LINGKARPENA.ID – Anak penderita hidrosefalus di Kampung Parugpug RT 06/02 Desa Pabuaran Kecamatan Pabuaran Kabupaten Sukabumi berasal dari keluarga tidak mampu.
Muhammad Farhan (3 tahun) warga Kampung Parugpug itu menderita hidrosefalus semenjak usia 5 bulan. Hidrosefalus merupakan menumpuknya cairan di dalam rongga jauh di dalam otak. Kelebihan cairan menekan otak dan dapat menyebabkan kerusakan otak.
Hal ini di alami oleh balita Muhammad Farhan (3 tahun) warga Kampung Parugpug RT 06/02 Desa Pabuaran Kecamatan Pabuaran Kabupaten Sukabumi ini.
Rosita (36 tahun) ibu dari anak tersebut menjelaskan, anaknya menderita hidrosefalus saat usia 5 bulan. Waktu itu pernah diperiksakan ke UPTD Puskesmas Pabuaran. Namun, menurut penjelasan medis tindakan operasi bisa dilaksanakan saat anak berusia 1 tahun. Dikarenakan tidak mampu membiayai operasi, sehingga menunggu proses BPJS berbayar selesai.
“Waktu usia anak 5 bulan tidak langsung saya lakukan operasi, karena kami tidak mampu membiayai operasi jika hanya mengandalkan BPJS berbayar. Saat itu BPJS sedang dalam proses pembuatan,” jelas Rosita, Rabu (05/01/2022).
Dikatakan Rosita, keluarganya sangat kesulitan dan membutuhkan bantuan untuk pengobatan serta operasional. Ia hanya mengandalkan penghasilan yang serabutan sebagai pencuci motor untuk membiayai kehidupan sehari-hari saja kadang tidak cukup.
Rosita sendiri tinggal bersama Nasrulloh (60 tahun) yang merupakan ayah kandungnya yang sudah tua. Sementara kedua anaknya menjadi tanggungan dirinya yang hanya mengandalkan buruh mencuci motor.
Kondisi Muhammad Farhan anaknya kali ini semakin membutuhkan penanganan medis lebih intensif. Dimana terkadang jika malam hari sering mengalami kejang-kejang. Dan lebih ironinya lagi BPJS berbayar miliki Rosita menunggak pembayaran hingga tidak dapat di pergunakan kembali.
“BPJS berbayar miliki saya menunggak pembayaran dan tidak dapat di pergunakan lagi,” keluhnya.
Rosita berharap ada yang dapat membantu agar bisa terlaksana perawatan medis untuk anaknya itu. Selain itu ternyata rosita belum pernah menerima bantuan terdampak covid-19, baik sumbernya dari dana desa maupun program-program yang lainnya.
Reporter: Aris Ram
Redaktur: Akoy Khoerudin






