Dari Sudut Sekolah Menuju Jendela Dunia, KKM 05 STKIP Bina Mutiara Hidupkan Budaya Literasi di SDN 3 Cimahpar

Mahasiswa KKM 05 STKIP Bina Mutiara saat berpoto bersama di area SDN 3 Cimahpar bersama kepala sekolah.[Foto:ist]

LINGKARPENA.ID | Upaya menumbuhkan budaya literasi di kalangan anak-anak tidak selalu harus dimulai dari program besar. Sebuah ruang sederhana yang dipenuhi buku, dihiasi secara menarik, dan didekatkan dengan keseharian siswa pun dapat menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan kecintaan terhadap membaca.

 

Semangat tersebut diwujudkan Kelompok KKM 05 STKIP Bina Mutiara melalui program pembuatan Pojok Baca di SD Negeri 3 Cimahpar pada Agustus 2026. Program ini menjadi salah satu bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat, khususnya dalam mendukung dunia pendidikan dan membangun kebiasaan literasi sejak usia dini Kamis (20/08/2026)

 

Pojok Baca tersebut dihadirkan sebagai ruang alternatif bagi siswa untuk membaca, belajar, sekaligus mengeksplorasi berbagai pengetahuan melalui buku. Kehadirannya diharapkan mampu menciptakan suasana yang lebih menyenangkan bagi anak-anak untuk berinteraksi dengan bahan bacaan di lingkungan sekolah.

 

Bagi KKM 05, budaya membaca merupakan salah satu fondasi penting dalam proses tumbuh kembang peserta didik. Membaca tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memahami tulisan, tetapi juga menjadi sarana untuk memperluas wawasan, membangun daya imajinasi, meningkatkan kemampuan berpikir, serta menumbuhkan rasa ingin tahu.

 

Karena itu, keberadaan Pojok Baca tidak sekadar dipandang sebagai penambahan fasilitas di lingkungan sekolah. Lebih jauh, program tersebut diharapkan mampu menghadirkan sebuah kebiasaan baru yang dapat terus tumbuh dan berkembang meskipun masa pengabdian mahasiswa KKM telah berakhir.

 

Dalam proses pembuatannya, mahasiswa KKM 05 melakukan sejumlah tahapan, mulai dari menentukan lokasi yang dianggap strategis, menyiapkan dan menata ruang, membuat dekorasi yang menarik, hingga menyediakan serta menyusun berbagai koleksi bacaan yang disesuaikan dengan usia siswa.

 

Konsep yang digunakan dibuat dengan pendekatan ramah anak. Warna, tata letak, dekorasi, hingga posisi buku diperhatikan agar keberadaan Pojok Baca dapat menarik perhatian siswa.

 

Harapannya, ketika melihat Pojok Baca, siswa tidak merasa sedang memasuki ruang belajar yang kaku. Sebaliknya, mereka dapat merasakan bahwa membaca merupakan aktivitas yang menyenangkan, santai, dan dapat dilakukan kapan saja.

Baca juga:  Dihadapkan Gugatan Hukum 7,4 Miliar PT Pangrango Wisnu Kencana Akibat Tolak Bayar Pesangon Ini Kata Kuasa Hukum Jabar Istimewa

 

Dengan konsep tersebut, siswa diberikan kesempatan untuk memilih sendiri buku yang ingin dibaca sesuai dengan ketertarikan dan rasa ingin tahunya. Buku cerita, pengetahuan, maupun bacaan edukatif lainnya dapat menjadi media bagi siswa untuk mengenal berbagai hal di luar materi pembelajaran yang diterima di dalam kelas.

 

Ketua KKM 05 STKIP Bina Mutiara, Moch Andra Prasetia, mengatakan bahwa Pojok Baca tersebut diharapkan dapat menjadi ruang yang dekat dengan kehidupan siswa.

 

“Kami ingin Pojok Baca ini menjadi ruang yang dekat dengan anak-anak. Harapannya, siswa tidak melihat membaca sebagai sesuatu yang hanya dilakukan ketika ada tugas, tetapi sebagai kegiatan yang menyenangkan dan dapat dilakukan kapan saja ketika mereka memiliki waktu luang,” ujar Andra.

 

Menurutnya, membangun budaya literasi tidak selalu membutuhkan fasilitas yang besar. Kreativitas dalam memanfaatkan ruang yang tersedia justru dapat menjadi langkah awal untuk menghadirkan lingkungan yang mendorong anak-anak agar lebih dekat dengan buku.

 

Andra menegaskan, keterbatasan ruang bukan alasan untuk tidak menghadirkan lingkungan yang mendukung kegiatan literasi. Salah satu sudut sekolah dapat dimanfaatkan dan dikembangkan menjadi ruang baca yang menarik selama dikelola dengan kreativitas dan memperhatikan kebutuhan siswa.

 

“Pojok Baca ini memang sederhana, tetapi kami berharap manfaatnya bisa berlangsung lebih lama. Setelah KKM selesai, kami berharap pihak sekolah dan siswa dapat terus merawat serta memanfaatkannya sehingga program ini bisa berkelanjutan,” tambahnya.

 

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa orientasi program KKM 05 tidak berhenti pada proses pembuatan fasilitas. Mahasiswa juga berupaya meninggalkan sesuatu yang dapat memberikan manfaat setelah seluruh rangkaian kegiatan KKM selesai.

