LINGKARPENA.ID | Media sosial tengah diramaikan oleh sosok bocah lelaki berusia 11 tahun bernama Muhammad Nandika Saepulloh. Anak yang akrab disapa Dika ini mendadak menjadi sorotan publik setelah video dirinya menangkap ular liar di area persawahan tersebar luas dan mengundang beragam reaksi warganet.
Dika, yang dijuluki warga sekitar sebagai “Si Bocah Oray”, dikenal memiliki keberanian yang tak lazim untuk anak seusianya. Dalam sejumlah video yang beredar, ia tampak menyusuri pematang sawah dengan santai, menangkap ular yang bersembunyi di lumpur dan semak, bahkan menyelipkannya ke dalam pakaiannya tanpa alat pengaman. Aksi tersebut membuat sebagian orang merasa ngeri, namun tak sedikit pula yang mengaku kagum.
Aktivitas ekstrem itu bukan sekadar untuk sensasi. Bagi Dika, menangkap ular menjadi cara sederhana untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Uang yang diperolehnya digunakan sebagai uang jajan sekaligus membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Warga sekitar kerap memberi imbalan atas jasanya menangkap ular yang dianggap meresahkan, dengan nilai upah bervariasi tergantung jenis dan jumlah tangkapan.
Kisah keberanian Dika pertama kali dikenal publik melalui unggahan Moel, tetangganya, yang kerap merekam aktivitas bocah tersebut. Menurut Moel, ketertarikan Dika pada ular muncul secara tidak sengaja. Awalnya, Dika sering bermain ke rumahnya dan suatu hari melihat Moel memandikan seekor ular. Sejak saat itu, rasa penasaran Dika tumbuh hingga akhirnya berani mencoba menangkap ular sendiri di sawah.
Melihat keberanian itu, Moel kemudian memberi tantangan sekaligus upah kecil setiap kali Dika berhasil membawa pulang ular. Dari aktivitas tersebut, Dika bisa mengantongi puluhan ribu rupiah dalam sehari. Namun yang membuat banyak orang tersentuh, uang tersebut tidak dihabiskan untuk dirinya sendiri. Sebagian besar diserahkan kepada ibu dan adik-adiknya.
Kondisi ekonomi keluarga Dika memang tergolong sederhana. Ayahnya bekerja sebagai buruh bangunan, sementara sang ibu berjualan perabotan rumah tangga. Keterbatasan inilah yang membuat Dika tumbuh lebih cepat dari usianya, memikul tanggung jawab yang seharusnya belum perlu ia hadapi.
Di balik viralnya aksi berani itu, terselip kisah lain yang tak kalah memprihatinkan. Dika diketahui sudah tidak bersekolah. Ia berhenti di kelas 4 sekolah dasar setelah sempat berpindah sekolah lebih dari satu kali. Hingga kini, alasan pasti terhentinya pendidikan Dika belum diungkap secara jelas.
Moel mengaku telah berupaya berkomunikasi dengan orang tua Dika agar anak tersebut bisa kembali mengenyam pendidikan formal. Harapan itu juga digaungkan oleh banyak warganet yang menilai masa depan Dika seharusnya tidak dipertaruhkan oleh aktivitas berisiko tinggi.
Viralnya kisah Dika memunculkan dua sisi perhatian publik. Di satu sisi, keberaniannya menuai kekaguman. Namun di sisi lain, banyak pihak menyuarakan keprihatinan terhadap keselamatan dan perlindungan anak. Ular tetaplah hewan liar yang berpotensi mematikan, terlebih bagi anak-anak yang minim perlengkapan dan pendampingan.
Warga sekitar mengenal Dika sebagai anak yang patuh dan bertanggung jawab. Ia disebut tidak sembarangan menangkap ular berukuran besar atau yang dikenal sangat berbisa, serta masih mendengarkan arahan orang dewasa di sekitarnya.
Kisah Dika menjadi gambaran nyata tentang realitas sosial di balik konten viral. Di balik keberanian seorang bocah, tersimpan cerita perjuangan hidup, keterbatasan ekonomi, dan harapan akan masa depan yang lebih baik. Publik kini berharap perhatian terhadap Dika tidak berhenti pada kekaguman semata, tetapi berlanjut pada langkah nyata agar ia bisa tumbuh dengan aman, kembali bersekolah, dan meraih masa depan yang lebih cerah.






