LINGKARPENA.ID | Sehari menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriyah, denyut aktivitas di pasar-pasar tradisional wilayah Pajampangan terasa lebih padat dari biasanya. Di antara hiruk pikuk pembeli yang menyiapkan hidangan lebaran, satu hal mencolok: harga daging sapi yang melonjak tajam.
Pantauan di sejumlah lapak menunjukkan harga daging sapi lokal kini menyentuh Rp170.000 per kilogram. Kenaikan ini sudah mulai terasa sejak tiga hari sebelum lebaran, ketika harga perlahan merangkak dari kisaran Rp160.000 hingga akhirnya tembus di angka saat ini.
Meski harga meroket, minat masyarakat tidak surut. Warga tetap memadati lapak-lapak daging, terutama karena kebutuhan konsumsi khas lebaran yang sulit tergantikan.
Di Kecamatan Surade, salah satu titik yang ramai diserbu pembeli adalah lapak daging di kawasan Cikal Farm, Desa Citanglar. Sejak pagi, antrean warga terlihat mengular, sebagian bahkan rela menunggu lebih lama demi mendapatkan daging segar.
Hermawan, pemilik CV Bintang Jaya (Binjay), mengakui bahwa lonjakan harga terjadi merata di wilayah Sukabumi bagian selatan. Ia menyebut faktor utama kenaikan adalah terbatasnya pasokan dari rumah potong hewan di tengah lonjakan permintaan.
“Menjelang Lebaran, permintaan meningkat tajam, sementara stok dari rumah potong terbatas. Itu yang membuat harga naik, dan sekarang kami jual Rp170 ribu per kilogram untuk kualitas super, ” ujar Hermawan.
Fenomena serupa juga terlihat di pasar semi tradisional lainnya di kawasan Pajampangan. Hampir seluruh pedagang memasang harga yang sama, menandakan kenaikan ini bukan hanya terjadi di satu titik, melainkan merata.
Agus, salah satu pedagang di Pasar Surade, menjelaskan bahwa kenaikan tahun ini cukup terasa jika dibandingkan hari biasa. Ia menyebut harga normal sebelumnya berada di kisaran Rp140.000 hingga Rp150.000 per kilogram.
“Kalau hari biasa masih di angka Rp140 sampai Rp150 ribu. Sekarang daging kualitas bagus bisa sampai Rp170 ribu per kilo. Memang jauh naiknya,” kata Agus.
Di balik kenaikan harga tersebut, aspek kualitas daging tetap menjadi perhatian utama. Kepala UPT Peternakan Wilayah Jampangkulon, Gungun Abdulgoni, memastikan bahwa daging yang beredar telah melalui prosedur pemeriksaan kesehatan yang ketat.
Menurutnya, setiap hewan yang akan dipotong wajib melalui pengecekan kondisi fisik terlebih dahulu. Ciri-ciri sapi sehat di antaranya aktif bergerak, mata cerah, tidak terdapat luka, serta tidak menunjukkan gejala penyakit.
“Sebelum pemotongan, sapi diperiksa kesehatannya. Setelah disembelih pun, daging dan organ dalam kembali dicek untuk memastikan tidak ada cacing atau kelainan,” jelas Gungun kepada lingkarpena. id, Rabu ( 18/3/2026 ).
Kondisi ini menjadi penyeimbang di tengah lonjakan harga, memberikan jaminan bahwa daging yang dibeli masyarakat tetap aman dan layak konsumsi.
Bagi warga Pajampangan, kenaikan harga tampaknya bukan penghalang. Lebaran tetap menjadi momen spesial yang identik dengan hidangan terbaik di meja makan. Dan di tengah segala keterbatasan, semangat berbagi dan berkumpul bersama keluarga tetap menjadi yang utama.






