LINGKARPENA.ID | Terik matahari tak menyurutkan langkah mereka. Di hadapan deburan ombak Pantai Selatan yang sesekali datang dengan ganas, sejumlah perempuan lanjut usia justru memilih mendekat ke laut, bukan untuk berwisata, melainkan demi sesuap nasi.
Dengan sarung tangan yang mulai lusuh dan peralatan seadanya, mereka menyusuri bebatuan di Pantai Taman Pandan, Desa Cikangkung, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi. Mata mereka menyapu permukaan karang, mencari rumput laut yang bisa dipetik dan dibawa pulang.
Bagi sebagian orang, pantai mungkin identik dengan keindahan. Namun bagi perempuan-perempuan ini, hamparan laut menyimpan perjuangan panjang untuk mempertahankan kehidupan.
Setiap kali ombak mereda, mereka perlahan melangkah lebih jauh ke tengah. Tangan-tangan yang tak lagi muda sibuk mencabut rumput laut yang menempel di antara bebatuan.
Tetapi laut Selatan bukan tempat yang bisa diperlakukan sembarangan.
Ketika suara ombak mulai membesar dan air bergerak mendekat, mereka harus segera mundur. Beberapa langkah yang sebelumnya digunakan untuk mencari rumput laut berubah menjadi langkah tergesa menyelamatkan diri dari sapuan ombak.
Begitu ombak kembali tenang, mereka pun kembali mendekat.
Begitulah siklus perjuangan itu berlangsung. Maju ketika laut bersahabat, mundur ketika ombak mulai mengancam.
Mak Eti (54), warga Kampung Cikalapa, Desa Cikangkung, menjadi salah satu perempuan yang menjalani aktivitas tersebut. Hampir setiap kali ada kesempatan, ia turun ke pantai mencari rumput laut untuk dijual kepada pengepul.
“Kalau ada rumput laut ya dipetik. Bisa dijual ke pengepul, kalau dapat lebih bisa juga dibawa pulang untuk dimakan,” tutur Mak Eti kepada lingkarpena.id Jumat (11/9/2026).
Rumput laut yang dikumpulkan kemudian dijual dengan harga sekitar Rp2.000 per kilogram. Nilai yang terbilang kecil jika dibandingkan dengan tenaga, waktu, bahkan risiko yang harus dihadapi.
Namun bagi Mak Eti, tidak ada pilihan untuk terlalu banyak menghitung rasa lelah.
Jika kondisi laut sedang baik dan hasil melimpah, ia mengaku mampu mengumpulkan hingga sekitar 50 kilogram rumput laut dalam sehari.
Dengan harga Rp2.000 per kilogram, hasil yang diperoleh sekitar Rp100 ribu. Itu pun belum tentu didapat setiap hari karena semuanya bergantung pada kondisi laut dan banyak sedikitnya rumput laut yang ditemukan.
“Kalau lagi bagus bisa dapat sampai 50 kilo. Tapi tidak setiap hari sebanyak itu. Yang penting bisa nambah pemasukan,” katanya.
Di usianya yang tak lagi muda, Mak Eti masih harus berhadapan dengan ombak demi mendapatkan penghasilan. Tidak ada kepastian berapa kilogram yang akan dibawa pulang. Tidak ada pula jaminan laut akan selalu bersahabat.
Yang ada hanya harapan sederhana: hari ini mendapatkan sedikit lebih banyak daripada kemarin.
Di antara suara ombak yang bergulung dan panas matahari yang menyengat, perjuangan para perempuan itu seolah menjadi potret lain kehidupan masyarakat pesisir Sukabumi Selatan.
Mereka tidak mengenakan peralatan keselamatan lengkap. Tidak pula memiliki perlengkapan canggih untuk memanen hasil laut. Hanya sarung tangan lusuh, alat seadanya, dan keberanian yang terus dipelihara.
Rumput laut bagi mereka bukan sekadar tumbuhan laut.
Di balik setiap kilogram yang terkumpul, ada keringat, ada rasa takut, dan ada harapan untuk membawa pulang sedikit uang bagi kebutuhan keluarga.
Laut mungkin memberikan rezeki, tetapi untuk mendapatkannya, mereka harus berani mempertaruhkan diri.
Sebab bagi Mak Eti dan perempuan-perempuan pencari rumput laut lainnya, bertahan hidup terkadang memang berarti harus berdamai dengan risiko—bahkan ketika risiko itu datang bersama deburan ombak Pantai Selatan.






