

Baca juga:  Viral Kemunculan Buaya di Situ Habibi Surade, Begini Kata BKSDA

Tidak semua keluarga bisa mengakses SLB karena keterbatasan ekonomi dan lainnya. Selain itu, jarak sekolah yang jauh dari tempat tinggal.

Di sisi lain, sekolah negeri baik SD maupun SMP berdasarkan regulasi seharusnya menerapkan pendidikan inklusi. Namun, sumber daya manusia (SDM) yaitu guru pendidikan khusus, guru bahasa isyarat dan sejenisnya belum ada di sekolah negeri formal.

Ia mendorong pemerintah bisa membuka penerimaan guru pendidikan khusus di sekolah formal atau pelatihan guru agar mengetahui kebutuhan anak dengan disabilitas dan apa hambatan mereka dalam mengajar.

Lebih jauh, Yaya mendorong anak dengan disabilitas berani bermimpi dan bisa berprestasi seperti dirinya. Jangan minder karena keadaan.

“Jangan berhenti bermimpi karena keterbatasan bukan hambatan jika kita mau berjuang. Meski kita punya hambatan, tetapi percayalah ada kelebihan yang tak dimiliki orang lain,” ujar Yaya Firmansyah.

Pos terkait