Siswa SMPN 1 Ciracap Sulap Limbah Kulit Buah Jadi Pupuk dan Irigasi Tanpa Listrik, PLT Camat: Layak Dicontoh Sekolah Lain

Proses pembuatan pupuk organik dan panen yang dihasilkan oleh siswa SMPN 1 Ciracap Kabupaten Sukabumi.[dok.istimewa]

LINGKARPENA.ID | Berangkat dari kreativitas dan ide cemerlang salah satu guru di SMP Negeri 1 Ciracap, Kabupaten Sukabumi, berhasil mengubah limbah menjadi sesuatu yang bernilai. Melalui program bertajuk NYAKCLAKAN, SMPN 1 Ciracap ini berhasil mengubah sampah menjadi barang yang bernilai tinggi.

 

Dede Erma, mengajak dan memberdayakan ratusan siswa menyulap limbah kulit buah dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi pupuk organik cair (eco-enzyme). Dalam prosesnya mereka memanfaatkan botol plastik bekas sebagai sistem irigasi tetes tanpa menggunakan listrik.

 

“NYAKCLAKAN” ini namanya diambil dari bahasa Sunda yang berarti “menetes”. Ide kreatif ini menjadi solusi atas tiga persoalan sekaligus, yakni penumpukan limbah organik, sampah botol plastik, serta pemanfaatan lahan kosong di lingkungan sekolah agar lebih produktif.

 

Sebanyak 495 siswa terlibat langsung dalam program berbasis zero waste tersebut. Mereka merakit lebih dari 350 unit irigasi tetes (biodrip) menggunakan botol plastik bekas dan kain flanel yang bekerja dengan prinsip kapilaritas. Sistem sederhana itu kini menyiram berbagai tanaman herbal, bunga, hingga sayuran yang ditanam di tiga zona taman sekolah tanpa membutuhkan pompa maupun energi listrik.

Baca juga:  GPPSDA-LH Layangkan Pemberitahuan Aksi Damai di Depan Gedung Sate Bandung

 

Tidak hanya itu, kulit buah sisa program MBG difermentasi menjadi eco-enzyme yang dimanfaatkan sebagai pupuk cair organik. Hasilnya, tanaman tumbuh subur tanpa ketergantungan pada pupuk maupun pestisida kimia.

 

Lahan sekolah pun dibagi menjadi tiga zona pembelajaran, yaitu Zona Edukatif yang dikelola siswa kelas VII dengan tanaman herbal, Zona Estetik yang ditanami bunga oleh siswa kelas VIII, serta Zona Produktif berupa aneka sayuran yang dikelola siswa kelas IX.

 

Inovasi tersebut mulai membuahkan hasil. Pada panen perdana yang digelar 22 Mei 2026, siswa berhasil memanen sekitar 8,4 kilogram sayuran organik. Produk tersebut kemudian dipasarkan kepada warga sekolah dan orang tua siswa dengan label ENZYFRESH, sebagai identitas produk organik yang berasal dari pemanfaatan eco-enzyme.

Baca juga:  Bangun Gang Kampung, Desa Sagaranten Perkuat Akses Warga dari Dana Desa

 

Tak berhenti di lingkungan sekolah, program ini juga mulai diterapkan di masyarakat. Sejumlah orang tua siswa, guru, hingga warga dari desa lain telah mereplikasi sistem biodrip di pekarangan rumah masing-masing. Untuk memudahkan pengembangan, SMPN 1 Ciracap juga menyusun Buku Pedoman Teknis NYAKCLAKAN yang dapat diakses secara daring sehingga dapat menjadi referensi bagi sekolah lain.

 

Program ini tidak hanya mengajarkan siswa bercocok tanam, tetapi juga mengintegrasikan pembelajaran lintas disiplin, mulai dari kimia melalui proses fermentasi, fisika melalui prinsip kapilaritas, hingga kewirausahaan dan pendidikan karakter dalam menjaga lingkungan.

 

PLT Camat Ciracap, U. Suryana, memberikan apresiasi atas inovasi yang lahir dari para guru dan siswa SMPN 1 Ciracap. Menurutnya, program tersebut membuktikan bahwa limbah makanan dapat diolah menjadi sesuatu yang memiliki manfaat ekonomi sekaligus lingkungan.

Baca juga:  DPP JTM Gelar Rapat Pleno, Tegaskan Komitmen Membangun Jampang dan Perangi Narkoba

 

“Saya selaku PLT Camat Ciracap tentunya sangat mengapresiasi atas inovasi yang dilakukan oleh guru dan siswa-siswi SMPN 1 Ciracap. Inovasi ini membuka mata kepada kita semua bahwa limbah dari makanan, khususnya dari Program Makan Bergizi Gratis, ternyata bisa memberikan nilai tambah bagi kesejahteraan hidup masyarakat,” ujarnya.

 

Ia berharap inovasi tersebut terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di Kecamatan Ciracap maupun wilayah Kabupaten Sukabumi.

 

“Mudah-mudahan apa yang dilakukan oleh SMPN 1 Ciracap semakin menebar kebaikan kepada masyarakat di lingkungan Kecamatan Ciracap dan dapat diedukasi maupun dicontoh oleh SMP atau sekolah-sekolah lain, sehingga manfaat dan kesejahteraan bisa semakin meluas di tengah masyarakat,” pungkas U. Suryana.

Pos terkait