Jejak Eyang Cigangsa di Balik Megahnya Masjid Besar Al-Jalil Surade

LINGKARPENA.ID | Di jantung Kecamatan Surade, tepat di jalur provinsi Surade–Ujunggenteng dan menghadap Taman Megalodon, berdiri megah Masjid Besar Al-Jalil. Bagi warga, bangunan ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan penanda sejarah panjang yang berkelindan dengan para pendiri wilayah Surade.

 

Masjid yang kini menjadi Masjid Besar tingkat kecamatan itu berawal dari sebidang tanah wakaf milik keluarga besar Haji Abdul Jalil, seorang tokoh Surade pada masanya. Sekitar tahun 1920, ketika menjabat sebagai lurah, Abdul Jalil menggagas pendirian masjid yang kala itu dikenal dengan nama Masjid Haji Abdul Jalil. Catatan almarhum H. Achmad Kosasih—mantan Wedana Jampangkulon sekaligus keturunan Eyang Santri Dalem—menyebutkan, tonggak awal berdirinya masjid tercatat pada 15 Juni 1982 sebagai peneguhan eksistensinya.

Baca juga:  Jembatan Kuning Bagbagan, Saksi Bisu Ambisi Infrastruktur Belanda di Sukabumi

 

Nama Abdul Jalil tak dapat dilepaskan dari garis keturunan Eyang Santri Dalem atau Eyang Cigangsa, tokoh yang diyakini sebagai salah satu perintis Surade. Dari silsilah keluarga, Abdul Jalil merupakan keturunan Raden Pranabangsa, putra Raden Sanggaprana bin Aria Santri Dalem. Leluhur inilah yang bersama keturunannya membuka kawasan hutan, membangun permukiman, mengatur saluran air, hingga menjadikannya lahan pertanian yang produktif.

 

Sejarah juga mencatat peran Raden Haji Asep Abdul Hadi—saudara Raden Wangsamanggala—yang pernah memimpin Surade dan di masa tuanya bermukim beberapa tahun di Bagdad sebelum kembali ke tanah air. Sepeninggalnya, ia dimakamkan di TPU Cikangkung, Surade. Dari garis keluarga inilah lahir Haji Abdul Jalil yang kemudian mewakafkan tanahnya untuk rumah ibadah.

Baca juga:  Peran Radio Saat Ramadhan di Pajampangan Ala Era 80-an

 

Tak hanya membangun masjid, keluarga ini juga berperan dalam perjalanan administratif Surade. Pada masa kolonial Belanda, Haji Mansur dan Haji Abdul Jalil mengusulkan agar pusat Kecamatan Ciracap dipindahkan ke Surade. Usulan tersebut diterima sekitar tahun 1920, menjadikan Surade sebagai ibu kota kecamatan yang membawahi sembilan desa kala itu.

 

Seiring waktu, masjid yang berdiri di pusat kota ini mengalami sejumlah pembaruan. Pertumbuhan jumlah jemaah dan posisi strategis Surade sebagai lintasan menuju Geopark Ciletuh mendorong dilakukan renovasi besar-besaran. Bangunan lama direhab total demi menghadirkan fasilitas yang lebih representatif dan nyaman.

Baca juga:  Guha Kolotok: Lubang Sunyi di Jagamukti Selatan Sukabumi, Menyimpan Kisah Kelam

 

Momentum penting itu ditandai dengan peresmian kembali oleh Bupati Sukabumi pada 5 Februari 2025. Kini, Masjid Besar Al-Jalil tampil lebih luas dan modern, namun tetap menyimpan ruh sejarah yang mengakar kuat.

 

Bagi masyarakat Surade, masjid ini bukan hanya kebanggaan arsitektur, tetapi juga simbol kesinambungan nilai. Dari tanah wakaf seorang lurah pada awal abad ke-20 hingga menjadi pusat ibadah dan aktivitas keagamaan tingkat kecamatan, Masjid Besar Al-Jalil berdiri sebagai saksi perjalanan panjang Surade—menghubungkan masa lalu para leluhur dengan denyut kehidupan hari ini.

 

Pos terkait