Dari Kuda hingga Travel, Sejarah Transportasi Menuju Wilayah Jampangkulon Sukabumi

LINGKARPENA.ID | Perkembangan transportasi menuju wilayah Pajampangan, khususnya Wilayah VI Jampangkulon Kabupaten Sukabumi, mengalami perjalanan panjang dan penuh cerita. Dari masa ketika akses masih berupa jalan setapak yang hanya bisa dilalui kuda, hingga hadirnya bus-bus legendaris pada era kolonial, sejarah transportasi di wilayah selatan Sukabumi menjadi bagian penting dari denyut kehidupan masyarakat Pajampangan.

 

Seiring perkembangan ekonomi, perkebunan, hingga pembukaan jalur-jalur penghubung antarwilayah, akses transportasi perlahan berubah. Namun perjalanan menuju Jampangkulon dan sekitarnya pada masa lampau bukan perkara mudah. Jarak jauh, kondisi jalan rusak, serta keterbatasan armada membuat perjalanan ke Sukabumi Kota bisa memakan waktu seharian.

 

Awal Abad ke-20: Jalan Setapak dan Angkutan Tradisional

 

Pada awal abad ke-20, transportasi darat menuju Pajampangan masih sangat terbatas. Jalur yang tersedia umumnya hanya berupa jalan setapak yang digunakan untuk lalu lintas masyarakat lokal.

 

Saat itu, aktivitas pengangkutan barang maupun mobilitas warga dilakukan dengan cara sederhana, yakni menggunakan kuda atau tenaga manusia. Kondisi geografis wilayah selatan Sukabumi yang berbukit dan jauh dari pusat kota membuat perjalanan terasa berat dan melelahkan.

 

Tahun 1938: Bus Pertama Jampang – Sukabumi Mulai Beroperasi

 

Tonggak penting sejarah transportasi Pajampangan terjadi pada tahun 1938, ketika angkutan umum berupa bus mulai melayani rute Jampang – Sukabumi. Pada masa itu, tercatat setidaknya ada lima armada bus yang beroperasi dan dikelola sejumlah tokoh pengemudi terkenal.

 

Nama-nama pengemudi legendaris yang tercatat dalam sejarah tersebut antara lain Lie Tjin Hok, Lim Hoen Kiong, Tan Eng Tiauw, dan Tjion Keng Sin, yang mayoritas berasal dari etnis Tionghoa. Sementara satu pengemudi pribumi dikenal bernama Iking, berasal dari wilayah Cikembar.

 

Pada masa itu, ongkos perjalanan dari Sukabumi menuju Jampangkulon disebut mencapai 105 ½ sen, atau setara sekitar 1 gulden, nominal yang cukup besar untuk ukuran masa tersebut.

Baca juga:  Jejak Eyang Cigangsa di Balik Megahnya Masjid Besar Al-Jalil Surade

Meski telah menggunakan bus, perjalanan kala itu tetap penuh tantangan. Kendaraan sering mengalami gangguan teknis, terutama pada bagian radiator.

 

“Dalam perjalanan, bus bisa berhenti sedikitnya empat sampai lima kali hanya untuk menambah air radiator,” demikian catatan yang berkembang dalam kisah transportasi masa itu.

 

Bahkan ketika ban kempis, perjalanan bisa terhambat cukup lama. Proses penambalan ban dilakukan langsung oleh kernet menggunakan peralatan sederhana, dari mulai getah karet sebagai perekat atau bahan tambal ban bermerk tiptop.

 

“Kalau ban kempis, kernet menambal sendiri menggunakan getah karet sebagai perekat. Prosesnya bisa memakan waktu satu sampai dua jam,” lanjut cerita yang dikenal masyarakat Pajampangan.

 

Pembangunan Jalan: Dorongan Ekonomi dan Perkebunan

 

Perkembangan akses jalan menuju Pajampangan tak lepas dari proses pembangunan infrastruktur yang terus berjalan dari masa ke masa. Seiring meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat dan berkembangnya sektor perkebunan, jalur transportasi mulai mengalami pelebaran dan peningkatan kualitas.

 

Pembangunan jalur kereta api di Sukabumi oleh Belanda pada akhir abad ke-19 turut menjadi pemicu terbukanya konektivitas wilayah. Walaupun kereta api tidak masuk langsung ke Pajampangan, efeknya mendorong percepatan pembangunan jalan dan distribusi hasil bumi ke pusat kota.

 

Era 1970-an: Jeep Willis dan Oplet “Jamrong” Menguasai Jalanan

 

Memasuki dekade 1970-an, transportasi umum di Pajampangan mulai didominasi oleh Jeep Willis serta oplet yang dikenal masyarakat sebagai “jamrong”, kendaraan yang identik dengan oplet Mandra dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan.

 

Saat itu, rute Surade – Sukabumi menjadi jalur utama mobilitas warga. Namun kondisi jalan belum semulus sekarang. Banyak bagian jalan masih rusak, berlumpur, dan sulit dilalui ketika hujan turun.

 

Perjalanan dari Surade menuju Sukabumi pada era tersebut bahkan dapat memakan waktu seharian penuh.