 

Sebab, sebuah program pengabdian akan memiliki nilai lebih ketika keberadaannya tidak berhenti setelah mahasiswa meninggalkan lokasi pengabdian. Keberlanjutan menjadi bagian penting agar apa yang telah dibangun dapat terus dimanfaatkan oleh masyarakat.

Baca juga:  Kepemimpinan DPD Gema Ormas MKGR Jabar Patut di Pertanyakan Dengan Keluarnya SK Siluman Jelang Kontestasi KNPI Kabupaten Sukabumi  

 

Dalam konteks Pojok Baca, keberlanjutan tersebut dapat diwujudkan melalui keterlibatan pihak sekolah, guru, dan siswa dalam menjaga kebersihan, merawat fasilitas, menata buku, serta menjadikan ruang tersebut sebagai bagian dari aktivitas literasi sehari-hari.

 

Kehadiran Pojok Baca juga diharapkan dapat memberikan alternatif bagi guru dalam menciptakan suasana pembelajaran yang lebih variatif. Siswa dapat memanfaatkan ruang tersebut untuk membaca buku pengetahuan, cerita, maupun berbagai bacaan edukatif lainnya.

 

Sebab, budaya literasi tidak lahir hanya karena seseorang memiliki akses terhadap buku. Budaya literasi tumbuh ketika membaca dilakukan secara berulang, menjadi kebiasaan, kemudian berkembang menjadi kebutuhan untuk memperoleh pengetahuan.

 

Di titik inilah Pojok Baca memiliki peran penting. Ruang kecil tersebut diharapkan menjadi stimulus bagi siswa untuk mulai mengenal buku, membuka halaman demi halaman, menemukan cerita baru, mendapatkan pengetahuan, dan secara perlahan membangun ketertarikan terhadap aktivitas membaca.

 

Anak yang terbiasa membaca sejak dini memiliki kesempatan lebih besar untuk mengembangkan rasa ingin tahu terhadap lingkungan di sekitarnya. Dari membaca, anak dapat mengenal berbagai tempat, tokoh, ilmu pengetahuan, kebudayaan, bahkan berbagai kemungkinan tentang masa depan.

 

Buku kemudian tidak hanya menjadi kumpulan halaman yang berisi tulisan. Buku dapat menjadi jendela yang memperkenalkan dunia kepada anak.

 

Bagi KKM 05 STKIP Bina Mutiara, program Pojok Baca merupakan salah satu bentuk konkret kontribusi mahasiswa dalam bidang pendidikan.

 

Mahasiswa tidak hanya hadir di tengah masyarakat untuk menjalankan kewajiban akademik, tetapi juga berupaya membaca kebutuhan yang ada di lingkungan tempat mereka melaksanakan pengabdian.

 

Pendidikan menjadi salah satu ruang penting dalam pengabdian tersebut. Melalui Pojok Baca, mahasiswa mencoba menghadirkan kontribusi sederhana yang menyentuh aspek pembentukan karakter, peningkatan minat baca, dan pengembangan lingkungan belajar yang lebih menyenangkan.

 

Program tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pengabdian mahasiswa dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Baca juga:  Pojok Belajar, Program Unggulan KKM STKIP Bina Mutiara di Desa Sirnasari

 

Tidak harus selalu membangun sesuatu yang besar. Terkadang, sebuah rak buku, beberapa koleksi bacaan, dekorasi sederhana, dan ruang kecil yang nyaman dapat menjadi awal dari perubahan yang lebih besar.

 

Karena pada akhirnya, membangun pendidikan bukan hanya tentang membangun gedung atau menyediakan fasilitas. Pendidikan juga tentang membangun kebiasaan, membentuk karakter, menumbuhkan rasa ingin tahu, dan membuka kesempatan bagi anak-anak untuk bermimpi lebih jauh.

 

Pojok Baca di SD Negeri 3 Cimahpar kini menjadi bagian dari lingkungan sekolah yang diharapkan dapat terus hidup dan dimanfaatkan.

 

Mahasiswa KKM 05 berharap ruang tersebut tidak hanya ramai ketika program dilaksanakan, tetapi tetap menjadi tempat yang didatangi siswa pada hari-hari berikutnya.

 

Ada anak yang mungkin datang karena tertarik dengan dekorasinya. Ada yang datang karena ingin membaca cerita. Ada pula yang mungkin awalnya hanya melihat-lihat, kemudian menemukan buku yang membuatnya tertarik untuk membaca lebih banyak.

 

Sebab, setiap buku yang dibaca membuka kemungkinan lahirnya satu pengetahuan baru. Setiap pengetahuan dapat melahirkan pertanyaan. Dari pertanyaan tumbuh rasa ingin tahu. Dan dari rasa ingin tahu, seorang anak dapat menemukan mimpi tentang masa depannya.

 

Pojok Baca yang dibangun KKM 05 STKIP Bina Mutiara pada akhirnya bukan hanya tentang sebuah sudut ruang di sekolah. Ia adalah simbol dari harapan agar anak-anak SD Negeri 3 Cimahpar semakin dekat dengan buku dan pengetahuan.

 

Mahasiswa berharap pihak sekolah dapat terus menjaga dan mengembangkan keberadaan Pojok Baca tersebut, sementara para siswa dapat menjadikannya sebagai ruang untuk belajar dan menemukan berbagai hal baru.

 

Satu sudut kecil, ribuan pengetahuan. Dari sebuah buku, lahir rasa ingin tahu. Dari rasa ingin tahu, tumbuh keberanian untuk bermimpi. Dan dari mimpi-mimpi anak-anak itulah, masa depan sedang ditulis sejak hari ini.

Pos terkait