LINGKARPENA.ID | Tidak semua goa diciptakan untuk menjadi tempat wisata. Sebagian justru lahir dalam ingatan warga sebagai ruang gelap yang menyimpan ketakutan, bisik-bisik, dan cerita yang tak pernah selesai.
Di Sukabumi Selatan, tepatnya di Kampung Naringgul, Desa Jagamukti, Kecamatan Surade, terdapat sebuah guha yang hingga kini masih membuat banyak orang menahan napas saat menyebut namanya: Guha Kolotok, atau lebih dikenal sebagai Goa Kolotok.
Letaknya tidak berada di pinggir jalan besar. Ia tersembunyi di antara rimbun semak, medan berbatu, dan jalur yang tak semua orang hafal. Sekilas, tempat itu tampak seperti bagian biasa dari bentang alam Pajampangan—wilayah yang kaya perbukitan kapur dan menyimpan banyak rongga bawah tanah. Namun bagi warga setempat, Guha Kolotok bukan sekadar lubang di batu. Ia adalah saksi bisu masa yang kelam.
Goa yang Pernah Menjadi Simbol Ketakutan
Sekitar era 1980-an, masyarakat Pajampangan pernah mengalami masa yang sulit dijelaskan dengan logika biasa. Kala itu, isu tentang santet, guna-guna, dan ilmu hitam menyebar seperti api yang menjalar cepat. Bisik-bisik yang awalnya terdengar di warung kopi, pelan-pelan berubah menjadi ketakutan kolektif.
Orang-orang mulai mencurigai tetangga sendiri. Nama-nama tertentu disebut sebagai “dukun santet”. Tuduhan sering kali tak punya bukti yang jelas, tetapi cukup untuk menyalakan amarah. Ketika rasa takut berubah menjadi kemarahan, maka yang lahir bukan lagi kehati-hatian—melainkan pemburuan.
Di tengah situasi itu, Goa Kolotok disebut-sebut menjadi salah satu lokasi yang paling menyeramkan, bukan karena penampakannya semata, melainkan karena fungsi yang melekat padanya: tempat pembuangan.
Konon, beberapa jenazah orang yang dituduh mempraktikkan ilmu hitam dibuang ke sana. Mereka tidak dimakamkan secara layak, tidak disalatkan, tidak dilepas dengan doa. Mereka hanya dijatuhkan begitu saja ke dalam kegelapan.
Bagi warga Pajampangan, Guha Kolotok kemudian menjelma sebagai simbol: tempat hilangnya orang-orang yang dianggap “berbahaya”.
Ketika Alam Menyimpan Rahasia Manusia
Secara geologis, kawasan Surade dan sekitarnya memang dikenal memiliki karakter batuan yang menyimpan banyak rongga, guha, dan jalur bawah tanah. Goa-goa di wilayah Pajampangan tidak hanya berfungsi sebagai fenomena alam, tetapi juga menjadi ruang yang dipenuhi narasi sosial masyarakatnya.
Pada tahun 2021, wilayah ini sempat kembali ramai karena isu perburuan fosil—khususnya fosil gigi hiu purba Megalodon. Banyak orang mendatangi titik-titik tertentu di Surade dan sekitarnya, berharap menemukan sisa-sisa makhluk purba dari dasar lautan jutaan tahun silam.
Namun berbeda dengan gua lain yang menarik karena keindahan atau kandungan fosilnya, Goa Kolotok lebih dulu dikenal karena cerita masa lalu yang membekas. Seolah-olah batu, akar, dan kegelapan di dalamnya masih menyimpan sisa suara masa itu—masa ketika manusia lebih takut pada santet daripada pada kekerasan yang mereka lakukan sendiri.
Legenda Nini Eupeuk yang Membuat Pajampangan Bergetar
Di antara banyak kisah yang berkembang, satu nama paling sering disebut dalam kaitan Goa Kolotok: Nini Eupeuk.
Bagi generasi tua Pajampangan, Nini Eupeuk bukan sekadar tokoh cerita rakyat. Ia adalah potongan ingatan yang bercampur antara fakta, rumor, dan mitos. Namanya sering muncul dalam percakapan malam hari, terutama ketika listrik padam atau ketika anak-anak mulai bertanya tentang gua angker di Jagamukti.
Nini Eupeuk dipercaya sebagai seorang perempuan tua yang dituduh memiliki kemampuan gaib. Ia disebut-sebut sebagai sosok yang bisa mengirim penyakit, membuat orang sakit mendadak, bahkan mengacaukan kehidupan rumah tangga orang lain melalui ilmu hitam.
Yang membuat kisahnya semakin tebal dengan aura misteri adalah cerita bahwa rumah Nini Eupeuk sulit ditemukan.
Konon, siapa pun yang mencoba mendatangi kediamannya sering dibuat bingung. Jalan terasa berputar-putar, petunjuk arah menjadi samar, dan orang yang mencari akhirnya tersesat di tempat yang sama. Cerita itu menyebar dari mulut ke mulut, menguatkan keyakinan bahwa perempuan tua itu bukan orang biasa.