 

Baca juga:  Jembatan Kuning Bagbagan, Saksi Bisu Ambisi Infrastruktur Belanda di Sukabumi

“Kalau berangkat pagi dari Surade, biasanya baru sampai Sukabumi sekitar pukul 18.00 WIB,” ungkap kisah yang masih diingat masyarakat.

 

Di tengah kondisi jalan yang berat, kendaraan harus sering berhenti untuk mengisi air radiator. Kendala teknis menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan.

 

Era 1980-an: Bus Mulai Meramaikan Transportasi Pajampangan

 

Memasuki dekade 1980-an, dunia transportasi menuju Pajampangan mengalami perubahan besar. Armada bus mulai berdatangan dan menjadi sarana angkutan favorit masyarakat.

Pada masa ini, muncul berbagai perusahaan otobus yang melayani trayek Surade – Sukabumi, di antaranya:

 

PO Warga Jaya, PO Persaudaraan, PO Sugih Jaya, DAMRI, PO Langgeng Jaya

PO Lana Jaya, Triaffari, PO Nona, PO Kencana Buana. Darma Usaha ( DU), dan lainnya.

 

Bus pada masa itu menjadi simbol kemajuan transportasi wilayah selatan Sukabumi. Keberadaannya sangat vital karena hampir tidak ada pilihan kendaraan umum lain yang bisa diandalkan masyarakat.

 

Bus bukan hanya alat transportasi, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sosial warga. Terminal dan jalur-jalur utama di Pajampangan kala itu ramai oleh aktivitas penumpang, pedagang, hingga keluarga yang mengantar kerabat bepergian.

 

Era 1990-an: Bus Mulai Menyusut, PO Baru Bermunculan

 

Memasuki dekade 1990-an, sejumlah perusahaan otobus mulai mengalami penurunan armada. Dari banyak bus yang dahulu beroperasi, hanya beberapa yang bertahan, seperti Langgeng Jaya dan Lana Jaya. Namun pada tahun 1990, dunia transportasi Pajampangan kembali diramaikan dengan hadirnya PO Kita Motor, yang saat itu dikenal memiliki armada cukup banyak dan aktif melayani masyarakat.

 

Tak lama berselang, hadir pula PO MGI, yang kemudian menjadi fenomena baru dalam transportasi selatan Sukabumi. PO MGI membuat terobosan besar dengan membuka trayek lebih panjang, yakni Surade – Sukabumi – Bogor.

 

Terobosan ini secara perlahan menggeser dominasi bus-bus lama yang sebelumnya menguasai jalur Pajampangan.

Baca juga:  Enam Jam yang Mengguncang Dunia: Jejak Serangan Umum 1 Maret 1949

Akibat persaingan, sejumlah armada lama seperti Bus Sinar Terang (Sinter) hingga sebagian armada Kita Motor akhirnya kehilangan pamor dan satu per satu menghilang dari jalur.

 

Masa Kini: Bus Tinggal Kenangan, Travel dan Minibus Mendominasi

 

Saat ini, pemandangan armada bus besar yang dahulu mondar-mandir di jalur Pajampangan sudah jarang ditemukan. Bus-bus legendaris yang pernah berjaya kini tinggal cerita nostalgia bagi masyarakat. Hanya beberapa armada seperti DAMRI yang masih terlihat beroperasi, salah satunya dengan rute Surade – Sagaranten.

 

Transportasi umum rute Surade – Sukabumi kini lebih banyak didominasi oleh minibus jenis Elf, yang lebih praktis dan efisien di jalur selatan.

 

Sementara itu, di wilayah Pajampangan, terutama Wilayah VI Jampangkulon, angkutan travel semakin menjamur. Travel menjadi pilihan masyarakat karena menawarkan sistem antar-jemput dan waktu tempuh yang lebih cepat.

 

Di sisi lain, keberadaan kendaraan mikro seperti Elf yang sempat menggantikan popularitas bus, kini mulai menunjukkan gejala penurunan akibat semakin banyaknya pilihan transportasi pribadi maupun travel.

Terminal akhir di Surade pun kini terlihat jauh lebih lengang dibanding masa kejayaan bus pada dekade 1980 hingga 1990-an.

 

Perjalanan Panjang Transportasi Pajampangan

 

Sejarah transportasi menuju Pajampangan mencerminkan perubahan zaman. Dari jalan setapak yang hanya bisa dilewati kuda, lalu bus legendaris tahun 1938 yang menjadi tonggak awal, hingga masa Jeep Willis, era kejayaan bus, lalu beralih ke minibus dan travel seperti sekarang.

 

Transportasi bukan sekadar kendaraan, tetapi bagian dari identitas wilayah. Nama-nama pengemudi legendaris, perusahaan bus yang pernah berjaya, hingga cerita berhenti berkali-kali menambah radiator menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat Pajampangan.

 

Kini, meski bus besar tidak lagi mendominasi jalanan seperti dulu, sejarah panjang transportasi menuju Jampangkulon tetap menjadi catatan penting perjalanan peradaban di selatan Sukabumi.

 

Pos terkait