Cikarang Ponton, Jejak Riuh Kampung Penyeberangan yang Kini Tinggal Kenangan

Foto: Jembatan Cikarang Ponton dan suasana Sungai Cikarang saat ini. [dok;Jajang S]

LINGKARPENA.ID | Di kalangan warga Pajampangan, nama Cikarang Ponton bukan sekadar penanda wilayah. Ia adalah ingatan kolektif tentang sebuah kampung kecil di tepian Sungai Cikarang yang pernah menjadi denyut nadi pergerakan manusia dan kendaraan di selatan Kabupaten Sukabumi.

Secara administratif, Kampung Cikarang Ponton terbelah oleh aliran Sungai Cikarang yang membentang memisahkan dua desa dan dua kecamatan. Sebelah barat sungai masuk ke wilayah Desa Purwasedar, Kecamatan Ciracap, sementara sebelah timur termasuk Desa Pasiripis, Kecamatan Surade. Sungai itulah yang dahulu menjadi pusat kehidupan, sekaligus jalur utama mobilitas warga.

Julukan Cikarang Ponton lahir dari satu alat transportasi sederhana namun vital: ponton. Sebelum jembatan berdiri kokoh di atas Sungai Cikarang, ponton menjadi satu-satunya sarana penyeberangan kendaraan menuju Ujunggenteng atau sebaliknya. Kendaraan roda dua hingga mobil bak terbuka harus rela antre untuk diseberangkan. Sementara itu, warga yang hendak menyeberang cukup menggunakan perahu dayung, menyusuri arus sungai yang kala itu masih jernih dan lebar.

Baca juga:  Peran Radio Saat Ramadhan di Pajampangan Ala Era 80-an

Pada dekade 1970 hingga 1980-an, Cikarang Ponton jauh dari kata sepi. Kampung kecil ini justru menjelma menjadi simpul keramaian. Bahkan, selain Terminal Surade, Cikarang Ponton pernah menjadi terminal akhir mobil angkutan dari Kota Sukabumi. Setiap hari, kendaraan angkutan berhenti, menurunkan penumpang yang akan melanjutkan perjalanan ke Ujunggenteng atau desa-desa sekitar.

Kedatangan mobil angkutan bukan hanya membawa penumpang, tetapi juga menghidupkan ekonomi warga. Warung-warung kecil berdiri di sepanjang tepian sungai. Penjual kopi, gorengan, hingga pedagang keliling memanfaatkan ramainya orang yang lalu lalang. Suara klakson, teriakan kernet, dan deru laju ponton berpadu dengan riuh obrolan warga.

Tak hanya itu, bagi anak muda pada masanya, Cikarang Ponton menjadi tujuan favorit untuk jalan-jalan sore (jjs). Menjelang senja, kawasan ini dipenuhi remaja dari Surade, Ciracap, hingga desa-desa sekitar yang sekadar nongkrong, melihat aktivitas penyeberangan, atau menikmati semilir angin sungai.

Baca juga:  Jejak Eyang Cigangsa di Balik Megahnya Masjid Besar Al-Jalil Surade

Keramaian Cikarang Ponton juga digerakkan oleh aktivitas pendulangan pasir di Sungai Cikarang. Hampir setiap hari, warga terlihat bekerja di aliran sungai, mengumpulkan pasir menggunakan alat sederhana. Truk-truk pengangkut pasir hilir mudik keluar masuk kampung, menambah denyut kehidupan ekonomi.

“Ayeuna mah Cikarang Ponton tiiseun. Baheula mah didieu téh rame pisan. Komo lamun poe libur atawa lebaran, Cikarang jadi pamuruan,” tutur Bah Ahmad, warga Surade yang mengaku pernah menjadi kuli angkut pasir di Sungai Cikarang.

Menurut Bah Ahmad, pada masa itu suasana Lebaran menjadi puncak keramaian. Warga perantauan pulang kampung, pengunjung berdatangan, dan ponton nyaris tak pernah berhenti beroperasi. Sungai menjadi saksi betapa Cikarang Ponton pernah menjadi ruang pertemuan berbagai lapisan masyarakat.

Namun, waktu membawa perubahan. Memasuki penghujung dekade 1980-an, pembangunan jembatan di atas Sungai Cikarang mulai dikerjakan. Harapan akan akses yang lebih mudah dan cepat akhirnya terwujud. Jembatan itu kemudian difungsikan, menggantikan peran ponton yang selama puluhan tahun menjadi andalan.

Baca juga:  Dari Kuda hingga Travel, Sejarah Transportasi Menuju Wilayah Jampangkulon Sukabumi

Sejak saat itu, perlahan namun pasti, denyut Cikarang Ponton meredup. Ponton ditinggalkan, perahu-perahu penyeberangan tak lagi beroperasi, dan bus tak lagi menjadikan Cikarang sebagai terminal akhir. Truk pasir pun kian jarang melintas, seiring berkurangnya aktivitas pendulangan.

Kini, Cikarang Ponton tak lagi seramai dahulu. Sungai tetap mengalir, jembatan berdiri kokoh, tetapi hiruk pikuk yang pernah menghidupkan kampung itu tinggal cerita dari mulut ke mulut. Cikarang Ponton menjelma menjadi ruang sunyi yang menyimpan jejak sejarah kecil tentang bagaimana sebuah kampung pernah berjaya karena sungai, ponton, dan denyut kehidupan warganya.

Bagi generasi tua, Cikarang Ponton adalah kenangan. Bagi generasi muda, ia adalah cerita—tentang masa ketika sebuah kampung kecil di tepian sungai pernah menjadi pusat keramaian di Pajampangan.

Pos terkait