Jembatan Kuning Bagbagan, Saksi Bisu Ambisi Infrastruktur Belanda di Sukabumi

Foto: Jembatan Kuning Bagbagan, Simpenan Sukabumi.| dok: Jajang S

LINGKARPENA.ID | Sukabumi, Jawa Barat, menyimpan sebuah bangunan bersejarah peninggalan kolonial Belanda yang hingga kini masih berdiri kokoh meski termakan usia. Bangunan tersebut dikenal dengan nama Jembatan Kuning Bagbagan, sebuah jembatan ikonik yang membentang di atas Sungai Cimandiri dan menjadi saksi perjalanan panjang pembangunan infrastruktur pada masa Hindia Belanda.

 

Jembatan yang pada masa kolonial disebut Kabelburg Tjimandiri ini dibangun untuk menghubungkan wilayah Palabuhanratu dengan kawasan Pajampangan, jalur penting yang dahulu menjadi urat nadi pergerakan ekonomi, terutama pengangkutan hasil bumi dari daerah pedalaman menuju wilayah pesisir.

 

Pegiat sejarah dari Sukabumi History, Rangga Suria Danuningrat, menjelaskan bahwa pembangunan jembatan ini merupakan proyek ambisius pemerintah kolonial yang penuh hambatan. Proyek tersebut mulai direncanakan sejak 1916, namun baru benar-benar rampung dan diresmikan pada 5 Mei 1923, atau hampir sembilan tahun dari rencana awal.

Baca juga:  Cikarang Ponton, Jejak Riuh Kampung Penyeberangan yang Kini Tinggal Kenangan

 

“Pembangunan jembatan ini sempat menjadi perbincangan hangat di media-media Hindia Belanda karena mengalami penundaan berkali-kali,” ungkap Rangga.

 

Ia menyebutkan, pada November 1914 pekerjaan sisi kanan jembatan telah diselesaikan, disusul sisi kiri pada Agustus 1915. Namun rencana penggalian fondasi pada 1916 terganggu oleh berbagai persoalan, mulai dari kondisi alam hingga bencana banjir besar.

 

Puncaknya terjadi pada 2 November 1917, ketika banjir bandang Sungai Cimandiri menghancurkan tiang penyangga dan fondasi sisi kiri jembatan yang baru saja selesai dibangun. Peristiwa ini memaksa pemerintah kolonial mengubah desain jembatan menjadi jembatan kabel baja (kabelburg) dengan sistem sling besi sebagai penguat utama.

 

Perubahan desain tersebut ditangani oleh Burgerlijke Openbare Werken (B.O.W), semacam dinas pekerjaan umum pada masa itu, di bawah pengawasan pejabat bernama J.W.J. Romans van Schaik. Meski demikian, berbagai masalah teknis dan alam kembali muncul sehingga proyek terus mengalami keterlambatan.

Baca juga:  Menyusuri Jejak Laut Purba di Jampang, Pakidoelan Lab Siapkan Pertunjukan “Pulo Megalodon”

 

Akhirnya, setelah melalui proses panjang dan menghabiskan biaya lebih dari 30.000 gulden, Jembatan Tjimandiri berhasil diselesaikan pada 1923. Peresmian jembatan ini ditandai dengan selamatan besar yang dihadiri pejabat kolonial dan masyarakat lokal, sebagai upaya menghilangkan rasa takut dan keraguan warga akibat seringnya jembatan ini rusak diterjang banjir.

 

Pembangunan jembatan tersebut mendapat sorotan luas media massa kala itu. Sejumlah surat kabar Hindia Belanda seperti De Sumatra Post (24 November 1923), Bataviaasch Nieuwsblad (28 November 1922), dan De Preanger Bode (31 Desember 1918) banyak memberitakan proyek ini, termasuk kritik dari Dewan Hindia Belanda terkait lambannya pengerjaan.

 

Secara struktur, Jembatan Kuning Bagbagan memiliki panjang sekitar 117,5 meter, tinggi pilon 17,7 meter, dan lebar 3,9 meter. Konstruksi besi baja dan kabel sling menjadikannya salah satu jembatan kabel tertua di wilayah Sukabumi.

Baca juga:  Peran Radio Saat Ramadhan di Pajampangan Ala Era 80-an

 

Selain nilai teknis, jembatan ini juga menyimpan jejak kelam sejarah. Ia menjadi saksi bisu praktik kerja paksa (rodi) yang dilakukan pada masa kolonial dan diyakini memakan banyak korban jiwa.

 

Kini, setelah hadirnya jembatan baru, Jembatan Kuning Bagbagan tidak lagi digunakan untuk kendaraan. Kondisinya semakin memprihatinkan, dengan struktur besi yang berkarat dan rapuh. Meski demikian, nilai sejarah yang melekat menjadikannya layak disebut sebagai cagar budaya penting bagi Kabupaten Sukabumi.

 

Berbagai pihak berharap jembatan bersejarah ini dapat direvitalisasi dan dimanfaatkan sebagai objek wisata sejarah, agar jejak perjalanan panjang pembangunan infrastruktur dan memori kolektif masyarakat Sukabumi tidak hilang ditelan zaman. ( dari berbagai sumber).

Pos terkait