Bertahan dari Kepedulian, Yayasan Pelita Jiwa Permata Rawat Puluhan ODGJ Tanpa Memungut Biaya

LINGKARPENA.ID | Di balik kesederhanaan bangunan yang berdiri di Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Yayasan Pelita Jiwa Permata terus menjalankan misi kemanusiaan dengan merawat puluhan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia.

 

Hingga Selasa (28/7/2026), sebanyak 32 penghuni menjalani pembinaan dan perawatan di yayasan tersebut. Dari jumlah itu, 15 orang telah menunjukkan perkembangan yang baik dan memasuki tahap pemulihan, sementara 17 penghuni lainnya masih menjalani proses rehabilitasi secara bertahap.

 

Ketua Yayasan Pelita Jiwa Permata, Irgiana, mengatakan para penghuni tidak hanya berasal dari Kabupaten Sukabumi, tetapi juga datang dari berbagai daerah seperti Bogor, Bandung, Cirebon, Depok, Kalimantan, Palabuhanratu, Bagbagan, hingga sejumlah wilayah lainnya. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan masih banyak keluarga yang membutuhkan tempat pendampingan bagi anggota keluarganya yang mengalami gangguan kejiwaan.

Baca juga:  Kapolsek Lengkong Salurkan Bansos kepada Pengungsi Bencana Banjir di Desa Bantarsari

 

“Kami menerima mereka tanpa membedakan asal daerah. Yang menjadi fokus kami adalah bagaimana mereka mendapatkan pendampingan sehingga memiliki kesempatan untuk kembali pulih dan menjalani kehidupan yang lebih baik,” ujar Irgiana.

 

Ia menjelaskan, operasional yayasan sepenuhnya mengedepankan nilai sosial dan kemanusiaan. Untuk memenuhi kebutuhan penghuni, mulai dari konsumsi, perawatan hingga pengobatan, pihak yayasan mengandalkan bantuan sukarela dari keluarga yang memiliki kemampuan ekonomi.

 

“Bagi keluarga yang mampu biasanya membantu biaya makan atau obat-obatan, tetapi tidak ada tarif ataupun pungutan yang kami tetapkan. Semuanya berdasarkan keikhlasan. Bahkan bagi keluarga yang tidak mampu, kami tetap memberikan pelayanan tanpa dipungut biaya,” katanya.

Baca juga:  Buktikan Kepedulian, Asjap: Bedah Rumah Wujudkan Sukabumi Berkah

 

Menurut Irgiana, selama hampir 10 bulan beroperasi, yayasan belum memperoleh bantuan anggaran operasional dari Pemerintah Kabupaten Sukabumi. Meski demikian, pelayanan pengobatan tetap dapat berjalan berkat dukungan dari fasilitas kesehatan.

 

“Alhamdulillah, kebutuhan obat-obatan masih disuplai oleh Puskesmas Simpenan dan Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Bogor. Bantuan tersebut sangat membantu proses pengobatan para penghuni,” ungkapnya.

 

Ia mengakui, menjalankan yayasan dengan jumlah penghuni yang terus bertambah bukan perkara mudah. Namun, keterbatasan tersebut tidak menyurutkan semangat para pengurus untuk terus memberikan pelayanan terbaik bagi para ODGJ yang membutuhkan pendampingan.

Baca juga:  GM FKPPI Kota Sukabumi Berbagi dengan Ratusan Yatim dan Duafa

 

“Kami bertahan karena kepedulian dan keikhlasan. Harapan kami, semakin banyak pihak yang ikut peduli sehingga pelayanan di yayasan ini bisa terus berjalan dan memberikan manfaat bagi mereka yang membutuhkan,” tuturnya.

 

Irgiana berharap perhatian dari pemerintah, lembaga sosial, maupun masyarakat dapat semakin meningkat agar keberadaan yayasan mampu terus menjadi tempat pemulihan bagi ODGJ yang selama ini kesulitan memperoleh pendampingan.

 

“Mereka bukan untuk dijauhi atau dilupakan. Mereka berhak mendapatkan kasih sayang, perawatan yang layak, dan kesempatan yang sama untuk kembali sehat,” pungkasnya.

Pos terkait