Paguron Taliwangsa, Warisan Seni Debus yang Tetap Eksis dari Kademangan hingga Kebumen

FOTO: Penampilan seni tradisional Debus dari Paguron Taliwangsa, Desa Kademangan, Kecamatan Surade Sukabumi, Sabtu (01/11).| dok: Jajang S

LINGKARPENA.ID | Paguron Taliwangsa menjadi salah satu padepokan seni debus yang masih aktif melestarikan kesenian tradisional di Kabupaten Sukabumi. Padepokan ini berlokasi di Kampung Legokpicung Desa Kademangan, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabuni dan telah berdiri sejak tahun 2019.

Dibentuk atas dasar semangat menjaga warisan budaya leluhur, Paguron Taliwangsa Kademangan Surade tersebut kini memiliki sekitar 15 anggota aktif.

Menariknya, sebagian besar dari mereka masih berusia muda, sekitar 15 tahun, bahkan terdapat satu anggota perempuan yang ikut terlibat dalam pertunjukan debus — hal yang cukup jarang ditemui di dunia kesenian bela diri tradisional ini.

Baca juga:  Balap Lari Remaja di Surade Sukabumi yang Kontroversi

Jenis atraksi yang biasa ditampilkan oleh kelompok ini beragam dan menegangkan. Di antaranya snake show (pertunjukan ular), permainan sembilu, hingga aksi ekstrem seperti memotong lidah menggunakan gergaji mesin.

Walaupun terlihat berbahaya, setiap aksi dilakukan dengan persiapan matang dan pengawasan ketat dari sang ketua.

Ketua Paguron Taliwangsa, Nurdin (36), yang akrab disapa Bah Ajo, menjelaskan bahwa setiap anggota yang akan tampil selalu mendapatkan perlakuan dan pembekalan khusus.

“Setiap anggota yang akan tampil selalu saya persiapkan secara khusus, baik secara fisik maupun spiritual. Alhamdulillah, selama ini belum pernah terjadi hal-hal yang tidak diharapkan,” ujar Bah Ajo.

Baca juga:  Resmikan Gedung GASENTRA, Wabup Ajak Semua Lestarikan Seni Budaya Sunda

Paguron Taliwangsa tak hanya tampil di wilayah sekitar Sukabumi. Mereka juga sering diundang ke berbagai acara, mulai dari hajatan masyarakat, peringatan hari besar nasional, hingga acara-acara formal.

Bahkan, salah satu penampilan terjauh mereka pernah dilakukan di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, dalam rangka perayaan ulang tahun salah satu paguyuban seni bela diri setempat.

Bagi Bah Ajo dan para anggotanya, debus bukan sekadar pertunjukan atraksi fisik, melainkan juga sarana spiritual untuk menguatkan iman, mental, dan rasa kebersamaan antaranggota.

Baca juga:  Paguyuban Serdadu Jampang Gelar Halalbihalal

“Debus mengajarkan kita tentang keikhlasan, keberanian, dan kedisiplinan. Ini bukan sekadar tontonan, tapi juga tuntunan,” tambahnya.

Dengan dedikasi dan konsistensi yang dijaga sejak berdiri enam tahun lalu, Paguron Taliwangsa kini menjadi salah satu simbol pelestarian budaya daerah yang membanggakan. Di tengah era modernisasi, mereka terus berupaya agar kesenian tradisional seperti debus tidak punah, tetapi justru tetap hidup dan dikenal oleh generasi muda.

Pos terkait