LINGKARPENA.ID | Di tengah derasnya arus modernisasi dan gempuran teknologi digital, semangat melestarikan budaya lokal masih berkobar di Kampung Situ Awi, RW 11, Kelurahan Karang Tengah, Kota Sukabumi. Suara hentakan kaki dan irama jurus yang berkesinambungan kembali terdengar dari halaman latihan Perguruan Pencak Silat Pusaka Kian Santang, salah satu warisan berharga dari aliran legendaris Cimande.
Perguruan yang sempat vakum selama beberapa tahun ini kini kembali bangkit di bawah kepemimpinan Abah Asep, tokoh budaya yang juga dikenal sebagai pelatih sekaligus penjaga tradisi silat Sunda. Melalui bimbingannya, Pusaka Kian Santang kembali menjadi wadah pendidikan karakter, moral, dan spiritual bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
“Silat itu bukan sekadar bela diri. Ia mengajarkan akhlak, disiplin, dan menghormati sesama. Bukan untuk melukai orang lain, tapi untuk menyelamatkan,” ujar Abah Asep saat ditemui usai latihan, Sabtu (18/10/2025).
Bagi Abah Asep, setiap gerakan dalam pencak silat mengandung makna filosofis yang dalam. Gerak bukan sekadar teknik bertarung, melainkan ekspresi rasa dan jiwa. Karena itu, belajar silat bukan perkara cepat. Diperlukan kesabaran dan kecintaan terhadap budaya agar bisa memahami maknanya secara utuh.
Didirikan sejak tahun 1970-an, Pusaka Kian Santang pernah menjadi salah satu perguruan yang berpengaruh di wilayah Sukabumi. Abah Asep sendiri telah mengukir berbagai prestasi sejak tahun 1994, mulai dari kejuaraan tingkat kota hingga provinsi. Kini, bersama para pesilat muda, ia menghidupkan kembali perguruan tersebut yang juga menjadi bagian dari kegiatan seni dan budaya di Pesantren Al Fath Maung Bodas.
Kegiatan latihan digelar setiap sore untuk anak-anak dan malam hari bagi kalangan dewasa. Selain memperkuat kemampuan fisik dan seni bela diri, latihan juga berfungsi sebagai sarana pembentukan karakter di tengah tantangan era digital.
“Setidaknya dua jam latihan bisa menjauhkan anak-anak dari ponsel. Ini cara sederhana agar mereka punya kegiatan positif,” jelas Abah Asep.
Kebangkitan Pusaka Kian Santang mendapat dukungan penuh dari masyarakat sekitar. Ketua RW 11, Yanto Rianto, menilai keberadaan perguruan tersebut membawa dampak positif bagi generasi muda sekaligus memperkuat identitas budaya Sunda.
“Silat bukan sekadar olahraga, tapi bagian dari jati diri urang Sunda. Dengan latihan ini, anak-anak belajar hormat, disiplin, dan mencintai budaya sendiri,” ungkap Yanto.
Tak hanya berfokus pada latihan, perguruan ini juga aktif menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak seperti Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Sukabumi, kelompok seni jaipong, dan komunitas adat di wilayahnya.
“Kami terbuka untuk siapa saja yang ingin mengenal, belajar, atau meliput kegiatan kami. Silakan datang kapan pun, kami selalu terbuka,” tambah Yanto.
Kini, di tengah derasnya arus globalisasi, Pusaka Kian Santang berdiri tegak sebagai simbol keteguhan masyarakat Sukabumi dalam menjaga akar budaya. Bagi mereka, silat bukan sekadar gerak tubuh, tetapi juga gerak hati dan jiwa—sebuah bentuk cinta terhadap warisan leluhur yang tak lekang oleh waktu.






