Pokdarwis Gunungsungging Kembangkan Eduwisata Berbasis Fosil dan Geowisata

Keberadaan di lokasi Goa Megalodon, di Desa Gunungsungging, Surade Sukabumi.[dok.pokdarwis]

LINGKARPENA.ID | Desa Gunungsungging, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, terus mengembangkan potensi wisata berbasis edukasi dan geologi yang dimilikinya. Keberadaan Goa Gunungsungging atau yang lebih dikenal sebagai Goa Megalodon menjadi salah satu daya tarik utama yang menjadikan desa ini layak diperhitungkan sebagai destinasi eduwisata unggulan di Sukabumi Selatan.

 

Goa yang berada dalam kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu tersebut menyimpan jejak sejarah alam yang luar biasa. Di lokasi ini ditemukan fosil gigi hiu purba Megalodon (Carcharocles megalodon), predator laut raksasa yang hidup jutaan tahun lalu.

 

Penemuan fosil tersebut menjadi bukti bahwa kawasan Sukabumi Selatan pernah berada di dasar lautan purba. Berbagai ukuran fosil gigi megalodon ditemukan di kawasan ini, mulai dari ukuran kecil hingga ukuran besar yang diduga berasal dari hiu dewasa.

 

Selain menyimpan nilai ilmiah dan geologi, Goa Gunungsungging juga memiliki nilai sejarah yang melekat di tengah masyarakat. Berdasarkan cerita turun-temurun, lorong-lorong goa yang panjang dan bercabang pernah dimanfaatkan sebagai tempat perlindungan warga pada masa penjajahan Belanda, Jepang, hingga masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.

 

Wisatawan yang menjelajahi kawasan goa dapat menikmati suasana alam yang masih asri. Gemericik aliran sungai bawah tanah serta formasi stalaktit yang menghiasi bagian dalam goa menjadi pengalaman tersendiri bagi para pengunjung.

Baca juga:  Derita Sutarsih, Janda Renta di Surade Sukabumi

 

Karena karakteristik jalurnya yang cukup menantang, wisatawan dianjurkan menggunakan jasa pemandu lokal agar perjalanan lebih aman dan mendapatkan penjelasan mengenai sejarah maupun kondisi geologi kawasan tersebut.

 

Untuk memperkenalkan kekayaan fosil yang ditemukan di wilayah Gunungsungging, masyarakat setempat mengembangkan Museum Megalodon Sri Asih Pakidulan yang berada di Kampung Salenggang. Museum ini menjadi pusat edukasi yang menyimpan beragam koleksi fosil laut purba, mulai dari gigi hiu megalodon, kerang, keong, hingga fosil tulang hewan purba lainnya.

 

Pengelolaan kawasan wisata dan museum dilakukan oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Gunungsungging yang dibentuk pada tahun 2021. Sejak awal berdiri, kelompok ini mengandalkan semangat gotong royong dan kesukarelaan dalam mengembangkan potensi wisata desa.

 

Ketua Pokdarwis Gunungsungging, Ely Yulianti, mengatakan hingga saat ini pengunjung yang datang ke Goa Gunungsungging tidak dikenakan tarif khusus.

 

“Sampai sekarang belum ada tarif masuk ke Goa Gunungsungging. Pengunjung hanya memberikan donasi secara sukarela. Kami masih fokus memperkenalkan potensi wisata yang ada di desa ini,” kata Ely kepada lingkarpena. id, Minggu ( 31/5/2026 ).

 

Baca juga:  Curug Bibijilan Nyalindung Sukabumi, Menawarkan Pesona Keindahan Air Terjun 7 Tingkat

Ia menjelaskan, seluruh anggota Pokdarwis bekerja secara sukarela dan belum menerima honor tetap dari pengelolaan wisata.

 

“Kami belum mendapat gaji atau honor. Kalau ada pengunjung dan memberikan donasi, itulah yang menjadi pemasukan bagi teman-teman yang mendampingi wisatawan,” ujarnya.

 

Menurut Ely, para pemandu wisata tidak selalu berada di lokasi setiap hari. Namun, ketika ada wisatawan yang menghubungi melalui kontak yang tersedia di museum, anggota Pokdarwis akan siap mendampingi.

 

“Tour guide tidak standby setiap hari. Tapi kalau ada pengunjung yang menghubungi, teman-teman selalu siap untuk menemani dan memberikan penjelasan selama kegiatan wisata berlangsung,” jelasnya.

 

Ely menuturkan bahwa Desa Gunungsungging tidak hanya menawarkan wisata museum dan Goa Megalodon. Desa tersebut juga memiliki sejumlah lokasi geowisata yang terhubung dalam jalur geotrack.

 

“Kami memiliki geotrack yang cukup lengkap. Selain Goa Gunungsungging, ada Bende Kehuripan, Goa Karanggintung, singkapan batuan di Cigintung, hingga situs gerabah. Semua itu menjadi bagian dari potensi wisata yang kami miliki,” ungkapnya.

 

Semangat kebersamaan menjadi modal utama para anggota Pokdarwis dalam mengembangkan destinasi wisata desa. Donasi yang diperoleh dari wisatawan sebagian besar digunakan untuk menunjang kebutuhan fasilitas wisata.

Baca juga:  Wabup Buka Pelatihan "Story Telling" Sejarah Palabuhanratu

 

“Teman-teman Pokdarwis selalu berpikir bagaimana wisata ini bisa berkembang. Jadi ketika ada donasi, kami kumpulkan untuk membeli perlengkapan dan melengkapi kebutuhan di lokasi wisata,” tuturnya.

 

Di sisi lain, Ely mengapresiasi dukungan Pemerintah Kabupaten Sukabumi melalui berbagai program peningkatan kapasitas sumber daya manusia, termasuk pelatihan dan bimbingan teknis bagi para pemandu wisata.

 

“Kami bersyukur karena pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata maupun Dinas Kebudayaan terus memberikan pembinaan dan pelatihan. Ini sangat membantu meningkatkan kemampuan teman-teman yang bertugas sebagai tour guide,” katanya.

 

Meski demikian, pihaknya masih memiliki satu harapan besar, yakni membangun gedung Museum Megalodon yang permanen dan representatif. Saat ini museum masih menempati bangunan milik desa dengan status pinjam pakai.

 

“Harapan kami ke depan adalah memiliki museum sendiri. Lahan seluas sekitar 2.000 meter persegi sudah disiapkan oleh pihak yang akan menghibahkannya. Mudah-mudahan cita-cita membangun museum permanen bisa segera terwujud,” pungkas Ely.

 

Dengan kekayaan fosil laut purba, situs geologi yang beragam, nilai sejarah yang kuat, serta dukungan masyarakat yang terus menjaga dan mengembangkan potensi daerahnya, Desa Gunungsungging semakin menunjukkan dirinya sebagai destinasi eduwisata yang layak menjadi kebanggaan Kabupaten Sukabumi.

Pos terkait