Di masa ketika masyarakat sudah dicekam ketakutan, cerita seperti itu menjadi bensin yang mudah terbakar.
Tragedi di Ujung Tuduhan
Hingga suatu waktu, tuduhan terhadap Nini Eupeuk mencapai puncaknya. Ia disebut sebagai salah satu pelaku santet yang harus “dihentikan”. Tak ada pengadilan. Tak ada pembuktian. Tak ada ruang untuk membela diri.
Yang ada hanyalah amarah massa.
Kisah yang berkembang menyebut Nini Eupeuk akhirnya mengalami nasib tragis: ia dibunuh dan jasadnya dibuang ke dalam Goa Kolotok. Sebuah lubang gelap yang selama ini dianggap sebagai pintu menuju dunia lain, atau setidaknya tempat yang tak akan mudah dijangkau siapa pun.
Ada bagian cerita yang paling sering diceritakan ulang, membuatnya semakin merinding: mayat Nini Eupeuk disebut sempat tersangkut di akar-akar dalam goa.
Akar-akar itu menggantung dari bibir gua, seperti tangan-tangan alam yang mencoba menahan sesuatu agar tidak jatuh terlalu dalam. Jasad itu, kata orang, pernah terlihat sebelum akhirnya diambil oleh keluarganya.
Entah benar atau tidak, bagian itu menjadi elemen yang membuat legenda Nini Eupeuk tak pernah hilang. Karena jika sebuah kematian masih meninggalkan “jejak yang terlihat”, maka kisah itu akan lebih mudah dipercaya.
Goa Kolotok Hari Ini: Sunyi, Tertutup, dan Masih Menyisakan Getar
Waktu berlalu. Era pemburuan dukun santet tinggal cerita. Pajampangan kini berubah, jalan semakin terbuka, teknologi semakin dekat, dan generasi baru tumbuh dengan cara berpikir yang berbeda.
Namun Goa Kolotok tetap ada
Kepala Desa Jagamukti, Apay Suyatman, pernah menyampaikan bahwa Goa Kolotok memang merupakan situs nyata yang berada di wilayah desanya. Akan tetapi, kondisinya kini tidak seperti dulu. Area sekitar gua telah tertutup semak belukar, material tanah, dan alam yang perlahan mengambil kembali ruangnya.
Seolah-olah alam berusaha mengubur cerita manusia
Meski demikian, bagi warga sekitar, Guha Kolotok tetap bukan tempat biasa. Mereka masih mengingat fungsinya di masa lampau. Mereka masih mengingat bagaimana sebuah goa bisa menjadi tempat yang ditakuti, bukan karena makhluk halus, melainkan karena peristiwa yang dilakukan manusia sendiri.
Dari Mitos ke Sejarah Lokal
Kini, cerita tentang Goa Kolotok perlahan mengalami pergeseran. Ia tak lagi semata-mata dibicarakan sebagai tempat angker atau lokasi santet, tetapi mulai dilihat sebagai bagian dari sejarah sosial Pajampangan—sebuah potret bagaimana ketakutan bisa melahirkan kekerasan.
Bagi sebagian orang, Goa Kolotok menjadi bahan penelusuran cerita, bahkan petualangan. Ada yang datang karena rasa penasaran, ada yang ingin membuktikan mitos, ada pula yang sekadar ingin melihat langsung lokasi yang selama ini hanya mereka dengar dari cerita orang tua.
Namun apapun tujuan orang datang, Goa Kolotok tetap menyimpan pesan yang sama: bahwa suatu masa pernah ada, ketika isu santet menjalar begitu kuat hingga membuat masyarakat kehilangan batas antara kecurigaan dan keadilan.
Dan di tengah pusaran itu, nama Nini Eupeuk tetap hidup—sebagai legenda, sebagai trauma kolektif, atau sebagai korban dari zaman yang dibangun oleh ketakutan.
Goa Itu Tidak Berbicara, Tapi Ia Mengingat
Guha Kolotok hari ini mungkin telah tertutup semak, mungkin jalurnya semakin sulit dilalui, mungkin hanya tinggal batu-batu sunyi yang basah oleh waktu. Namun kisahnya tidak ikut terkubur.
Sebab di Pajampangan, masih ada orang-orang yang percaya bahwa tempat tertentu menyimpan energi dari masa lalu. Bukan energi mistik semata, melainkan energi dari kejadian yang pernah terjadi.
Goa Kolotok bukan hanya gua. Ia adalah ruang ingatan
Ia menyimpan cerita tentang manusia yang pernah takut pada hal yang tak terlihat, lalu menciptakan kengerian yang justru nyata.
Dan di bibir gua itu, angin mungkin hanya lewat seperti biasa. Tapi bagi mereka yang tahu sejarahnya, setiap hembusan terasa seperti bisikan lama:
tentang tuduhan, tentang pemburuan, tentang kematian, dan tentang Nini Eupeuk—nama yang sampai sekarang masih membuat Pajampangan terdiam sejenak ketika mengingatnya.






