LINGKARPENA.ID | Di daerah pajampangan, Kabupaten Sukabumi, terdapat beberapa peninggalan sejarah yang diyakini merupakan jejak kaki Jepang pada masa penjajahan dulu. Salah satunya adalah bunker yang berada di Kampung Pinangjajar, Desa Sukamumti, Kecamatan Waluran dan di Komplek Satrad 216 Cibalimbing, Desa Pasiripis, Kecamatan Surade.
Bunker-bunker ini dulunya digunakan sebagai tempat persembunyian dan pos pengintai oleh tentara Jepang.
Bunker Pinangjajar
Bunker ini terletak di atas bukit Pinangjajar, Desa Sukamukti, Kecamatan Waluran, atau berada di tepi Jalan Nasional ruas Kiaradua – Jampangkulon. Ada 4 Bunker yang tersebar di wilayah Desa Sukamukti. Tetapi hanya Bunker Pinangjajar yang terawat, dan kini dikelola Dinas Kebudayaan Kepemuda dan Olahraga ( Disbudpora) Kabupaten Sukabumi.
Dijelaskan Kepala Dinas Budpora Kabupaten Sukabumi, Yudi Mulyadi, Bunker Pinangjajar dibangun untuk kepentingan militer Jepang di Selatan Jawa Barat pada masa Perang Dunia II tahun 1942 – 1945.
“Bunker tersebut dibangun Jepang sebagi bagian dari sistem pengawasan militer. Benteuknya semi bawah tanah dengan dinding tebal dan ada ruangan yang tersembunyi. Tujuannya agar aman dari serangan dan memudahkan para tentara Jepang dalam pengamatan wilayah sekitar,” papar Yudi kepada awak media.
Bunker Pinangjajar merupakan struktur beton kokoh dan memiliki ukuran tinggi 2 meter, panjang 7 meter, dan lebar 3 meter, serta memiliki kedalaman 6 meter. dan ada ruangan juga dengan kedalaman 3 meter.
Di Kecamatan Waluran, selain di Pinangjajar, situs Bunker terdapat pula di Kampung Sukatani, Desa Sukamukti, letaknya di areal kebun warga. Temuan di lapangan sedikitnya ada 4 titik Bunker disana, tetapi hanya Bunker Pinangjajar yang sudah dikelola dan terbuka untuk umum.
Bunker Cibalimbing
Selain di Kecamatan Waluran, Bunker merupakan bukti jejak kaki Jepang di tanah Jampang terdapat pula di Kampung Cikarang, Desa Pasiripis, Kecamatan Surade. Letak bunker tersebut tepatnya berada di Kompleks Satuan Radar (Satrad) 216 Cibalimbing.
Di Cibalimbing terdapat tiga bunker berukuran besar. Dua bunker terletak diarea Satrad 216 dan kondisinya cukup terawat. Sementara satu bunker letaknya diluar komplek. Bunker terbesar berukuran panjang 13,5 meter, lebar 4,1 meter dan tinggi 160 sentimeter. Bunker ini memiliki dua pintu dengan lebar 116 sentimeter dan tinggi 100 sentimeter. Pada pintunya terdapat empat lubang (ventilasi) berukuran 56 x 25 sentimeter.
Bunker berikutnya berukuran 5,2 x 3,24 meter, dan tingginya 170 sentimeter. Letaknya sekitar 100 meter arah Barat bunker pertama. Sementara bunker ketiga yang letaknya sekitar 50 meter memiliki ukuran panjang 140 sentimeter, lebar 5 meter, dan tinggi 170 senti meter. Bunker ini memiliki pintu berukuran 184 x 180 aenti meter, dengan satu lubang ventilasi berukuran 56 x 25 senti meter.
Bunker-bunker ini memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi objek wisata sejarah, karena selain menyimpan cerita masa lalu, juga memiliki nilai arkeologis dan edukatif.
“Situs ini berpotensi dikembangkan sebagai ruang belajar sejarah bagi generasi muda, sekaligus menjadi daya tarik wisata berbasis budaya dan edukasi d Kabupaten Sukababumi,” tambah Yudi.
Peninggalan-peninggalan ini menjadi bukti sejarah kehadiran Jepang dan strategi pertahanan mereka pada masa itu.
Menjaga dan merawat peninggalan sejarah seperti bunker Jepang sangat penting untuk melestarikan warisan budaya dan pengetahuan tentang masa lalu.
Dengan merawat jejak-jejak sejarah, kita dapat belajar dari masa lalu dan menghargai perjuangan bangsa.
Potensi pengembangan wisata sejarah dari peninggalan ini juga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.






